<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632</id><updated>2012-01-10T13:14:52.079+07:00</updated><category term='war with conscience'/><category term='tentang bacaan'/><category term='songs'/><category term='songfic'/><category term='surga bukuku'/><category term='Cloverwitch'/><category term='fantasy fiesta 2011'/><category term='a world beyond the dead end'/><category term='quotations'/><category term='fanfic'/><category term='fantasi'/><category term='renungan'/><category term='cerita pendek'/><category term='fragmen'/><category term='grand le gran'/><category term='komedi'/><category term='curcol'/><category term='fangirling'/><category term='favorite pairings'/><category term='poems'/><title type='text'>CLOVERWITCH</title><subtitle type='html'>I'm a witch. Words are my magic. :)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3708046268132920356</id><published>2012-01-10T13:14:00.001+07:00</published><updated>2012-01-10T13:14:52.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fangirling'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Calla Ed Tenets</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lagi-lagi, ini cerpen lomba yang sayangnya gagal kumenangkan. Keseluruhannya memang ketahuan banget ditulis oleh seorang fangirl. Semoga cerita yang penuh fanservice ini bisa dinikmati.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ratusan tahun yang lalu di atas langit malam, kereta Dewa tengah melintas menuju perbatasan di daerah tenggara. Malam itu salju turun dengan lebatnya, dan petir serta guntur saling sahut-sahutan. Kemudian angin kencang meniupkan kereta Dewa hingga terhempas ke daratan Seren yang kering kerontang. Dewa jatuh tidak sadarkan diri. Keretanya pecah berkeping-keping.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Seorang petani menemukannya terbaring di antara petak-petak sawah yang sudah menggundul. Adapun Dewa berperawakan gendut dan sangat pendek. Jenggotnya berwarna perak dan panjang. Pikir si petani, Dewa adalah orang asing yang tersesat. Lalu dibawanya Dewa ke dalam rumahnya. Tapi petani itu sangat miskin, sama miskinnya dengan penduduk lain di perkampungan yang kecil itu. Untuk merawat Dewa, para penduduk saling bahu-membahu untuk menyediakan segala keperluannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tiga hari kemudian, Dewa pun membuka mata. Setelah seminggu, tubuhnya sudah sehat seperti sedia kala. Diberitahukannya pada si petani bahwa dialah Dewa, dan ditawarkannya kesempatan permohonan apa saja sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tetapi dengan besar hati sang petani mengakui bahwa seluruh penduduk ikut andil dalam menolong sang Dewa. Dewa terkesan dengan kejujuran petani yang tidak menginginkan permohonan untuk dirinya sendiri. Maka dijanjikannya hujan bintang kepada para penduduk setiap tahunnya. Barangsiapa memohon pada saat hujan tersebut, permohonannya akan dikabulkan oleh Dewa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Menjelang tengah malam pada suatu hari yang cerah, Dewa naik kembali ke atas keretanya untuk melanjutkan perjalanan diiringi lambaian para penduduk. Ketika kereta Dewa telah membubung tinggi di angkasa, langit dipenuhi bintang-bintang perak yang berkerlap-kerlip seperti mutiara yang saling berjatuhan. Seketika penduduk bersorak-sorai dan memejamkan mata untuk berdoa. Permohonan penduduk yang tulus menumbuhkan benih-benih pepohonan dan menyuburkan tanah Seren yang pecah-pecah. Keesokan harinya, hujan gerimis yang lembut turun. Dan keesokan harinya lagi, para penambang menemukan berlian di gua-gua perbukitan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Demikian tanah Seren berubah menjadi negeri yang makmur. Namun setiap tahunnya, penduduk masih merayakan hari keberangkatan Dewa yang disebut Festival Bintang Jatuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Laki-laki di bawah pohon maple.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Adalah seorang pemuda yang duduk di sana setiap hari. Dia duduk terpekur, memandangi buku sketsa yang disangga lutut. Kedua matanya yang berwarna biru safir sesekali menyipit. Kalau sudah begitu, sepasang alis tebalnya akan turun beberapa mili, terjalin membentuk kerut konsentrasi di dahinya yang tertutup poni rambutnya yang hitam legam pendek, agak ikal. Lalu beberapa saat menjelang dia akan mengambil napas, mengangkat kembali tangan pemegang pensilnya, kemudian kembali sibuk mengarsir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Begitu terus berulang-ulang, dia tenggelam dalam dunianya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;...tapi mungkin hari ini tidak begitu sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jantungku seperti tenggelam ke dasar perut, dan oksigen di sekitarku seperti disedot oleh lubang hitam yang tak nampak. Baru saja pemuda itu mendongak seakan sadar aku sedang mengawasinya. Dan aku memang sudah melakukannya cukup lama tanpa disengaja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tapi masalahnya, dia mungkin salah satu pemuda paling tampan yang pernah kulihat. Tersembunyi di balik buku sketsa yang hampir menempel ke wajah itu adalah hidung yang bangir sempurna serta raut wajah yang tirus, menjadikan wajah pucat pemuda itu bagaikan mahakarya istimewa tukang pahat terkemuka di penjuru negeri. Sejenak bibir tipisnya membuka dengan heran seakan dia kebingungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lalu aku bergidik, dan buru-buru membuang pandang. Wajar saja orang jadi keheranan kalau ada yang berdiri mematung sambil menghadap ke arahmu, sekalipun kau mungkin tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang kostum kepala boneka seberat satu setengah kilo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;...sebenarnya apa sih yang sedang kupikirkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Hei, ayo main lagi!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ada yang tertawa-tawa dan merayap naik ke punggungku. Otomatis aku membungkuk, sadar masa istirahatku sudah selesai. Anak itu memanjat melalui telapak tanganku hingga sampai di puncak gendongan. Datang lagi beberapa membawa gulali serta balon warna-warni. Laki-laki dan perempuan. Semuanya menarik-narik bagian-bagian kostumku, tertawa-tawa meminta giliran naik ke atas punggungku. Kulayani mereka satu-persatu. Ketika mereka sudah hampir bosan, aku membenarkan letak kepala si boneka lalu melakukan koprol di atas permukaan lantai cornblock alun-alun. Anak-anak tertawa lagi. Beberapa orang dewasa yang melihatnya ikut bertepuk tangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yah. Itu pekerjaan sambilanku sekarang. Melakukan pertunjukkan jalanan, atau lebih tepatnya.... menjadi badut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Sudah selesai?!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku menganggukkan kepalaku yang berat dan berlapis-lapis. Seorang wanita bercelemek buru-buru menghampiriku dari sudut dimana sebelumnya dia sibuk meletakkan pot-pot bunga berukuran besar. Tangan gempalnya mencengkeram sepasang bahuku, mengguncangnya bersemangat. “Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih,” katanya dengan tawa berderai. “Entah apa yang harus kami lakukan dengan semua anak-anak itu jika tak ada kau, Nona... mereka benar-benar memperlambat jalannya persiapan...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Bibi! Tolong jangan panggil aku begitu...” desisku serak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Maaf. Baiklah, baiklah... Hanya ini yang bisa kami berikan padamu untuk hari ini,” katanya, masih terlihat geli ketika menyelipkan beberapa lembar kertas ke dalam tanganku. “Kau bisa kembalikan kostumnya ke rumahku. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku sebelum gelap. Sampai besok, Estrellita manis.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Seperginya wanita itu, aku berjalan lunglai menuju barisan pepohonan berwarna kecoklatan khas musim gugur di sekeliling alun-alun, tempat di mana aku bisa duduk di atas salah satu undakkan bata merah tanpa dilihat terlalu banyak orang. Akhirnya kostum boneka ini bisa dilepas. Aku mencopot kepala si beruang, mengambil napas, berusaha memasukkan sebanyak mungkin udara ke dalam paru-paru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Senja hari. Alun-alun kota masih dipenuhi manusia berlalu lalang; berteriak memberi perintah satu sama lain, membawa bermacam-macam benda mulai dari peralatan makan, barang-barang dekorasi, hingga berbotol-botol anggur, atau sekedar bergosip satu sama lain. Tinggal dua hari lagi menuju Festival Bintang Jatuh. Kesibukan diperkirakan akan bertambah keesokkan harinya, dan itu berarti butuh kerja lebih keras lagi untuk mengalihkan perhatian anak-anak supaya tidak berlarian mengganggu orang-orang dewasa mempersiapkan pesta besar-besaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Angin senja menghempaskan helai-helai rambutku. Aku mendesah, memandangi kepala besar beruang putih berpita yang tengah kupegang. Rasanya senang bisa membuat anak-anak gembira, tapi ternyata sangat melelahkan. Kukeluarkan uang yang kuterima dari Bibi Linette barusan, mencoba meluruskannya. Sepertinya aku butuh lebih banyak lagi kalau ingin ayahku mendapat pengobatan sesegera mungkin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemudian matahari mulai bergerak turun, dan aku teringat betapa aku tidak boleh berada di sini lama-lama. Kulipat uangku, kumasukkan ke dalam sakuku. Kepala kostum yang kini agak melempem kopong kukempit di bawah tangan. Silau matahari senja menusuk pandang. Aku mengernyit. Seseorang berjalan menghampiriku, sepenuhnya terhalang cahaya keemasan selain ujung-ujung sepatunya yang hitam mengilat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kau...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku mendongak, lalu terperangah—sama sekali tidak mengharapkan si pemuda di bawah pohon maple, yang sepasang bola mata safirnya terlihat lebih cemerlang dari dekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Apapun itu, aku segera ketakutan, melompat bangkit, lalu mengambil langkah seribu. Sempat kudengar dia berteriak memanggil, “O-oi!” dengan setengah terkejut, tetapi aku tidak berpaling lagi. Debaran jantungku tak kunjung mereda sekalipun aku melangkah semakin jauh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Darimana saja kau?!” bentak ibuku ketika aku berjingkat-jingkat menaiki tangga menuju kamar tidurku di lantai dua. Dia wanita necis yang senantiasa berpakaian mewah dalam segala kesempatan. Namun kecantikkannya agak tersia-sia oleh tanda-tanda penuaan serta kelelahan—sama seperti rumah ini. Mewah namun tak terpelihara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pundakku merosot turun ketika memaksa diri menoleh dan menjawab. “Aku... mampir ke rumah Bibi Linette untuk menjaga anak-anaknya,” kataku seraya menyilangkan jari di balik punggung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ibu memandangku dengan curiga, tetapi rupanya memutuskan untuk mencoba percaya. “Kuharap memang begitu!” dengusnya, kemudian tampak melunak. “Aku juga khawatir akan kondisi ayahmu serta keuangan kita yang tidak memadai. Tetapi sebagai putri bangsawan, kau dilarang melakukan pekerjaan-pekerjaan tak layak. Kau mengerti, Estrellita?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Ya,” kataku asal saja. Aku buru-buru menaiki anak tangga yang tersisa, berlari menyeberangi koridor, lalu masuk ke kamar dengan membanting pintu, melemparkan tubuh ke atas kasur, dan menghela napas lelah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku percaya ibu sedang menipu diri, dan itu menyedihkan. Kami dulu bangsawan, sekarang bukan lagi. Persisnya semenjak ayah rugi besar berkat tipuan licik saingan dagangnya. Harta kami nyaris habis tak bersisa, tanah kami disita. Lalu sudah tidak ada lagi yang menganggap keluarga Theobald sebagai bangsawan. Kemudian ayah mencoba bekerja menggarap tanah milik bangsawan lain, tapi uang cepat habis karena sikap ibuku yang masih bersikeras mempertahankan gaya hidup kebangsawanannya. Dia juga melarangku sering-sering keluar rumah karena malu. Beberapa bulan sebelumnya, ayah didiagnosa terkena penyakit jantung. Sudah belakangan ini penyakitnya semakin parah. Dia membutuhkan pengobatan sesegera mungkin, dan aku menemukan diriku sendiri putus asa mencuri-curi kesempatan untuk mengambil pekerjaan yang kubisa, karena kondisi keuangan sedemikian parahnya, dan sikap ibu jelas tidak membantu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lalu muncullah bibi Linette, tetangga sekaligus mayor kami, menceritakan soal festival dan legenda itu kepadaku ketika aku datang untuk bermain dengan kedua anaknya. Karena dibesarkan dengan cara yang sangat tertutup, aku hampir tidak tahu apa-apa mengenai perayaan itu. Meskipun saat itu yang terlintas di kepalaku adalah betapa pekerjaan sebagai badut beruang ini bodoh, aku tidak tahu pekerjaan macam apa lagi yang bisa kuambil untuk mencari uang. Pertimbangan berikutnya adalah, aku tidak harus memperlihatkan wajahku dengan memakai kostum sepanjang waktu. Sedangkan pertimbangan yang terakhir... aku juga sedikit ingin bergantung pada kebenaran legenda, dan sangat berharap bisa memohon kesembuhan bagi ayahku kepada Dewa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saat itu aku sedang duduk di undakan bata favoritku, di bawah jejeran pohon keemasan, tengah menikmati waktu istirahatku yang hanya lima belas menit sebelum diharuskan untuk kembali bekerja. Belajar dari pengalaman kemarin, aku tidak melepaskan kepala beruangku, yang setelah beberapa saat terbukti sebagai tindakan yang benar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Seseorang duduk setengah meter dari tempatku ketika aku sedang sibuk berpikir. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk sadar bahwa dialah si pemuda di bawah pohon maple. Sejenak, aku panik dan nyaris melompat berdiri, aapi lalu aku menenangkan diri sendiri dengan meyakinkan bahwa toh saat ini aku sedang memakai kepala beruangku. Dia duduk tak nyaman, melirikku diam-diam seolah sedang bertaruh apakah aku akan kabur lagi seperti kemarin. Aku bergerak-gerak salah tingkah, bergeser beberapa sentimeter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tiba-tiba saja laki-laki itu tersenyum sendiri. Otomatis aku menatapnya, setengah bingung setengah malu. Dia melihatku, entah bagaimana mungkin bisa membaca ekspresi di balik wajah polos si beruang, lalu berdeham.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bahkan sekalipun saat itu aku menyimpan beragam emosi yang kompleks terhadapnya, mau tidak mau aku menyadari betapa dia memang—yah, sangat rupawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Jangan takut,” katanya menenangkan, “aku hanya mau bilang kalau aku suka atraksimu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tubuh si beruang agak sedikit mengejang mendengarnya. Rasanya agak malu sekaligus sangat senang. Sejenak ada keheningan di antara kami. Aku meliriknya diam-diam. Pemuda itu tidak membawa buku sketsanya hari ini. Dia duduk santai, menikmati angin musim gugur seperti aku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kurasa semua orang menikmati persiapan festival ini,” katanya lagi, duduk bertumpu dengan kedua telapak tangan. “Bukankah itu menyenangkan?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Si beruang putih mengangguk. Rasanya memang menyenangkan melihat wajah-wajah sibuk namun gembira milik orang-orang dewasa, terlebih lagi wajah anak-anak yang tertawa sambil berkejaran di alun-alun. Atmosfer ini selalu membuatku merasa lebih bersemangat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Tapi agak miris ya?” tanyanya kemudian. “Padahal mereka semua sudah tahu bahwa legenda itu tidak akan jadi kenyataan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku diam, terperanjat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kau tidak tahu soal itu?” tanyanya, lebih kaget lagi melihat kekakuan pada reaksi si beruang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Si beruang menggeleng pelan, kemudian menunduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Yah,” dengusnya geli. “Begini saja, kalaupun legenda itu memang benar beratus-ratus tahun lalu, maka sekarang Dewa sepertinya sudah berhenti mengabulkan permohonan kita. Kau tahu kenapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Tebakanku adalah,” lanjutnya, “karena kita sudah bukan lagi negeri Seren yang dulu. Beratus-ratus tahun yang lalu, nenek moyang kita membuktikan betapa kita adalah kelompok yang solid, menanggung sedih dan susah bersama-sama, dan tidak memikirkan diri sendiri. Setelah itupun mereka bersama-sama memohon kesejahteraan untuk negeri Seren dan menjadikan negeri kita seperti sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Tapi sekarang sudah jauh berbeda, kan?” katanya muram. “Semua orang akan memohon untuk kepentingannya masing-masing. Entah itu memohon laba berlipat ganda, menjatuhkan saingan, atau apa saja, sementara hari festival adalah satu-satunya hari dimana orang-orang miskin boleh ikut makan enak bersama para bangsawan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kurasa Dewa juga sudah bosan mendengarkan kita,” pungkasnya, masih dengan nada mendung yang sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penjelasannya membuka mataku mengenai banyak hal. Aku tertegun. Kekecewaan menggulung dalam perutku, dan rasanya sesak. Aku tahu aku mulai menangis, dan merasa beruntung karena saat ini aku punya kepala beruang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Si pemuda jelas tidak menyadari itu, tapi tentunya dia bisa melihat tubuhku yang menegang. Dan kepalaku masih menghadap ke arahnya, seakan si beruang masih dalam keadaan syok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Jadi... kuharap kau tidak benar-benar percaya soal omong kosong hujan bintang itu?” tanyanya, mengernyit setengah geli setengah tidak percaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tetapi aku mengangguk, merasa putus asa. Dia pasti merasa aku sangatlah tolol, dan aku memang tolol. Aku menghabiskan separuh dari hidupku dikurung di dalam rumah, hanya diperbolehkan menjumpai orang-orang atau tempat-tempat tertentu. Wawasanku sangat sedikit. Ketika aku mendengar cerita Bibi Linette tentang festival ini, aku langsung percaya, lalu menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa kulakukan supaya sekaligus diperbolehkan mengikuti festival. Dalam benakku terbayang ayahku yang tengah terbaring sakit, serta peringatan ibuku kemarin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Rasanya sangat malu. Dan bodoh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Maka aku berdiri dan mengibaskan gaunku, karena saat itu juga aku ingin berada di mana saja selain duduk di sebelah pemuda di bawah pohon maple. Lalu aku berlari secepat mungkin, meninggalkannya sekali lagi dalam pertemuan yang tidak berakhir menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku berdiri di tepian ranjang, gemetaran. Ayahku, seorang pria paruh baya kurus mengenakan setelan berwarna merah pudar, terbaring pucat. Sebagian rambutnya sudah berwarna putih. Di bawah kedua matanya terdapat lingkaran-lingkaran hitam. Dokter baru saja pergi dengan meninggalkan berkantung-kantung obat serta nasihat panjang lebar kepada pelayan. Ibuku berdiri di pintu. Dia kelihatan lelah sekaligus tidak senang melihatku, karena setelah keributan besar tadi sore pasca serangan jantung ayah, akhirnya dia membongkar pekerjaan rahasiaku. Ditariknya tanganku, menyeretku keluar menuju koridor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Sungguh keterlaluan,” katanya dengan cuping hidung mengembang, seolah dia berusaha keras untuk tidak mengamuk. “Kau ini kenapa sih, Estrellita?! Kenapa kau terus saja membuat aku dan ayahmu pusing?! Lihat ayahmu! Dia sekarat dan banyak pikiran! Tega sekali kau melakukan ini terhadapnya!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Aku memikirkan pengobatan ayah!” protesku, hampir sama marahnya. “Kenapa ibu melarangku bekerja, sedangkan kita membutuhkan banyak uang untuk mengobati ayah...?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kau ini putri bangsawan, Estrellita! Bersikaplah yang layak!” bentaknya tak kalah keras. “Yang bisa kauambil hanyalah pekerjaan-pekerjaan memalukan, membuat aib saja! Cukup. Segala omong kosong ini akan berakhir ketika aku sudah berhasil mencarikanmu laki-laki yang cukup terhormat dan kaya untuk dinikahkan. Sekarang kau cukup diam saja di rumah, dan jangan membuatku tambah susah. Kau mengerti?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Disentakkannya tanganku dengan kasar. Air mata menggenang di kedua mataku. Ini benar-benar tidak adil, sampai-sampai aku tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Satu lagi.” Dia berbalik menambahkan seakan-akan semuanya belum cukup. “Kau tidak diperbolehkan keluar sampai batas waktu yang belum kutentukan!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lalu dia melesat menuju kamarnya sendiri, membanting pintu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku duduk di kamarku, memandangi matahari perlahan tenggelam. Seharian aku berpikir, dan kini tekadku sudah bulat. Perasaan memberontak, marah, putus asa, bercampur dengan keingintahuan yang menyenangkan rasanya menyesakku untuk melakukan sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku hanya tidak tahan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Belakangan ini rasanya aneh, setelah aku berkenalan dengan beruang putih itu dan berguling-guling seharian di lantai alun-alun. Mungkin sesuatu memang sedang terjadi pada kepalaku. Aku teringat anak-anak yang tertawa-tawa di atas punggungku, serta perasaan penuh harap ketika senja demi senja lewat dan festival itu semakin dekat, dan merasa aku seharusnya paling tidak menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Toh semuanya terasa begitu berbeda dibandingkan selama ini—duduk dalam kamar, diam mematuhi ibuku untuk tidak berbuat apa-apa, tidak berdaya melihat bagaimana ayahku bekerja dalam keadaan sakit-sakitan... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Meski hanya sehari lagi pun aku tidak sudi lagi kembali pada saat-saat itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Atau ini semua hanya karena aku belum benar-benar rela melepaskan apa yang kuharapkan selama berminggu-minggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku mengintip dari balik pintu, memastikan tidak ada yang berlalu lalang di koridor. Kemudian aku berjalan sepelan mungkin, berjingkat-jingkat menuruni tangga, melirik kesana-kemari, lalu menghambur menuju pintu depan. Udara sore terasa sejuk menenangkan. Aku berlari sepanjang jalanan lengang. Lebih dari separuh penduduk pastinya berada di alun-alun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Festival sudah hampir dimulai ketika aku tiba di sana. Kertas tabur warna-warni terbang berserakkan. Musik mengalun. Kios-kios menjajakan bermacam-macam barang dan makanan. Di tengah-tengah sana, lebih banyak lagi orang berkerumun. Aku melangkah pelan. Rasanya seperti mimpi. Sedikit demi sedikit aku berusaha menyibak kerumunan hingga bisa melihat apa yang tengah terjadi di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“...dan para penduduk Seren yang tercinta,” teriak seorang laki-laki berpakaian rumbai dari atas podium, menggunakan pengeras suara, “dipersilakan untuk mengawali acara kita, inilah dia... Pangeran Ebenezer!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kerumunan bergerak antusias, mendorongku semakin maju ke depan. Selama sejenak, yang tertangkap oleh mataku hanyalah sekelebatan mantel kecoklatan melayang di udara. Kemudian persis di tengah-tengah sana, beberapa meter di hadapan laki-laki di atas podium, sesosok laki-laki berpakaian serba putih melakukan gerakan koprol, kemudian mendarat. Di atas lehernya bertengger kepala beruang putih besar, beralis tebal dan tidak berpita—beruang putih jantan. Anak-anak kecil bersorak girang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku menganga tidak percaya menatapnya. Dia melambai-lambai kepada kerumunan. Kemudian entah bagaimana, gerakan tangannya menyentak berhenti di udara begitu tatapannya mencapai kerumunan di sekitarku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kupikir dia melihatku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemudian pelan-pelan dia melangkah mundur, lalu berbalik lari menembus kerumunan. Begitu saja dia pergi dari tengah-tengah keramaian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku tidak berpikir. Aku bahkan tidak begitu peduli orang-orang berseru kaget dan mengeluh di sekitarku. Tatapanku hanya tertuju pada sosok beruang itu—berlari mengejarnya, ikut melompat menaiki undakan, melintasi barisan pepohonan keemasan, melintasi jalanan-jalanan ramai, menaiki tangga di pusat kota, menuju puncak-puncak datar bangunan perumahan segi empat di atas bukit. Rasanya melelahkan tapi nyaris menyenangkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Si beruang berhenti di salah satu sudut dataran luas terbuka berbalkon putih yang langsung berhadapan dengan angkasa. Saat itu sudah sepenuhnya gelap. Bintang-bintang bertaburan, dan terlihat sedemikian jelasnya di lautan kegelapan malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dia membuka kepala beruangnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Melarikan diri rasanya tidak enak,” kata si pemuda di bawah pohon maple, terengah-engah seraya menimbang-nimbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku membuka mulutku, menutupnya lagi, kemudian membukanya lagi. Aku paham maksudnya, dan merasa agak malu karenanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kenapa...” aku memulai lemah, tidak sanggup menyelesaikannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Karena aku mau minta maaf,” potongnya. “Kurasa aku sudah mengatakan sesuatu yang melukai perasaanmu kemarin. Tapi percayalah, sebenarnya ada beberapa hal yang lebih penting yang ingin kusampaikan padamu. Salah satunya ini.” Dia merogoh selembar kertas yang digulung dari dalam sakunya, kemudian diulurkannya padaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Itu untukmu, terimalah. Anggap saja semacam bentuk permintaan maafku.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku maju beberapa langkah, merasa pusing dan bingung, menerimanya. Kutarik lepas tali pengikatnya, kemudian kubentangkan. Aku memandang pemuda itu, terkejut bukan kepalang. Tiba-tiba jelaslah sudah mengapa setiap hari aku melihatnya di sana. Di tempat yang sama, di bawah pohon maple yang sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kau menyukainya?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku kehabisan kata-kata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Maafkan aku,” katanya tak nyaman. “Aku tidak akan mengubah pendapatku mengenai betapa legenda itu mungkin sekali cuma sekedar omong kosong. Tapi kalau Dewa memang ada, aku yakin dia pasti mengorbankan permohonanmu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“M-maksudku...” Dia mulai terbata-bata. “Setiap hari aku melihatmu bermain dengan anak-anak itu... Melompat-lompat, menggendong mereka... Tidak sekalipun aku melihatmu mengeluh ataupun bosan. Mereka semua menyukaimu, dan... a-aku merasa kagum karena kau terlihat begitu tulus dan senang melakukannya. Makanya aku membuat sketsa itu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Semburat keperakan mendadak memenuhi angkasa, menerangi wajah kami. Kami berdua mendongak, menatap bintang-bintang berjatuhan di angkasa. Hujan bintangnya sudah dimulai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Tapi kalaupun memang ternyata Dewa tidak mendengarkanmu,” katanya sekali lagi, lebih pelan dari sebelumnya. Wajahnya merona dalam cahaya kerlipan yang samar-samar. “Ketahuilah bahwa aku... mungkin bisa mengabulkannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku masih terpana memandangi lukisan beruang putih yang dikelilingi anak-anak dalam peganganku, tidak berani memandang wajahnya. Tetapi kata-kata itu terasa begitu hangat di hatiku hingga rasanya sangat tidak sopan jika aku tidak tersenyum. Dan aku juga perlu sedikit mengusir genangan yang mulai berkaca di mataku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Jangan menangis,” pintanya sambil meringis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Aku menggeleng. “Terima kasih, Yang Mulia.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Malam itu langit dipenuhi bintang-bintang perak yang berkerlap-kerlip seperti mutiara yang saling berjatuhan. Tidak kusangka aku akan pernah benar-benar melihatnya dengan kedua mataku sendiri. Aku bertukar pandang dengan Pangeran Ebenezer—tanpa kata, sepakat untuk menontonnya bersama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kurasa Dewa memang benar-benar ada. Dan dia tidak pernah berhenti mendengarkan orang-orang yang memohon dengan tulus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3708046268132920356?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3708046268132920356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2012/01/calla-ed-tenets.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3708046268132920356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3708046268132920356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2012/01/calla-ed-tenets.html' title='Calla Ed Tenets'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-5479256857548361193</id><published>2012-01-09T15:53:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:55:53.439+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Maaf</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Cerita ini kuikutin dalam sebuah kompetisi bulan Juli tahun lalu, yang sayangnya engga berhasil kumenangkan. Karena salah satu dari requirements lomba adalah memakai setting luar negeri, cerpen ini latarnya (seperti yang sudah bisa diduga) di Korea. Aku sendiri kurang sreg sama sense penamaanku yang ketauan banget hasil gugel, tapi yeah, biar gimanapun juga, menurutku sendiri ini salah satu cerpen teenlitku yang paling berhasil. Jadi bisa dibilang aku sendiri suka banget sama cerita ini.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Selamat membaca (jika ada yang membaca)!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Shim Jong Kyu!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Begitu si anak perempuan memanggil anak laki-laki yang duduk membenamkan kepala di atas meja. Yang dipanggil pun segera mendongak. Dia kurus, badannya lebih kecil dibandingkan anak-anak seumurannya, sekalipun pipinya tembam—memberikan kesan menggemaskan pada raut wajahnya yang seolah selalu cemas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sedang si anak perempuan adalah kebalikan dari si anak laki-laki yang dipanggil Jong Kyu itu. Tubuhnya tinggi dan berisi. Wajahnya bundar, berkeringat, dan penuh semangat dengan puncak hidung terangkat pongah. Matanya menyipit licik menatap Jong Kyu. Sudut-sudut mulutnya terangkat membentuk seringai jail. Tangan kanannya teracung tinggi, menggenggam sebuah gantungan kunci boneka kecil anjing berbulu putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sepasang mata kecoklatan Jong Kyu membulat dan seketika itu juga dia bangun dari duduknya, berlari nyaris melompat menerjang si anak perempuan, yang dengan gesit langsung menghindar. Jong Kyu jatuh mendarat di lantai kelas yang dingin. Beberapa anak yang masih tinggal di kelas pada masa istirahat itu tertawa cekikikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kembalikan padaku!” teriaknya antara kesal dan memelas. Entah dari mana si anak perempuan mendapatkan benda itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Ini.” Tanpa ragu-ragu si anak perempuan mengulurkan boneka gantungannya. Sebuah senyum manis tersimpul di wajahnya. Senyuman palsu. Anak perempuan itu sudah merencanakan apa yang akan dilakukannya apabila Jong Kyu benar-benar tertipu. Pun sebenarnya Jong Kyu tidak langsung mempercayai uluran yang baik itu. Namun boneka gantungan berbulu itu benar-benar berharga buatnya, sebab itu adalah oleh-oleh yang diberikan oleh ayahnya yang kini sedang menjalani wajib militer. Jong Kyu sudah tidak berjumpa dengan beliau selama satu setengah tahun. Sebagai pelampiasan rindu, barang apapun yang dikirimkan ayahnya pasti dia jaga baik-baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Maka dari itu, tanpa berpikir panjang, Jong Kyu menjulurkan tangannya untuk meraih benda tersebut. Namun seperti yang sudah direncanakan si anak perempuan, ditariknya kembali si gantungan kunci lalu disembunyikannya di balik punggung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Mi Na-yah!” protes Jong Kyu. Gemas dan marah, dia mengambil jalan memutar ke belakang Mi Na untuk merebut gantungan kuncinya, tapi anak perempuan itu betul-betul tangkas. Dengan segera dia berbalik, sehingga Jong Kyu hanya bisa berputar-putar mengelilinginya dengan tangan berusaha melewati pundaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Ambil saja sendiri!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jong Kyu menoleh panik mengikuti luncuran terbangnya si gantungan kunci. Mi Na, anak nakal itu baru saja melemparkan benda itu ke udara lepas. Dengan panik Jong Kyu melangkah lebar-lebar, berusaha menangkapnya, tetapi gagal. Benda itu mendarat di atas lemari penyimpanan yang berdebu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Shim Jong Kyu bukan anak berusia lima tahun yang pertumbuhannya pesat. Meski lemari penyimpanan itu hanya seukuran tiga perempat tinggi badan manusia dewasa, namun tetap saja hanya seruas jemarinya yang dapat meraih ujung-ujung permukaan lemari sambil berjinjit. Habis akal, setengah dipanjatnya lemari itu. Kakinya bergelantungan di udara. Sebelah tangannya menahan berat tubuh, sebelahnya lagi dipakainya untuk meraba-raba permukaan lemari sampai ke pojok. Ketika dirasakannya jemarinya menyentuh ekor berbulu si anjing putih, dia berusaha menyeretnya mendekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Keseimbangan lemari penyimpanan itu mulai goyah dan menjadi condong mengikuti berat tubuh Jong Kyu. Menyadari bahaya, anak laki-laki itu buru-buru menyambar gantungan kunci kesayangannya. Dalam perjalanan tarikannya, tanpa sengaja tangan Jong Kyu menabrak globe besar yang diam dan berdebu di sisi kiri permukaan lemari. Lemari penyimpanan tidak lagi condong ketika Jong Kyu telah melompat turun, namun globe itu melayang jatuh. Beberapa murid perempuan menjerit, namun tidak ada yang mampu mencegah globe itu menjatuhi kepala Jong Kyu dengan bunyi debuk menyeramkan. Jong Kyu berdiri limbung, selama sesaat nampaknya masih bingung akan apa yang terjadi. Disentuhnya puncak dahinya sendiri, kemudian dipandanginya cairan merah yang menempel di jemarinya. Lalu entah karena rasa sakitnya ataupun karena ketakutannya melihat darah, Jong Kyu ambruk tak sadarkan diri di lantai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sementara itu bola globe lepas dari porosnya, menggelinding di lantai, kemudian berhenti di sebelah sepatu Mi Na dengan memampangkan daerah Amerika Serikat. Anak perempuan itu sendiri membatu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wajahnya pucat berkeringat dingin. Mulutnya terngaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pintu menjeblak terbuka. Seorang wanita bersetelan rapih, berkacamata, dan bersanggul masuk diiringi suara langkah-langkah tegas kaki berselimut stiletto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Anak-anak, waktu istirahat sudah selesai...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemudian tatapannya bersirobok dengan pemandangan salah satu muridnya yang terkapar di lantai. Kelas hening, hingga anak perempuan di deretan belakang mulai terisak. Tak lama, seisi sekolah sudah mendengar jeritan ngeri Soo Kyung-seonsaengnim yang meminta pertolongan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na duduk tertunduk di deretan kursi di depan ruang kepala sekolah. Wajahnya pias. Di dalam sana, ibu Jong Kyu sedang berbicara dengan sang kepsek. Berdasarkan apa yang didengarnya secara sembunyi-sembunyi, nampaknya insiden itu menyebabkan kepala Jong Kyu bocor dan harus menjalani rawat inap di rumah sakit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selain itu, ibu Jong Kyu nampaknya khawatir. Selama ini anaknya memang pemalu dan tidak percaya diri sehingga sulit bergaul. Dipikirnya, masalah ini akan membuat Jong Kyu semakin mengalami trauma bersosialisasi. Wanita itu juga mengeluh tentang betapa Jong Kyu sering bercerita bahwa dia seringkali menjadi korban kejahilan teman-temannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sebenarnya, sekalipun Mi Na termasuk salah satu dari anak yang paling sering mengerjai Jong Kyu, dia tidak pernah bermaksud jahat padanya. Bahkan sebenarnya, dia merasa tertarik pada anak laki-laki yang pendiam namun cerdas itu. Sekali waktu, Mi Na pernah melihatnya memberikan makanan yang sengaja dia sisihkan untuk seekor kucing jalanan yang sering ditendang-tendang dan dilempari batu oleh anak-anak. Mi Na suka kucing. Diam-diam, tindakan itu membuatnya mengagumi Jong Kyu. Tetapi dia gemas karena sekalipun sering diolok-olok, anak laki-laki itu selalu hanya diam, tidak pernah melawan. Entah mengapa Mi Na ingin sekali melihatnya berontak sekali-sekali, maka dari itu Mi Na mulai bergabung dengan para pengolok-olok secara rutin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sungguh, dia tidak bermaksud mencelakai anak itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pintu di sebelahnya membuka. Seorang wanita bergerak keluar dari ruangan, diikuti oleh pria jangkung gemuk berkumis yang dikenali Mi Na sebagai kepala sekolahnya. Otomatis Mi Na langsung duduk tegak. Jantungnya berdebar-debar oleh perasaan takut sekaligus bersalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Terima kasih banyak atas kesedian Anda untuk datang dan bercerita pada saya,&amp;nbsp; Shim Cheon Hee-ssi.” Kepala Sekolah menyalami tangan wanita itu, yang tampak anggun dengan rambut ikal tergerai menjatuhi kedua sisi bahunya yang kecil. “Sungguh saya menyayangkan keputusan Anda untuk memindahkan anak Anda dari sekolah ini. Jong Kyu memang pendiam, tetapi dia siswa yang berprestasi...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na duduk dengan mulut setengah terbuka. Dia tidak percaya apa yang didengarnya. Shim Jong Kyu... akan dipindahkan ke sekolah lain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“...yah, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak Anda,” lanjut sang Kepala Sekolah. Keduanya nampak tidak menyadari keberadaan Mi Na yang hanya beberapa meter jauhnya. Ibu Jong Kyu hanya mengangguk tersenyum seraya mengucapkan terima kasih dengan nada formal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Segera saja keduanya saling menunduk berpamitan. Kepala Sekolah masuk kembali menuju ruangannya, meninggalkan Ibu Jong Kyu di muka pintu ruangannya yang menutup pelan. Wanita itu diam sejenak, mendesah, nampak lelah dan berat. Jemarinya mengusap dahi untuk menghilangkan kerutan dari sana sebelum berbalik pergi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na panik. Dia tidak yakin harus melakukan apa. Satu-satunya hal yang ada di kepalanya hanyalah—dia tidak terima Jong Kyu harus pergi dari sekolah ini karena kesalahannya. Setengah sadar, Mi Na berlari mengejar wanita itu menuruni tangga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Jong Kyu-omonee!” panggilnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Wanita itu berhenti melangkah di salah satu anak tangga dan berpaling. Bingung mengapa ada anak perempuan seumuran anaknya mengejar-ngejar dia. “Ada apa?” tanyanya enteng seraya agak mengernyit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Apa benar Jong Kyu akan dipindahkan ke sekolah lain?” Mi Na bertanya, agak terengah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Ya.” Ibu Jong Kyu langsung menjawab dengan anggukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Tolong jangan pindahkan dia!” pinta Mi Na sekonyong-konyong. “A-aku sangat menyesal karena sudah menjahilinya kemarin...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sepasang mata Ibu Jongkyu menyipit dengan pemahaman, membuat Mi Na mengalami semacam penyesalan lain atas penjelasannya. “Jadi kamu anak perempuan yang bernama Ryom Mi Na?” tanya wanita itu dingin sekaligus berapi-api. Setelah terlebih dahulu menelan ludahnya dengan susah payah, Mi Na mengangguk kuat-kuat, bersiap menghadapi apa yang nampaknya sudah pasti terjadi setelah ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Gara-gara kamu, kepala anakku bocor—lalu asal kamu tahu, sampai sekarang dia masih belum mau masuk sekolah lagi saking ketakutannya, hingga aku terpaksa membujuknya agar mau kembali bersekolah di sekolah lain!” Ibu Jong Kyu membentak Mi Na dalam sekali tarikan napas, kemudian dicengkramnya bahu anak perempuan itu dan diguncangnya. “Memangnya anakku berbuat salah apa padamu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na menggeleng ketakutan. “M-m-maafkan aku...” cicitnya, hampir menangis. “A-aku tidak sengaja...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ibu Jong Kyu mendengus tertawa sinis. “Tidak sengaja? Bukannya kamu mengerjai anakku hampir setiap hari?” tanyanya tidak percaya, namun akhirnya melepaskan cengkramannya di bahu Mi Na. Wanita itu berdiri tegak, menghembuskan napas keras—kelihatannya berusaha menenangkan dirinya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Sudah kuputuskan agar Jong Kyu dipindahkan ke sekolah lain. Semakin dia berjauhan dengan anak-anak nakal sepertimu, semakin baik,” tukasnya dingin pada si anak perempuan, yang tidak berani mengangkat kepalanya lagi. Dan ketika tak lama kemudian Mi Na memberanikan dirinya untuk mendongak, ibu Jong Kyu sudah jauh meninggalkan tempat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Laki-laki itu bernama Shim Jong Kyu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dan nampaknya ini serius.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na sendiri tidak percaya ketika dihadapkan pada nama anak laki-laki yang dicelakakannya sepuluh tahun lalu. Tetapi memang itulah nama yang tercetak pada daftar anggota kelasnya di papan pengumuman. Tentu saja, nama itu menguatkan banyak hal yang memang masih tidak bisa dia lupakan atau hilangkan sampai sekarang. Perasaan bersalah, rasa menyesal, beserta kenangan-kenangan yang separuh lucu separuh tidak menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jong Kyu masih pendiam, meski tidak seperti dulu. Dia bicara ala kadarnya, tetapi sifatnya yang tenang dan santai memikat banyak orang untuk menjadi temannya. Pun dia bukan lagi anak laki-laki yang cengeng dan penakut. Perawakannya pun sudah jauh berbeda. Sekarang Jong Kyu adalah pemuda jangkung berdada bidang. Wajahnya, meski tidak begitu tampan, sudah tidak lagi mengesankan anak yang senantiasa cemas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sekalipun Mi Na ditempatkan sekelas dengannya, mereka tidak pernah bicara banyak. Lagipula, walau Mi Na mati-matian tidak bisa melupakan perasaan bersalahnya terhadap laki-laki itu, bukan berarti Jong Kyu terlihat menyimpan dendam ataupun sedikit ketidaksukaan. Malah sepertinya dia tidak bisa mengingat siapa Mi Na, serta apa yang dilakukan gadis itu kepadanya dulu waktu mereka masih TK.&amp;nbsp; Setelah lama mengamat-amati dan berusaha menyimpulkan, Mi Na memutuskan bahwa itu mungkin salah satu akibat dari benturan di kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tetapi bagaimanapun juga, Mi Na tidak bisa menghilangkan apa yang terjadi di antara mereka dulu dari kepalanya. Lebih dari dua-tiga kali, Mi Na selalu mendapati dirinya sendiri memperhatikan pemuda itu di kelas secara tidak wajar, seolah-olah jauh dalam hatinya dia ketakutan Jong Kyu akan jatuh kejang-kejang di lantai sewaktu-waktu. Rasanya seperti kekhawatiran yang tidak ada alasannya. Pernah sekali waktu Mi Na tanpa sengaja mengulurkan tisu lebih cepat dari siapapun ketika wajah Jong Kyu terhantam bola sampai mimisan di pelajaran olahraga, meskipun mereka mungkin baru bicara sekitar lima kalimat sepanjang tahun ajaran. Waktu itu dia merasa tangannya bergerak secara otomatis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Mi Na-yah, aku tidak tahu kau suka laki-laki macam itu.” Beberapa hari setelah kejadian itu, salah satu teman sekelasnya, Jung Ae Cha, mengajaknya bicara sambil terkikik geli ketika anak-anak perempuan mengobrol bersama di kelas pada jam istirahat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Macam apa?” Waktu itu Mi Na sama sekali tidak punya gambaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Jangan pura-pura, aku tahu kau sering memperhatikannya diam-diam,” celetuk Jin Ah di barisan depan, nampaknya antusias.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Tapi yang tempo hari itu sungguh tidak terduga,” sahut Ae Cha lagi, “Kau langsung berlari menghampirinya dari seberang lapangan begitu...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na menahan napas, merasa tertampar. Dia terlalu berkonsentrasi pada perasaan bersalahnya hingga mengabaikan pandangan teman-temannya terhadap tingkah lakunya selama ini. Dan Jong Kyu sendiri. Entah apa pendapatnya mengenai hal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Bukan begitu!” sanggahnya buru-buru. Tapi lalu dipikirnya, apa yang harus dia jelaskan pada gadis-gadis reseh ini? Kejadian bertahun-tahun lampau itu? Apa faedahnya jika Jong Kyu sendiri sudah menghapus kenangan buruk ini dari ingatannya? Mengungkit kembali hal itu tidak akan memperbaiki situasi—atau malah memperburuk masalahnya saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Seolah sanggahan yang berhenti di tengah jalan itu belum cukup buruk, bel pertanda istirahat selesai berbunyi dan para siswa masuk kembali ke kelas. Saat itu, Mi Na terlanjur tak bisa mencegah para siswi yang menoleh-noleh kepadanya, atau mendesis-desis memanggil namanya, ketika Jong Kyu sendiri lewat dengan pandangan bertanya. Bahkan teman sebangkunya pun turut menyikutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemudian hal itu tidak membaik di minggu-minggu selanjutnya. Firasat Mi Na sendiri mengatakan bahwa Jong Kyu tentu saja sudah mendengar gosip-gosip yang beredar. Beberapa kali kedapatan sedang curi-curi pandang ke arahnya dulu jelas tidak membantu. Mi Na segera pasrah. Sebisa mungkin Mi Na menahan diri untuk tidak mengerlingnya, atau berpapasan dengannya di koridor sekolah. Dari awalnya dia tidak bisa tidak memperhatikan pemuda itu berkat perasaan bersalahnya, seketika berganti menjadi usaha untuk menghilangkan perasaan bersalah itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kalau insiden kepala bocor itu sendiri sudah tidak ada di dalam kamus ingatan Jong Kyu, kenapa Mi Na masih harus merasa bersalah dan tidak ikut melupakannya saja?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Namun ternyata yang terburuk masih belum dan akan segera terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tidak ada yang salah dengan hari yang dijalani Mi Na sampai sekolah dibubarkan. Udara petang musim gugur terasa membekukan. Mi Na keluar dari gerbang, agak gontai menyangga ranselnya yang dijejali buku-buku berat. Salah satu yang terberat terpaksa dipegangnya dengan tangan karena tidak muat. Di jalan, dia berpapasan dengan Nam Bong Cha, gadis maha cantik yang konon merupakan seorang trainee di salah satu perusahan entertainment ternama—yang artinya beberapa tahun kemudian dia akan debut menjadi seorang idola.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selagi&amp;nbsp; sibuk berpikir bagaimana bisa seorang gadis tetap terlihat berkilauan setelah menjalani penyiksaan di sekolah sepanjang hari, Mi Na mendengar suara-suara dari balik pepohonan yang berjejer di sepanjang jalur menuju gerbang luar sekolah. Menyadari siapa salah satunya, jantung Mi Na langsung mencelos. Dari kejauhan pun dia bisa mengenali sosok Jong Kyu yang jangkung dan bertopi kupluk. Dia bersama seorang temannya yang rambutnya dicat merah menyala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Jadi... menurutmu apa dia akan menerimanya?” Jong Kyu terdengar ragu-ragu. Dia memegang sebuah amplop putih tertutup dengan sangat hati-hati seolah itu barang pecah belah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Pokoknya cukup panggil namanya, lalu kau serahkan saja ke tangannya. Tidak usah bilang apa-apa dulu,” kata si rambut merah meyakinkan. “Dia tidak akan punya cukup waktu untuk berpikir. Cepatlah—ah, mobilnya sudah tiba. Ayo ayo!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jong Kyu bergidik seolah-olah dia masih tidak yakin, tapi lalu berlari keluar dari persembunyiannya menuju tempat Nam Bong Cha menunggu mobil penjemputnya berhenti di tepian jalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Nam Bong Cha-ssi!” Dia memanggil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Nam Bong Cha, gadis itu, seketika menoleh ke belakang. Rambutnya yang cokelat tebal seolah melayang halus di udara dalam gerakan slow motion ketika dia berbalik, menatap Jong Kyu dari atas ke bawah seraya mengerjapkan matanya yang berbulu panjang nan lentik. “Ya?” sahutnya kalem.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Errr...” Jong Kyu macet sejenak, meski lebih kelihatan bingung daripada terpesona. “Ini... untukmu,” katanya kemudian, langsung mengulurkan suratnya kepada Bong Cha, tetapi matanya lurus menatap trotoar. Bong Cha melirik surat itu dengan tatapan datar, kemudian mengangguk dan menerimanya dengan senyum agak kecut—seolah-olah dia sudah terlalu sering dicegat untuk disodori surat oleh laki-laki. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Detik itu juga mobil mewahnya berhenti persis di hadapan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Terima kasih,” katanya seraya melambai, lalu membuka pintu mobil, masuk dan duduk ke dalamnya tanpa menoleh lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Teman Jong Kyu yang berambut merah, yang sejak tadi mengintip dari balik pohon, langsung melompat keluar dengan cengiran lebar. Jong Kyu menghela napas panjang, berbalik menghadapi temannya itu, lalu ikut nyengir juga. Mereka melakukan tos di udara. Keduanya tertawa-tawa seraya berjalan masuk kembali menuju gedung sekolah, tetapi langkah Jong Kyu entah bagaimana terhenti begitu dia melihat Mi Na. Begitu juga tawanya surut seketika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na tidak sadar sudah berapa lama dia membeku di tempatnya. Seolah dirinya juga sudah lupa akan eksistensinya sendiri. Mereka saling tatap begitu saja selama beberapa detik. Si rambut merah bertanya, “Ada apa?” memecahkan keheningan. Tetapi Mi Na juga tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Satu-satunya yang dia tahu adalah betapa mual perutnya sekarang. Sesuatu yang buruk—atau lebih memalukan lagi, akan terjadi jika dia tidak segera pergi dari sana. Dan memang itu yang dilakukannya. Mi Na kabur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dia tidak mengerti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sudah dua hari Mi Na uring-uringan. Setiap kali dia teringat akan adegan surat cinta dua hari lalu, perutnya terus menerus terasa tidak enak seperti mau muntah. Selain itu, napasnya jadi berat. Semua ini sama sekali tidak berhubungan dengannya, tetapi wajah Jong Kyu yang seolah terkejut melihatnya membuat Mi Na merasa lebih bingung lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na meletakkan keranjang berisi barang belanjaannya di meja kasir. Dengan sigap si petugas mini market mengeluarkan barang-barang satu persatu lalu menghitung harganya dengan mesin. Mi Na mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada si petugas, yang ganti menyerahkan kantong plastik berisi barang belanjannya. Kemudian Mi Na mendorong pintu terbuka dan keluar menuju udara malam Seoul yang dingin. Dikancingkannya mantelnya supaya lebih hangat sebelum melangkah menyusuri jalanan perumahan yang agak menanjak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di kepalanya hanya ada kata “tidak mengerti,” “bukan urusanku,” dan “tidak mengerti.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mungkin Jong Kyu hanya mendengar selentingan tolol dari gadis-gadis yang bergosip di kelas, kemudian benar-benar menyangka Mi Na naksir padanya atau apa. Mungkin dia merasa tidak enak karena tanpa sengaja memperlihatkan adegan yang akan menghancurkan hati Mi Na. Bodoh sekali. Padahal selama ini Mi Na hanya terjebak perasaan bersalahnya sendiri, yang sangat konyol, terhadap insiden masa kecil yang Jong Kyu sendiri sudah lupa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tapi perasaan bersalahnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah percintaan Jong Kyu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lalu kenapa saat ini dia merasa tidak nyaman?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Atau memang ada sesuatu yang terlewat olehnya di sana, ketika dengan penuh penyesalan dia memandangi kursi Jong Kyu yang kosong selama berhari-hari setelah kepindahannya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na melangkah melintasi tikungan, melewati daerah taman yang berpenerangan remang-remang. Di pagi, siang, dan sore hari, taman ini biasanya dipenuhi dengan anak-anak yang bermain pasir, perosotan, jungkat-jungkit, ataupun hanya sekedar kejar-kejaran di tepi kolam. Di malam hari, tempat ini berubah drastis menjadi tempat perkumpulan remaja-remaja brutal sekaligus sarana memadu kasih. Tak terhitung banyaknya kenalan Mi Na yang mengaku menyatakan perasaannya, lalu jadian di tempat ini. Dia sendiri tidak tertarik, melainkan terus saja berlalu melintasi pinggiran taman, ketika akhirnya dia melihat seseorang yang dikenalnya. Di bawah cahaya bulan, rambut kemerahan si pemuda terlihat lebih terang. Dia temannya Jong Kyu. Lalu di sebelahnya itu pasti...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Entah setan apa yang membawakan kebetulan tidak menyenangkan sampai berturut-turut begini. Mi Na mengusap wajahnya dan meratap. Kalau mereka sampai ada di taman ini, itu berarti kejadian menyatakan perasaannya akan atau sedang berlangsung. Tidak, dia tidak berminat menyaksikannya. Dia mau pulang saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setidaknya dia berpikir begitu sampai sesuatu yang janggal terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Yang mana dari kalian yang bernama Park Chin Hwa?” tanya sebuah suara bass menyeramkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Otomatis Mi Na diam di tempatnya, dengan tidak percaya menyaksikan bukan sosok mungil dan ramping berbaju renda milik Nam Bong Cha menghampiri tempat Jong Kyu dan temannya duduk, melainkan segerombolan remaja berwajah seram dan berambut warna-warni. Berdiri paling dekat dengan mereka berdua adalah seorang laki-laki tampan berwajah licik. Tubuhnya tinggi dan kekar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“A-aku. Ada masalah?” sahut si laki-laki berambut merah dengan suara hampir tidak kedengaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Masalah?” dengus si tampan. Dengan satu gerakan cepat disambarnya ujung-ujung kerah baju Chin Hwa dan diangkatnya hingga wajah mereka berdekatan. Chin Hwa bertengger lemas dengan kaki menggapai-gapai tanah. “Tindakanmu jelas-jelas mengganggu pacarku, Chin Hwa-goon. Belum cukup kau menerornya melalui telpon, email, dan kiriman bunga, sekarang sampai mengirim surat cinta segala pula! Mau cari gara-gara ya?!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Tunggu!” Mi Na mendengar suara Jong Kyu. “Dia tidak tahu kalau Nam Bong Cha sudah punya pacar.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pembelaan yang salah. Si tampan ganti melirik Jong Kyu dengan dingin. Tangannya menjatuhkan Chin Hwa ke tanah, yang langsung mengelus dada dengan ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Jadi maksudmu itu salah pacarku, begitu?” geramnya. “Atau maksudmu aku yang tidak terkenal sebagai pacarnya?!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Tolong jangan berpikiran negatif dulu,” kata Jong Kyu sambil meringis. “Dia hanya tidak tahu dan tidak bermaksud apa-apa. Toh kau akan berhenti mengejar-ngejar Nam Bong Cha karena dia sudah punya pacar, iya kan, Chin Hwa-yah?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tetapi Pak Chin Hwa sudah berdiri, dan dari wajahnya, jelas sudah bahwa dia tidak berniat mengiyakan pernyataan barusan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Aku tidak akan menyeraaaaaaaaaaahh!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lalu diarahkannya tinjunya ke pipi si tampan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dengan tenaga seperti itu, tentunya pada keadaan biasa dia sudah bisa memukul lawan hingga jatuh. Namun berhubung lawannya ini jauh lebih kekar dan tinggi, bergeming pun si tampan tidak. Walau wajahnya memang tampak sedikit memar. Jong Kyu tampak syok berat, begitu pula Chin Hwa. Si tampan mengelus pipinya yang ditinju dengan ibu jari, kemudian meludah ke tanah. Sekarang matanya mendelik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Dan ini artinya?” Dia bertanya, tapi itu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tiga orang anak buahnya dengan segera menyemburkan teriakan perang, lalu maju berombongan. Mi Na panik dan menjerit, tapi tidak ada gunanya. Diedarkannya pandang ke sekeliling, tapi hampir tidak ada orang yang lewat. Keributan seperti ini biasanya terdengar oleh petugas keamanan, tapi entah kapan dia akan tiba. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Walaupun begitu, Mi Na mendapati dirinya sendiri lumayan terkejut menyaksikan betapa cepatnya Jong Kyu mengendalikan sutuasi. Berdasarkan pengamatannya selama ini, tentu dia sudah tahu bahwa pemuda itu adalah salah satu siswa angkatan mereka yang pertama kali bergabung menjadi anggota klub Taekwondo. Tetapi melihatnya merobohkan dua orang ke tanah dengan begitu cepatnya mau tidak mau membuat Mi Na merasakan sesak yang tidak berhubungan dengan kepanikan, ataupun udara dingin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mengalihkan perhatian semua orang dengan erangan tertahan yang membangkitkan bulu kuduk, Mi Na menahan napasnya melihat pemandangan berikutnya. Park Chin Hwa baru saja disudutkan ke batang pohon oleh si tampan, lalu dipukuli berulang kali. Bisa dilihat Mi Na bahwa Jong Kyu mencemaskan temannya. Detik itu juga, orang yang baru saja dirobohkan beringsut bangkit dan meraih batang pohon berbonggol yang teronggok tak jauh darinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mendadak saja Mi Na merasa tahu apa yang akan dilakukan orang itu. Tanpa berpikir, dia berlari menerobos. Dalam ingatannya, globe melayang jatuh. Berpusing pelan-pelan. Mendekati kepala anak laki-laki itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Jong Kyu-yah!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Apa?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kenapa kau tidak pernah melawan? Tidak bosan dijahili terus?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kau sendiri apa tidak bosan menjahiliku terus?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Umma bilang anak laki-laki sebaiknya tidak hanya bersikap baik dan suka membaca buku. Anak laki-laki juga harus gagah dan kuat.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Shim Jong Kyu menurunkan buku yang menutupi wajahnya selama sesaat, melirik kesal anak perempuan manis bermata bundar yang duduk di hadapannya dengan dagu bertumpu di sandaran kursi. Dia memikirkan bagaimana cara terbaik supaya anak itu berhenti menggerecokinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Kalau aku jadi gagah dan kuat seperti katamu nanti, Mi Na mau jadi pacarku?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Anak perempuan itu, Ryom Mi Na, begitu terkejutnya hingga dia tidak bisa menutup mulutnya. Menyadari seberapa besar dampak ucapannya, wajah Jong Kyu berubah ungu. Diangkatnya kembali buku yang sedang dia baca hingga setinggi mungkin dan menyembunyikan wajahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Lupakan saja.” Begitu gumamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Oi, Ryom Mi Na!” seru Jong Kyu, membungkuk untuk menolongnya. Dibalikannya tubuh gadis itu dengan memegang pundaknya—yang membuat Mi Na menjerit tertahan. Itu bagian yang telak diremukkan oleh pukulan barusan. Rasanya sakit sekali sampai kedua matanya berair dan pandangannya berkabut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Sori,” ringis Jong Kyu tak enak hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Dimana mereka...?” tanya Mi Na, tidak bisa merasakan kehadiran yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Sebagian kabur, sebagian dibawa petugas keamanan.” Jong Kyu menjawab dengan nada agak muram. “Kau baik-baik saja? Tulangmu pasti retak. Sebaiknya kita ke rumah sakit.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tetapi Mi Na menahan lengan mantel pemuda itu sebelum dia bergerak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Maaf.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Itu kata yang sudah bertahun-tahun tersangkut di kerongkongannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Aku tidak pernah bermaksud mencelakaimu,” sambungnya lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hening menelusup bersama dengan berakhirnya kalimat itu. Air mata, entah penyesalan atau kelegaan, mulai mengaliri pipi Mi Na yang kotor terkena debu tanah. Kedua matanya sendiri masih setengah tertutup menahan sakit. Dia tidak peduli lagi apakah Jong Kyu, yang masih terdiam seribu bahasa, mengingat insiden itu atau tidak. Mengatakannya membuat perasaannya seringan bulu, dan hangat—sekalipun semilir dingin musim gugur masih berhembus di sekitar mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Aku mengerti.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jong Kyu mengangkat tangan Mi Na yang tidak terluka, kemudian menyampirkannya ke balik lehernya sendiri. Tak lama, Mi Na sudah mendapati tubuhnya bertumpu pada kedua tangan pemuda itu. Dia merasa tenang sekaligus bingung. Jadi selama ini Jong Kyu masih mengingatnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Seolah menjawab pertanyaannya yang tidak terucapkan, pemuda itu nyengir padanya. “Hanya ingat sedikit.” Diangkatnya Mi Na seraya berdiri. “Ingatanku sebelum terbentur itu cuma tersisa sedikit sekali. Tapi samar-samar aku ingat anak perempuan usil bernama Mi Na yang konon menyebabkan kecelakaan itu. Ketika berjumpa denganmu lagi untuk pertama kalinya, aku langsung tahu bahwa kau adalah dia.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Aku bahkan tidak membayangkan kau masih merasa bersalah selama bertahun-tahun,” sambung pemuda itu lagi ketika dia membawa Mi Na, dalam gendongannya, menyusuri jalanan menuju rumah sakit. “Kukira selama ini kau yang melupakanku, dan aku harus bilang aku senang karena ternyata itu tidak benar. Ternyata kecelakaan itu ada gunanya juga.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mi Na tidak merasa perlu bertanya apa maksudnya dengan kegunaan. Maka dia menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di dalam keremangan malam jalanan lengang kota Seoul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-yah: imbuhan nama untuk panggilan akrab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-seonsaengnim: panggilan untuk guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-ssi: imbuhan nama untuk panggilan formal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-omonee: sebutan untuk ‘ibu dari’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-goon: tuan muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-umma: ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-5479256857548361193?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/5479256857548361193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2012/01/maaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5479256857548361193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5479256857548361193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2012/01/maaf.html' title='Maaf'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-242121652469384804</id><published>2012-01-09T15:41:00.002+07:00</published><updated>2012-01-09T15:56:41.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='songs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='songfic'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fangirling'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fanfic'/><title type='text'>SONGFIC - Cleansing Cream</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://2.gvt0.com/vi/YdzIv7lW_V4/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/YdzIv7lW_V4&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/YdzIv7lW_V4&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Wangi bunga samar-samar merebak dari tutup wadah mungil yang terbuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Aku menjulurkan tangan untuk meraih kapas, menuangkan satu atau dua tetesan dari wadah botol mungil ke atasnya, sebelum akhirnya menyapukan cairan yang harum itu pada wajahku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pintu berderit terbuka, lalu muncullah dia. Terlihat sepasang kakinya yang kurus dari pantulan cermin di hadapanku, berjalan pelan-pelan dalam langkah-langkah ringan seolah melayang. Seakan-akan karpet berbulu di bawah adalah permukaan berumput yang hijau. Dan pemandangan sore yang kelabu di depan jendela adalah matahari terik yang menyengat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Dan dia, si gadis bodoh, adalah seorang petualang yang bersemangat menjelajahi semua keindahan dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Rambutnya panjang sampai ke pinggang—berantakan, mengenakan gaun putih lusuh yang selalu sama setiap harinya, dan memasang senyum tolol yang juga selalu sama setiap harinya. Dengan pandangan kosong dia berputar-putar mengelilingi kamar. Kedua tangannya terjulur meraba-raba udara, membelai apa saja yang berhasil dia sentuh dengan ujung-ujung jemarinya yang kurus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Aku mengerlingnya tajam dari sudut mataku. Melihat tingkahnya yang memalukan saja sudah membuatku nyaris meradang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tubuhku bergidik selagi aku menahan napas, menutup mata dan menggosokkan kapas keras-keras ke permukaan kulitku—mencoba menghapus semuanya sampai tidak ada lagi yang tersisa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;(After playing like crazy all day, I erase my thick makeup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Will I forget by being like this?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Looking quite miserable, on top of my half-erased cheeks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;On top of the half-erased lipstick,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;The fallen tears melt with the cleansing cream.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Aku ingat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pada malam-malam seperti sekarang, si gadis akan duduk sendirian dalam kamarnya yang berpenerangan redup. Memandang kosong pada tumpukan benda warna-warni yang bertebaran dalam ruangan, sementara suara-suara dalam hatinya terdengar begitu jelas dalam keheningan malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Gadis bodoh, bertanya-tanya sejauh mana dunia yang sejati berbeda dengan gambaran penuh warna di dalam kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Lalu dia akan melangkah keluar pelan-pelan, menyusuri ruangan, berjingkat bagai kucing. Mencari-cari apa yang tidak akan pernah bisa ditemukannya selagi aku mengawasinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Gadis itu berjalan, dengan kedua tangannya yang terjulur ke depan, perlahan dia mendorong pintu kamarku hingga terbuka, tempat aku tengah tertidur dengan posisi berpunggungan dengan sosok laki-laki itu. Diangkatnya sebelah lututnya, kemudian dia merangkak naik ke atas ranjangku, dan berbaringlah dia di sana, di antara kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Lalu dia bergelung ke arahku, mendekatkan wajahnya hingga hembus napasnya terasa di bibir telingaku. Lama dia di sana, menyurukkan puncak rambutnya yang berantakan ke lenganku, seolah dengan berbuat begitu dia merasakan kenyamanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Padahal aku begitu muak padanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Dalam tidurku yang terganggu, aku membalikkan tubuhku, dan melebarkan pandang, hanya untuk menemukan gadis itu tengah beringsut menuju laki-laki itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Jemarinya yang kurus menyusuri garis-garis rambutnya yang licin, merambahi permukaan wajah tirus si lelaki, dan menyentuh sepasang bibirnya yang sedikit terbuka dalam dengkuran halus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Dan itu menjijikkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;(What do I do, unni? I want to sleep now,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;but my heart keeps running to him.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;What to do, unni? I don’t think I can go on like this.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;(Love – for others it’s so easy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;But for me, it’s like an unerasable tattoo.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Ah, ya. Tentang laki-laki itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Aku sudah menghabiskan... mungkin berbulan-bulan untuk mengabaikannya. Dia seperti jejak yang berkeliaran di sekitar rumahku. Makan, duduk membaca koran, dan tidur di tempat yang sama denganku. Tapi dia barangkali sama tidak nyatanya seperti si gadis bodoh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Hanya sebagian dari hal-hal yang aku sendiri berusaha untuk tidak memedulikannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Hal-hal yang sebenarnya, jauh di dasar perutku, membuatku tidak nyaman dan memupuk kebencianku pada mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pagi itu si gadis tengah menyeberangi ruangan, dengan langkah-langkah ringannya dia melintasi si lelaki yang tengah duduk membaca di atas sofa. Ibu jari kakinya yang telanjang terantuk sesuatu yang menarik hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sekali lagi, dari pantulan cermin di hadapan mana aku sedang duduk merias wajahku, aku menyaksikannya menyentuh laki-laki itu. Tangannya yang kotor meraba permukaan kemeja si laki-laki, menuju pundaknya, hingga akhirnya menyentuh punggung telapak tangan si lelaki yang sedang menyangga buku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Laki-laki itu diam saja. Matanya menatap si gadis yang tentu saja, sepasang mata kosongnya tidak tahu akan hal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tapi gadis itu tersenyum. Entah itu sekedar kepuasan atau kerinduan yang mendalam, terbaca dengan jelas di wajahnya yang pucat dan polos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Aku mendenguskan napas kesal, tanpa sadar meremas-remas ibu jariku dalam perasaan muak yang rasanya ingin meledak keluar. Frustasi. Ini sungguh&amp;nbsp; mengintimidasi, dan sangat tidak bisa dibiarkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Aku harus menghapuskan keberadaannya yang menjijikkan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Malam itu tidak sekalipun aku menutup mataku. Sebaliknya, aku duduk, terbangun dalam kamar yang gelap dan sepi, berpikir dan berpikir sekaligus mengawasi apakah perkiraanku selama ini memang benar, sementara si lelaki tidur sendirian di atas ranjang yang luas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Hatiku seperti remuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sebenarnya apa lagi yang harus kuperbuat, supaya aku bisa benar-benar mengenyahkannya dari pikiranku? Karena aku tahu aku tidak pernah berhasil. Apa yang kulakukan saat ini tidak membawaku kemana-mana, selain pada penyangkalan yang sama gilanya dengan apa yang kupikirkan dan kulihat sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Maka ketika jam sudah berdentang pelan beberapa kali pertanda lepas tengah malam, aku mendengar suara pintu yang berderit terbuka, dan langkah-langkah kaki si gadis diseret-seret di atas karpet. Telapak kakinya yang kurus dan telanjang terlihat di celah kecil di bawah pintu kamarku. Langkahnya berputar-putar seakan-akan dia tengah mencari sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;(Why, why, why, unni?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;All throughout the night, why can’t I forget him?)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Si gadis bodoh duduk dalam lemari. Dia senang berada di sana, karena baginya yang tidak dapat melihat apa-apa, lemari itu begitu penuh dengan bau-bauan yang buatnya menarik. Dipeluknya setelan kemeja yang menguarkan harum maskulin yang selalu sangat dia sukai itu, kemudian tangannya bergerak lagi, menggapai atasan lembut yang menguarkan harum yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Baunya hampir menyerupai berbotol-botol cairan di atas meja rias. Rasanya begitu lembut dan membuat perasaannya seperti melayang. Semua kegalauannya seperti terobati hanya dengan menghidunya dekat-dekat ke indera penciumannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kemudian hatinya mulai bertanya-tanya penasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Aku duduk berhadap-hadapan dengan laki-laki itu di atas meja makan. Tidak ada yang saling bicara. Dia menyuap dalam keheningan. Aku memain-mainkan garpu di atas hidangan, tidak berselera makan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kemudian duduklah si gadis di sisi lain meja. Aku membuang pandang, tetapi laki-laki itu kelihatan tertegun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Maka aku mendongak, menatap lekat-lekat wajah si gadis yang belepotan. Sebelah pipinya menghitam seperti ada yang menumpahkan cairan maskara ke atasnya. Noda merah lipstik di tepian bibirnya. Dengan senyuman polosnya, dia menyendok kacang polong dengan lagak yang sepertinya dimaksudkan agar anggun dan gemulai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Napasku memburu. Miris. Kasihan. Jijik. Geli. Marah. Semuanya bercampur jadi satu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;“Ikut aku.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Aku berdiri begitu mendadak hingga meja bergeser beberapa senti. Dengan langkah-langkah lebar aku memutari meja, menarik sebelah tangan si gadis dengan kasar sampai garpunya terlempar ke lantai. Lalu kuseret dia pergi dari meja makan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;“Lepaskan!” pintanya tak berdaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;“Ikut-aku!” bentakku lagi, menariknya semakin keras dan kesetanan menyusuri lorong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;“Tidak mauuuu!” Dia meronta, tapi itu tidak ada artinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tanpa kupedulikan, kudorong dia masuk ke kamar mandi, ke bawah pancuran. Masih dengan pakaian yang sama-sama utuh, tanganku meraba dinding untuk memutar keran. Air mengguyur kami berdua, dengan si gadis masih menjerit-jerit melawan. Kugosokkan tanganku keras-keras ke wajahnya yang belepotan, dengan cara itu mencoba membungkamnya juga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Air mengalir deras, bercampur dengan noda-noda hitam, dan panas dari entah air mataku atau air matanya. Kami berdua—satu dengan wajah bengis tanpa ampun, dan satu dengan mimik memohon belas kasihan, sama-sama merasa disesak oleh uap air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Mau bagaimana pun juga tidak ada bedanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Bukan begini caranya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kemudian gadis itu kudorong paksa, kuceburkan menuju bathtub. Air meluap selagi aku menahan tubuhnya yang meronta-ronta, dan dia megap-megap kehabisan napas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kumohon jangan jadi begini menyedihkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;“T-tolong...” gumamnya tak jelas di bawah tekanan air. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Wajahnya diliputi kesedihan mendalam sekaligus ketidakberdayaan. Sejenak, aku bisa melihat wajahku di bola matanya yang kelabu. Tangannya mencengkeram pundakku. Selama sepersekian detik, semesta seolah mengijinkan kami untuk benar-benar menyadari kehadiran masing-masing, setelah sekian lama. Kenyataan mengiris, dan tangisanku pecah. Aku mundur, merosot menjatuhkan diri di lantai yang basah. Meratapi kenyataan bahwa aku memang belum bisa melupakan laki-laki itu dari hidupku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;(I don’t want to erase my makeup yet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;It hurts, it hurts – my closed heart – a lot, a lot.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=GWVXUHM8VZU"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-242121652469384804?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/242121652469384804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2012/01/songfic-cleansing-cream.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/242121652469384804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/242121652469384804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2012/01/songfic-cleansing-cream.html' title='SONGFIC - Cleansing Cream'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-648999355999926515</id><published>2011-11-15T22:29:00.006+07:00</published><updated>2012-01-09T15:30:19.131+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surga bukuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Surga Buku - Cerita Tentang Surga</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Gadis itu bukan aku. Meskipun dia memang mirip denganku—wajah yang bundar serupa, postur tubuh yang agak membungkuk, kaus oblong yang sama, kacamata berbingkai putih... tapi dia bukan aku. Ada sesuatu pada sepasang matanya yang membedakannya denganku, sesuatu yang untuk alasan yang tak kumengerti sekonyong-konyong membuatku merasa benci.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dan lucunya adalah, benciku padanya adalah sesuatu yang rasanya terlalu akrab bagiku. Ada iri yang tak bisa dijelaskan di sana. Perasaan rendah diri. Ketakutan. Rasa bersalah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Apa itu di tanganmu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku menjatuhkan benda yang tadinya kupegang sebelum aku sadar dia sedang memergokiku. Selembar sampul buku yang lecek. Lantai tertutup lembaran kertas yang tercabik-cabik sedemikian rupa. Berbagai macam huruf yang berbeda tercetak di atas mereka. Ada yang miring, ada yang tegak, ada yang putus-putus, ada yang susah dibaca. Semua tertulis di atas lembaran-lembaran itu dengan tinta. Kalimat-kalimat yang kini terpatah-patah dan tidak ada artinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Bukan urusanmu,” jawabku sambil menghindari pandangannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Apa yang telah kaulakukan, anak nakal?” tanyanya menginterogasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Sudah kubilang, bukan urusanmu.” Aku menendang-nendang kertas-kertas yang menumpuk di ujung jemari kakiku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Kenapa kaulakukan itu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku tidak menjawabnya. Ada perasaan tertentu yang membuatku tidak sanggup memilih untuk kabur darinya dan semua pertanyaan yang telah dan akan dia ajukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Kau sedang bertingkah kasar dan kekanak-kanakan. Kau tahu itu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Berisik!” bentakku antara malu dan marah. “Berisik berisik berisik berisik berisik!” Kusambar salah satu kulit buku yang berat, lalu kulemparkan tepat ke wajahnya. Sambil mendelik, kupastikan bahwa muncul sedikit retakan di sana, lalu kupandang sinis tanpa penyesalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tapi wajah yang kaku itu masih menatapku, tanpa ampun menyiratkan keprihatinan yang membuatku merasa lebih marah lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Jangan katakan apa-apa lagi.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Yang ingin kuucapkan adalah perintah yang tegas, namun yang keluar lebih kedengaran seperti permohonan memelas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Aku benci padamu!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kemudian tajam dan pelan, dipanggilnya namaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Mendekatlah padaku,” bisiknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku menunduk dan menggeleng, membalikkan badan, lalu dengan lemah beringsut mendekati sebuah tumpukkan di sudut ruangan. Buku dengan kulit dan sampul yang berwarna-warni. Sebagian dari mereka bergambar, sebagian lagi bermotif sederhana. Beberapa berbau wangi yang lembut. Kuambil sebuah, dan kuhirup aromanya yang mengingatkanku akan sebuah rumah di masa kecil. Dengan penuh harap, kubuka sampulnya, lalu kuusap halaman pertamanya yang disesaki dengan huruf-huruf bundar yang kecil-kecil, dimulai dari sederet tanggal di bagian atas kanan. Lalu perlahan, aku mulai membaca. Sampai pertengahan buku, aku mulai terisak-isak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Aku tidak sanggup.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Di dalam ruangan sempit itu, aku membaringkan diriku, bergelung dan mulai menangis sesenggukan seperti anak kecil yang ketakutan. Air mataku berbaur dengan lembaran-lembaran yang menutupi permukaan lantai, membasahi mereka, melunturkan jejak-jejak meliuk yang tertera pada tubuh mereka. Buku yang kupegang itu kujatuhkan. Halamannya terbuka, memperlihatkan akhirnya yang tidak pernah selesai. Dalam benakku, aku membayangkan segambar sosok yang kukenal jatuh melayang dari ketinggian. Dan barangkali akan ada lebih banyak rangkaikan kalimat yang mencakari hati seperti jarum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Kenapa tidak dihabiskan?” Gadis itu bertanya kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“...tidak tahan,” jawabku seraya menyembunyikan wajah dengan pergelangan tangan. “Aku sudah kehilangan semua kepercayaanku.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Tidak semuanya harus seperti yang kaubayangkan,” katanya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Mereka semua bilang begitu!” sahutku dengan suara melengking. “Tapi aku sudah melihat terlalu banyak. Dan aku-sudah-muak!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kulentingkan tubuhku untuk menegakkan diri, kemudian kuambil kembali buku yang terbuka itu dari lantai. Berapi-api dan kesetanan, kurenggut satu demi satu halamannya hingga lepas dari kulitnya. Belum cukup puas, halaman-halaman yang sudah terlepas itu kurobek-robek hingga menjadi beberapa potongan. Belum lagi puas, kuambil lagi dari tumpukkan itu dan kulakukan hal yang sama pada mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Aku tidak butuh melihatnya,” kataku dengan geraman tertahan, “aku tidak butuh mendengarnya, aku tidak butuh membayangkannya. Jika semuanya seperti ini, maka aku tidak butuh.... mengalaminya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dan lalu ternyata aku mendengar dengus tawa yang menghina.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Kau sakit.” Begitu kata si gadis. Belum pernah aku melihat wajahnya seculas itu. Licik dan penuh kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku hanya bisa memandangnya dengan napas memburu. Tanganku masih gemetaran setelah dipaksa melepaskan sejumput lembaran dan merobek-robek mereka lagi dalam sekali tarikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Apa maksudmu sakit?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Mendekatlah,” ajaknya sekali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berdua, sepasang mata yang sama tapi berbeda, hadap-hadapan saling bertatapan. Sejenak keheningan, kemudian dia berkata lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Yang kuminta hanyalah agar kau meminjamkan sepasang tanganmu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Setengah putus asa, setengah tidak peduli lagi, aku menjulurkan kedua tanganku ke tempat dia mengulurkan kedua telapak tangannya juga. Kemudian tangan-tangan kami bersentuhan. Gadis itu dingin—seperti kaca.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Ingatlah bahwa aku adalah bagian dari dirimu,” tuturnya. “Akulah tanganmu, dan selamanya aku akan menjadi kemampuanmu yang istimewa. Bersama-sama, kita akan menciptakan sebuah dunia di mana tidak akan terjadi lagi hal-hal yang kaubenci itu. Kita akan menciptakan.... sebuah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;surga&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kenangan demi kenangan berkelebat di hadapanku. Mimpi-mimpi yang tertinggal dan dilupakan. Perasaan-perasaan yang tidak pernah terbalas. Penderitaan yang tidak berakhir dalam kebahagiaan, melainkan berlipat ganda sampai dengan akhirnya. Dan air mata kembali membanjir. Saat ini perasaan-perasaan itu bercampur menjadi satu, membuncah, dan terasa mengiris-iris jantungku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Itu tidak nyata,” kataku nyaris tanpa suara. “Inilah yang nyata.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Benar,” katanya, dan aku dapat merasakan hembusan napasnya. “Tetapi sekalipun begitu, surga kita akan menjadi penghiburan kecil bagi mereka—bagi dunia.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Aku ingin melakukan... sesuatu...”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Kau akan melakukan lebih dari sesuatu.” Itu yang terakhir kudengar sebelum jendela di belakangku menjeblak terbuka, angin menerpa, dan lembaran-lembaran di lantai bangkit beterbangan—berpusar menghalangi pandangan. “...kita akan melakukannya bersama-sama.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku membuka mata. Kilauan matahari dari luar jendela menyengat mataku yang belum terbiasa. Aku mengerjap, kemudian mengangkat kepalaku yang terbaring di atas meja. Kuusap mataku untuk mengusir kantuk, kemudian teringat. Aku mengambil pena yang tergeletak di ujung meja, sejenak memandangi sebuah buku yang tertutup di hadapanku. Perlahan, kujulurkan tanganku untuk membukanya. Lalu aku menarik napas, meresapi bau percetakan yang tertinggal di atas buku baru yang masih kosong melompong. Ya, kosong melompong dan siap untuk ditulisi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Maka aku memejamkan mata selama beberapa detik, memikirkan paragraf pembuka yang cukup layak untuk mengawali sebuah cerita sebelum mulai mengangkat pena. Sebuah cerita tentang surga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;___&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Link: surgabukuku.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bradley Hand ITC&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku mau paket B XDDD&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-648999355999926515?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/648999355999926515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/11/surga-buku-cerita-tentang-surga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/648999355999926515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/648999355999926515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/11/surga-buku-cerita-tentang-surga.html' title='Surga Buku - Cerita Tentang Surga'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-7689423854717020713</id><published>2011-06-18T20:50:00.002+07:00</published><updated>2012-01-09T15:29:32.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasy fiesta 2011'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grand le gran'/><title type='text'>Fantasy Fiesta 2011 - Hari Terakhir Ishan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Maiandra GD&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Silakan membaca cerita ini di Antologi Fantasy Fiesta 2011 yang bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat. Terima kasih. :)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-7689423854717020713?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/7689423854717020713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/06/fantasy-fiesta-2011-hari-terakhir-ishan.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7689423854717020713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7689423854717020713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/06/fantasy-fiesta-2011-hari-terakhir-ishan.html' title='Fantasy Fiesta 2011 - Hari Terakhir Ishan'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-8622216058100545947</id><published>2011-05-22T21:44:00.003+07:00</published><updated>2012-01-09T15:28:24.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems'/><title type='text'>Someone That I'm Looking For</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7lCiKrtQU8Q/Tdkh0YgoG7I/AAAAAAAAAF8/aTezQgeSj3Y/s1600/Untitled.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-7lCiKrtQU8Q/Tdkh0YgoG7I/AAAAAAAAAF8/aTezQgeSj3Y/s320/Untitled.png" width="267" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While we are living in this world, at least there's a person like this whom we need.&lt;br /&gt;A person who will stay with us no matter what happens.&lt;br /&gt;A person who will protect us from whoever trying to hurt us.&lt;br /&gt;A person who will understand our feelings of disappointment.&lt;br /&gt;A person who will gently pat our shoulder and say "You've tried your best" when we fail.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The world is cruel indeed.&lt;br /&gt;Everybody seeks for the same thing, which is a simple love.&lt;br /&gt;Because simple love is true happiness.&lt;br /&gt;But in the end, pure hearts are tainted, good persons hurt someone else.&lt;br /&gt;Why are our paths towards love have to be so different?&lt;br /&gt;Why must we oppose each other for the sake of that one little joy?&lt;br /&gt;I want to believe everyone is given the chance to live because we are worthy of happiness.&lt;br /&gt;I tried hard to preserve my faith, fought for it, yet I have been failed many times.&lt;br /&gt;More than once, my heart was torn apart.&lt;br /&gt;I cry every night for all the past time scars and the pain which is still lingering.&lt;br /&gt;But I still won't let go of what I believe.&lt;br /&gt;And so during the hard times, I keep wishing for this person to come and help me to hold on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This person who will get mad at me for avoiding the whole world.&lt;br /&gt;This person who will scold me for lying to myself.&lt;br /&gt;This person who will hug me in the end of my sad tale.&lt;br /&gt;This person who will not leave me even when I'm on my darkest hour.&lt;br /&gt;This person who will take my hand and show me the good sides of reality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This person who will be able to see what I'm hiding from everyone, everyday.&lt;br /&gt;This person who will walk beside me throughout our journey, together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm just a timid little girl, one in a million inside this fast-rotating world.&lt;br /&gt;Honestly I'm scared. The only things I have are this frail small hope for finding a true love, and a dream to carry on.&lt;br /&gt;I'm afraid of losing. I have so many regrets from my early childhood years.&lt;br /&gt;Loves that I couldn't get. Wishes that must be left behind.&lt;br /&gt;Many chances that I skipped because of my ignorance. &lt;br /&gt;And now I'm worrying of running out of time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The fears probably will never have an end. &lt;br /&gt;But during hard times in the future someday, I really want to say that at least I have this person with me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A person who needs me more than anything.&lt;br /&gt;A person, injured, whom only me can heal.&lt;br /&gt;A person who can prove me that happiness is true, and that love is truly exist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I will finally be set free from the pain of an unrequited love. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A person who is different from any others. My only one soulmate.&lt;br /&gt;Someone that I'm looking for. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While we are living in this world, at least there's a person like this whom we need.&lt;br /&gt;I've been wondering all this time, just to find this person.&lt;br /&gt;Someday, when we finally meet, maybe gratitude will never be enough.&lt;br /&gt;But surely as long as we're together, there will be happiness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____&lt;br /&gt;Jakarta, 22 Mei 2011&lt;br /&gt;Dedicated to my future soulmate. I believe I'll meet you someday! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-8622216058100545947?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/8622216058100545947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/05/someone-that-im-looking-for.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8622216058100545947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8622216058100545947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/05/someone-that-im-looking-for.html' title='Someone That I&apos;m Looking For'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7lCiKrtQU8Q/Tdkh0YgoG7I/AAAAAAAAAF8/aTezQgeSj3Y/s72-c/Untitled.png' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-4060071595964272385</id><published>2011-05-22T20:28:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:28:10.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Bittterness</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ejPVACLPoxI/TdkPCRafMaI/AAAAAAAAAF4/ZqrGbReId_g/s1600/Untitled.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="238" src="http://1.bp.blogspot.com/-ejPVACLPoxI/TdkPCRafMaI/AAAAAAAAAF4/ZqrGbReId_g/s320/Untitled.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Lantas terang saja selama ini saya kesulitan untuk tidur. Ternyata saya sudah menelan terlalu banyak kepahitan. Barangkali seperti minum berliter-liter kopi. Saya ingin tidur, menutup mata dan melayang meski hanya sejenak pada suatu situasi dimana saya bisa merasakan kebahagiaan. Tetapi rasa pahit di lidah memberati saya, menenggelamkan saya pada kedalaman fakta. Saya terkubur di dalam gelap. Ya, hitam seperti kopi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-4060071595964272385?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/4060071595964272385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/05/bittterness.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/4060071595964272385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/4060071595964272385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/05/bittterness.html' title='Bittterness'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ejPVACLPoxI/TdkPCRafMaI/AAAAAAAAAF4/ZqrGbReId_g/s72-c/Untitled.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-7874562572940259849</id><published>2011-04-20T21:20:00.004+07:00</published><updated>2012-01-09T15:27:54.813+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grand le gran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fragmen'/><title type='text'>GLG: Fragmen - Puzzles of Resemblance (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kali ini semburat kemerahan yang lebih gelap dan kental menyapa pengelihatan Miharu bersamaan dengan rasa sakit yang perlahan menyebar merambahi dadanya seperti racun. Miharu terbelalak, merasa seakan dibangunkan dari mimpi buruk. Kembali dilihatnya wajah sang anak perempuan berambut abu-abu. Wajahnya kini mengeras. Pandangannya liar. Dia terlihat seribu kali lebih menakutkan seperti itu. Tetapi itu pikiran Miharu sebelum tubuhnya dilempar, melayang di udara dan mendarat di lantai dengan gesekan yang membuat bahu juga sikunya lecet.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Darah berceceran di lantai. Tidak butuh lama bagi Miharu untuk sadar milik siapa itu, merasakan rasa sakit diikuti ngilu yang tak tertahankan di dadanya sendiri. Dia mengulurkan sebelah tangannya, memastikan luka besar yang menganga di sana. Perih menyumbat napasnya. Menatap tajam si anak perempuan, yang balik memandangnya dingin tanpa belas kasihan. Atau dia memang tak pernah mengenalnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“K-kau...” akhirnya sebuah kalimat patah-patah berhasil menyembur dari mulut Miharu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Ah, kau membuatku mengingatnya,”&lt;/i&gt; lagi-lagi desah perkataan si anak perempuan langsung masuk ke benaknya, masih dengan nada menekan udara yang sama. Sejenak dia tampak terluka. Kemudian sepasang matanya yang menyeramkan itu mendelik menatap Miharu yang tergeletak hampir tanpa sisa daya. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Ya. Aku mengingatmu... Eldred!”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Lalu tanpa sempat memikirkan apa arti dari seruan maupun nama yang disebutkannya, sekali lagi Miharu merasakan udara merobek kulit serta daging di kedua lengannya. Tetesan darah kembali memercik di atas lantai. Miharu lumpuh kesakitan. Dia tak bisa berpikir lagi. Dia hanya tahu dia berada dalam bahaya, jauh lebih daripada kapanpun yang dialaminya. Tetapi kali ini apa yang menghalanginya untuk melindungi diri bukanlah bendungan kekuatan, melainkan kesekaratannya sendiri. Pikiran akan segera mati membuatnya buta terhadap peluang manapun untuk meloloskan diri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Katakan sekarang!”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Samar-samar masih dapat dilihatnya si anak perempuan, yang kini menangis layaknya anak-anak seusianya. Atau lebih tepatnya, dia merengek. Mengentak-entakkan kakinya di lantai. Mengisak-isak. “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Katakan dimana dia! Dimana dia?! Dimana diaaaa?!”&lt;/i&gt; Suara rengekkannya bagaikan dengung menyebalkan dalam pendengaran Miharu yang perlahan semakin memudar seiring dengan kesadarannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Cukup.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Dengan sisa-sisa tenaga yang ada Miharu mempertahankan kelopak matanya yang hampir menutup. Sepasang kaki bersepatu hitam berujung runcing melangkah di sampingnya. Miharu sempat melihat kelebatan jubah putih di atasnya berdesir halus melewatinya, meninggalkan aroma tajam bunga Shyisia merebak di udara yang lembap.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Ibunda!”&lt;/i&gt; seru si anak perempuan dengan nada mengadu sekaligus menuduh. “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Dia... Dia... Kenapa dia belum mati?! Kenapa dia ada di sini?!”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Evaneska,” kata Fidela dengan nada tegas. “Kau seharusnya tidak di sini, ingat?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Itu tidak cukup kuat untuk menghentikan si anak perempuan. “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Dia datang tiba-tiba, membuatku menelantarkan doaku,”&lt;/i&gt; pekiknya lebih keras lagi.” &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jawab pertanyaanku, Ibunda! Kenapa Eldred belum mati...? Kenapa?! Kau harus membunuhnya sekarang, atau aku akan...”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Fidela melirik Miharu tajam dari sudut matanya, kemudian berpaling dan menghela napas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Evaneska,” katanya lagi kepada si anak. “Apa kau baru saja melihat sesuatu?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Wajah anak perempuan itu mendadak pias. Kilatan nyala pada kedua sekonyong-konyong padam menjadi kegelapan samar layaknya kedalaman. Dia menggigil ketakutan. Kedua tangannya menutupi wajahnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;T-t-tidak!” &lt;/i&gt;cicitnya&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;. “Aku tidak melihat apa-apa! Aku tidak melihat apa-apa! Aku tak bisa melihat apa-apa!&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Fidela menyunggingkan senyum tipis melihat reaksi ini, namun sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah kecewa dan prihatin.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Kau tidak bisa,” katanya mengulangi seraya meletakkan tangan di bahu Evaneska dengan lembut. “Kalau begitu... hanya bermimpi?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Pelan-pelan wajah si anak perempuan muncul dari balik tangkupan telapak tangannya sendiri. Rona pucatnya berubah cerah kembali. Dia tersenyum lebar. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Oh, ya!&lt;/i&gt;” katanya terbata-bata, lega. “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;T-t-tentu saja itu hanya mimpi. Maafkan aku, Ibunda. Kau sudah sering memperingatkanku soal ini.&lt;/i&gt;” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Kemudian dia menghampiri Miharu, menepuk-nepuk rambut gelapnya. Sentuhan tangannya masih sedingin sebelumnya. “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Maafkan aku, anak yang tersesat. Apakah kau marah padaku?&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Kali ini Fidela tidak berusaha menyembunyikan senyuman ketika melihat raut wajah jijik sekaligus kesakitan Miharu dari balik punggung Evaneska.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Tentu saja tidak, anakku yang baik,” tukasnya, mengambil alih kewajiban menjawab. “Bukankah sudah waktunya bagimu untuk kembali, Fragin? Kau tidak boleh meninggalkan tugasmu lama-lama.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Tentu&lt;/i&gt;,” sahut Evaneska dengan kepatuhan yang hanya bisa dipandang mengerikan oleh Miharu, berdiri kemudian membungkuk sedikit. “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Terima kasih sudah mengunjungiku hari ini, Ibunda. Kau juga, anak yang tersesat. Aku tidak terbiasa menerima kunjungan dari orang selain Ibunda. Tapi aku berharap kau akan berkunjung lagi lain waktu. Sampai jumpa.&lt;/i&gt;” Kemudian dengan senyuman ramah anak perempuan itu berlari menuju kegelapan di belakang arca. Menghilang di baliknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Keheningan menyisakan hanya Fidela dan Miharu dalam ruangan itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Wanita itu mendengus, berpaling menghadapnya. “Bagaimana menurutmu, Miharu? Bukankah dia anak yang manis?” tanyanya dengan senyum lebar, kemudian mendengus memperhatikan Miharu yang berusaha bangkit dengan luka-luka berdarah di sekujur tubuhnya, hanya untuk berkali-kali gagal. Kedua lengan atasnya yang terluka membuat Miharu tak kuasa menahan bobot tubuhnya sendiri. Fidela menggulung lengan jubahnya, menjulurkan satu tangan untuk menawarinya bantuan. Miharu menepisnya, mendelik benci.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Apa yang sudah kaulakukan padanya?!” tanyanya kasar, merasa jauh lebih baik mati saja daripada membiarkan wanita itu menyentuhnya sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Fidela menurunkan kedua alisnya dengan dingin, memperhatikannya dengan kedua mata disipitkan selama beberapa saat. Lalu sebelah kakinya yang bersepatu runcing menendang keras wajah si pemuda. Tubuh Miharu kembali terkulai di atas lantai. Tanpa ampun ibunya kembali mengarahkan kakinya menginjak dada pemuda itu, menekan kuat-kuat bagian yang paling melemahkannya saat ini dengan ujung runcing sepatu. Miharu mengeluarkan bunyi kesakitan, namun bertahan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Aku kecewa,” ujarnya. “Kau sudah berbuat sangat nakal hari ini, Miharu. Dan aku juga sudah muak dengan perlakuanmu padaku.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Merasa lebih dari sekedar kesakitan tetapi tidak sudi berteriak ataupun memohon-mohon minta ampun, Miharu melampiaskan penderitaannya hanya dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. Dia tidak dalam keadaan bisa membalas perkataan wanita itu. Pun dia sebetulnya tidak meminta banyak selain dibiarkan membenci wanita itu dengan bebas. Tetapi mungkin saja kali ini wanita itu benar-benar akan membunuhnya atas satu kesalahan ini. Toh sejak awal Miharu sudah tahu bahwa dia hanyalah alat, tak peduli seberapa memelasnya wanita gila ini meminta dipanggil dengan sebutan ibu, dan diperlakukan layaknya seorang ibu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Kau beruntung,” katanya lagi, “Seandainya dia melukaimu lebih dalam dari itu, kau pasti mati.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Setelah saling bertatapan beberapa lama, barulah Fidela mengangkat kakinya dari tubuh pemuda itu. “Bangun,” perintahnya. Kemudian Miharu menyadari lingkaran Verses yang tengah berpendar di lantai mengelilinginya. Dia mengambil napas banyak-banyak, meraba kedua lengan serta dadanya. Luka-lukanya masih ada, tapi pendarahannya sudah berhenti. Begitu juga rasa sakitnya telah banyak mereda. Dia duduk menatap ibunya. Semua ini tidak membuat kebenciannya terhadap wanita itu surut. Tetapi dia jadi tidak mengerti.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Pergilah ke balik mantera di tengah ruangan itu, lalu sembuhkan dirimu sendiri di atas,” kata Fidela, yang kini memunggungi anaknya. “Tidak ada sihir yang benar-benar berfungsi di sini.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Apa yang sedang kaulakukan?!” tanya Miharu begitu saja sebelum sempat mengendalikan dirinya sendiri. “Kenapa kau melakukannya?! Kenapa kau...”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Ibunya berpaling lagi. Rambutnya yang menjuntai berdesir halus, membingkai wajahnya yang pucat namun kini tampak terganggu. “Sadarkah kau betapa berbedanya kau saat ini, Miharu?” katanya agak keras. “Kau tidak pernah peduli sebelumnya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Perkataan Miharu yang tadi sudah dirancangnya terhenti di kerongkongan. Dia menutup mulutnya, membiarkan pertanyaan ibunya menggantung cukup lama. Membayangkan sekilas mereka yang ditemuinya belakangan ini. Dia sendiri membenci bagaimana otaknya secara otomatis memutar ulang kejadian saat Floa menghalanginya menggunakan Versiglia pada Crown. Benarkah dia sudah berubah? Karena dia berjumpa dengan orang-orang itu? Karena dia berjumpa dengan Ilheus?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Seolah dapat membaca pikirannya, Fidela kembali bertanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;“Beritahu aku, apakah di hari aku mengutusmu untuk berada di sisi gadis itu, aku membuat kesalahan besar?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Miharu tidak bisa menjawabnya. Atau mungkin sesungguhnya dia bisa, tetapi takut menjawab.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Maka ibunya menghela napas panjang. “Kau tak akan pernah terbebas dari takdir yang mengikatmu denganku, Miharu!” desisnya marah. Wajahnya adalah campuran dari terluka dan gembira di atas penderitaan orang lain—penderitaan Miharu, segala hal yang membingungkan maupun bayangan memuakkan yang melanda pikirannya sekarang. “Sekarang, pergilah dari hadapanku. Sebaiknya jangan berpikir—atau berharap lebih banyak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-7874562572940259849?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/7874562572940259849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/04/glg-fragmen-puzzles-of-resemblance-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7874562572940259849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7874562572940259849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/04/glg-fragmen-puzzles-of-resemblance-2.html' title='GLG: Fragmen - Puzzles of Resemblance (2)'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-8529774714912163143</id><published>2011-04-12T17:26:00.004+07:00</published><updated>2012-01-09T15:27:09.144+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grand le gran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fragmen'/><title type='text'>GLG: Fragmen - Puzzles of Resemblance</title><content type='html'>Tangan Miharu menepis sulur besar terakhir yang menghalangi jalan. Seberkas kemilau putih samar menyambut pengelihatannya yang serasa sudah tumpul berkat berada di bawah permukaan tanah selama berjam-jam. Menyadari bahwa daratan tempatnya berpijak adalah dinding yang menjorok, letaknya sekitar dua meter di atas medan bawahnya, dia melompat. Mendarat mulus dengan bunyi daun-daun berkeresek yang tersebar menumpuk sepanjang ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Ruangan. Lumayan luas, berbentuk melengkung. Di pusatnya terdapat pilar cahaya putih terang yang sama dengan yang dilihatnya di aula gedung Basilika. Ke mana orang-orang selalu melompat ke tengahnya lalu menghilang. Berdiri menjulang hingga ke langit-langit yang tidak kelihatan karena tertutup dedaunan serta kegelapan. Pikirnya, pasti melalui perangkat itulah ibunya bepergian ke tempat ini setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekelilingnya, hampir tertutup rapat oleh sulur, dan akar, serta dedaunan namun masih sedikit nampak, adalah dinding bata putih yang kini berwarna kehijauan karena lumut. Keseluruhan lokasi itu sendiri, setelah diperhatikan baik-baik, terkesan mirip seperti altar yang dilupakan. Lantai tempat Miharu tengah berdiri nampak seperti benar-benar permukaan tanah, namun beberapa meter menuju pilar di pusat, permukaan lantai tertutup batuan halus yang sama-sama menghijau karena lumut.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Miharu berjalan beberapa langkah. Gesekan sepatunya dengan dedaunan menimbulkan gema. Dia tiba di permukaan yang berlantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang timur medan lingkaran terpahat sebuah patung ukiran wanita berukuran raksasa, yang dia yakin pernah dilihatnya dalam salah satu buku yang dipinjamnya dari perpustakaan besar—dan dia ingat betul siapa. Rupanya di balik punggung wanita itu juga terdapat apa yang kelihatannya seperti batang pohon yang lebih besar lagi. Miharu melangkah mendekat, dan ternyata apa yang dikiranya batang pohon itu merupakan salah satu yang terbesar dari tumpukkan akar yang menjulur dan menjadi satu—menyerupai dinding gelap kecoklatan saking besarnya, menyatu sedemikan rupa dengan sang patung. Miharu menghela napas lelah. Dia yakin sekarang bahwa tempatnya berada adalah Inti Pusat Magnadia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Siapa?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miharu mendongak kaget. Entah apakah beberapa jam berusaha mencari jalan di tengah sulur-sulur yang merapat membuat seluruh inderanya kebas, tetapi suara yang didengarnya barusan terasa begitu ganjil. Dalam artian tidak terlalu manusiawi dan membuatnya merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sosok mungil bergerak dari arah pinggir bawah pahatan, muncul dari balik gelap timbunan akar. Sesuatu, yang agak serupa dengan rasa takut, membuat Miharu bertahan di tempatnya berdiri dan membiarkan sosok itu sendiri yang menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak perempuan kecil. Ringkih. Mungkin umurnya kurang dari sepuluh tahun. Memakai seragam pendeta wanita berwarna merah menyala yang kebesaran. Kulitnya hampir sama putihnya dengan ibunya. Rambutnya berwarna abu-abu pucat, panjangnya tidak terkira hingga menimbulkan gesekan di lantai—dan masih memanjang hingga jarak setengah meter dari tubuhnya. Sepasang matanya berwarna merah muda menyala. Menatapnya kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miharu menahan napasnya sementara anak perempuan itu mendekat. Sesuatu dalam diri anak ini membuatnya ngeri. Dia ingin bergerak. Ingin sekali. Tetapi dia tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Siapa kau?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; Didengarnya pertanyaan itu lagi—langsung menuju benak, bersamaan dengan terbuka dan bergeraknya bibir si perempuan. Namun udara seperti tidak tersentuh oleh gelombang suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miharu menyipitkan mata seraya mencoba menjernihkan pikiran. Anak perempuan ini, dialah sang Perantara. Tidak ada orang lain di sini, dan tidak akan ada. Tetapi kenapa anak sekecil ini? Bukankah sang Perantara seharusnya sudah berumur... lebih dari tiga puluh tahun? Kalaupun benar anak ini adalah sang Perantara, maka mengapa dia dikelilingi oleh aura yang terasa begitu menyesakkan bagi manusia seperti Miharu, alih-alih Roh? pikirnya bertubi-tubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga semakin disadarinya pula kejanggalan dari tempat ini. Sebagai eurevail, Miharu bisa merasakan betapa sedikitnya Roh yang tinggal di dalam tempat ini—itupun hanya segelintir Roh tak bernama yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Bisa dirasakannya sebagian kecil ini ditekan oleh kekuatan lain. Tekanan yang sepertinya sama seperti aura yang menyelimuti sang Perantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan kecil itu menjulurkan tangannya, sementara Miharu masih berusaha mengerahkan segenap tenaganya untuk kembali bergerak. Dia sudah dekat sekali sekarang. Jemarinya yang kecil dan kurus menyentuh pipi Miharu. Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Aku tidak pernah melihat siapapun selain Ibunda di sini&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, katanya lagi-lagi dengan sensasi yang sama seperti sebelumnya. Miharu bisa merasakan tubuhnya sendiri kini gemetaran. &lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Apakah kau salah satu dari mereka?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; tanyanya lagi. &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Salah satu dari... anak yang tersesat?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga tatapan mereka bersirobok. Miharu dan sang Perantara, yang sepasang matanya tak lagi memandang kosong, melainkan menatap Miharu tajam. Dingin sentuhan jemarinya mengantar kedua mata Miharu menutup. Yang terakhir dilihatnya adalah sepasang mata si anak perempuan yang merah menyala, kemudian ujung-ujung bibirnya naik membentuk seulas senyuman berlesung pipi. Kemudian dia jatuh ke dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kedua matanya kembali membuka dan dilihatnya pemandangan lain, meskipun sedetik lalu dia masih yakin dalam keadaan tidak bisa bergerak seinci-pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya sepasang mata,” kata Floa pelan, duduk menghadap perapian. “Warnanya merah darah. Dia mengatakan sesuatu, tapi tak pernah bisa kuingat.” Miharu mengingat, dia pernah melihat gadis itu dalam keadaan yang sama persis. Di tenda Hiram. Wajahnya muram. Bayangan api menari-nari di bola matanya. Kemudian Floa menolehkan kepalanya. Bias cahaya membuat kedua matanya yang kecoklatan sekilas berwarna kemerahan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan berubah dalam sekejap. Warna merah memenuhi pandangan Miharu. Hawa panas menyergap di sekelilingnya. Sebuah mansion dilalap kobaran api. Begitu terangnya hingga malam bagaikan siang. Miharu melangkah mundur dan dia sadar bahwa dia sudah bisa bergerak kembali. Dia mengangkat kedua tangannya untuk memastikan, tapi kedua tangannya kotor berlumuran cairan merah lengket. Di hadapannya, entah sejak kapan, sesosok laki-laki berbaring kaku di lantai tak bergerak. Matanya terbuka. Sebuah pecahan kaca menancap di dadanya. Seorang anak perempuan berdiri di pojok ruangan. Menatapnya nyalang. Sesosok bayi menangis keras dalam gendongannya. Anak itu sendiri menangis. Sedetik kemudian dia berteriak nyaring, “Pembunuh!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata itu mengalir jatuh dari pipinya, turun ke dagunya, kemudian menetes menuju lantai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sentuh dia!” Miharu merasa seseorang menubruk tubuhnya dari samping. Mereka berdua jatuh bergulingan di tanah. Silau, Miharu berusaha menyipitkan matanya dari sinar matahari yang menghantamnya telak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan... sakiti dia! Aku tidak akan membiarkanmu!” sengal si gadis dengan kepala terbaring di dadanya. Kemudian gadis itu mendongak. Wajahnya yang bundar berkilau penuh tekad. Sekali lagi dalam pengelihatan yang bertubi-tubi, Miharu kembali menyaksikan sepasang mata yang berubah warna menjadi kemerahan. Air mata gadis itu jatuh di pipi Miharu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-8529774714912163143?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/8529774714912163143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/04/glg-fragmen-puzzles-of-resemblance.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8529774714912163143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8529774714912163143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/04/glg-fragmen-puzzles-of-resemblance.html' title='GLG: Fragmen - Puzzles of Resemblance'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-6507444106710072619</id><published>2011-03-26T15:50:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:26:55.393+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a world beyond the dead end'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fragmen'/><title type='text'>A World Beyond the Dead End - Prolog</title><content type='html'>&lt;b&gt;Syesha:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu yang namanya fobia? Kata orang, fobia artinya rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu hal atau sesuatu fenomena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catat: yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa maksudnya sesuatu ini harusnya bukan hal yang bisa sungguh-sungguh membuatmu celaka. Hanya tampak luarnya saja yang seolah-olah memaksamu untuk takut. Atau begitulah. Jangan tanya aku, sejujurnya aku sendiri baru mempelajari istilah ini beberapa bulan lalu, dan senang memakainya sampai sekarang—karena seperti yang barangkali sudah kauduga dari pembukaan ceritaku yang berbelit-belit ini: aku sendiri punya fobia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kata ini pastinya lebih mudah digunakan daripada menjelaskan ‘ketakukan yang tak jelas apa sebabnya.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, persetan dengan itu semua. Aku takut. Aku sangat takut, dan aku benci. Sampai-sampai rasanya aku tidak peduli kalau sebenarnya aku tidak punya cukup alasan untuk merasa begitu. Yang kubutuhkan hanyalah memposisikan diri sejauh-jauhnya dari sana. Seharusnya itu cukup. Tapi rupa-rupanya selain fobia yang menjadi-jadi ini, aku juga punya firasat. Tidak bercanda, walau kedengarannya mungkin agak melebih-lebihkan, tapi firasatku memang hampir selalu tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firasatku mengatakan bahwa ketakutanku yang satu ini berbeda dari fobia biasa. Bahwa memang ada sesuatu di sana. Sesuatu yang benar-benar bisa mencelakai orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada suatu hari, aku sadar bahwa firasatku tepat lagi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ted Stearne.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuang muka dan napas panjang. Sungguh deh, aku tidak mengerti kenapa Mr Fudley harus repot-repot mengabsen orang yang sudah jelas-jelas tidak akan ada di kursinya, seolah-olah Ted masih punya kemungkinan muncul terengah-engah dari balik pintu setelah resmi dinyatakan hilang oleh polisi dua bulan lalu. Atau mungkin dia pikir pembacaan nama itu bisa memberi efek dramatis yang bisa membangkitkan rangsangan semangat bagi murid-murid untuk mengikuti pelajarannya pagi ini. Yang jelas dia tolol kalau mengharapkan yang kedua. Sebab tidak ada remaja normal yang menyukai sarapan Aljabar pagi-pagi, ketika pikiran semua orang masih tertinggal dalam dunia di balik selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak diragukan lagi bahwa toh disebutnya nama Ted memang membuat kepala-kepala berputar ke arah tempat duduknya yang masih kosong. Kemudian—ah, ini bagian dari efeknya yang paling menyebalkan—beralih ke arahku. Sudah tiga bulan Ted menghilang. Kurasa mereka selalu berharap suatu hari nanti, kalau nama itu terus disebutkan lagi dan lagi, pada akhirnya aku akan meledak menangis tersedu-sedu. Tidak kuat lagi menahan kesedihan serta kecemasan yang menumpuk jadi satu. Atau apalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah. Pada akhirnya mereka cuma suka drama. Tidak satupun dari mereka yang benar-benar peduli akan apa yang sesungguhnya terjadi pada Ted. Mereka tahu bagaimana menghilangnya Ted sama sekali tidak wajar, lalu seharusnya air mataku akan menjadi konsumsi publik. Tapi kalau mereka pikir aku dan Ted seperti itu, maka mereka salah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku sendiri tidak mengerti kenapa aku begini. Semenjak Ted, pacarku, dinyatakan menghilang, yang kulakukan bukannya bersikap layaknya gadis malang yang terpukul. Aku bahkan tidak menangis, depresi, tampak kacau, berduka, dan sebagainya. Sebaliknya, aku bersikap seolah-olah aku baik-baik saja, lalu ketika interogasi yang mengganggu dari orang-orang sudah agak berkurang, aku mulai berhenti membicarakan Ted, lalu berlanjut sampai sekarang. Awalnya aku tidak sadar sudah bersikap seperti ini, namun kemudian aku meneruskannya secara sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tidak mengerti. Meski semua orang meyakinkan aku bahwa kami berpacaran, sebetulnya rasanya tidak seperti itu juga. Dia begitu pendiam, sedangkan aku apatis mengenai hal-hal semacam ini. Dia tahu aku menyukainya. Lalu kurasa dia juga menyukaiku. Tapi sejak awal tidak pernah terjadi hal-hal semacam itu di antara kami—tidak ada masa-masa pendekatan yang mendebarkan, tidak ada pernyataan cinta, tidak ada hari kencan pertama yang membuatku tidak bisa tidur di malam harinya—tidak ada. Aku hanya bicara dengannya sekali, dia balik bicara, kemudian kami jadi banyak bicara setelahnya. Lalu tanpa sadar kami mulai berjalan pulang bersama, dan jadi kebiasaan. Setelah itu semua orang mulai bilang kami berpacaran. Anehnya, tidak ada satupun dari kami yang mencoba menyangkal. Hal itu berlanjut selama berbulan-bulan hingga rasanya mulai aneh kalau tidak ada Ted. Aku mengatakan hal itu pada orangnya. Dia bilang dia juga sama. Lalu setelah itu entah bagaimana kami sampai pada kesepakatan non-verbal untuk menjalaninya. Pacaran itu, maksudku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah keadaannya sampai suatu hari dia menghilang tanpa jejak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar sekali. Aku tidak tahu bagaimana harus memikirkannya; dari sudut pandang mana, dengan perasaan seperti apa, atau apa yang kuharapkan darinya. Berbulan-bulan bersama Ted, mendadak terasa seperti mimpi yang tahu-tahu sudah berakhir tanpa menyisakan pertanda apa-apa untuk bisa dianggap sebagai kenyataan. Rasanya begitu membingungkan. Bukannya tidak mengharapkan Ted kembali, tapi semua ini juga terasa tidak nyata bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk melengkapi semua firasatku ini, menurut para saksi mata dia menghilang tepat di ujung jalan buntu itu. Yang sedari dulu selalu membuatku ketakutan tanpa sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja pikir, bagaimana caranya aku menjauhkan diriku sendiri dari pemikiran bahwa menghilangnya Ted mungkin berkaitan dengan adanya kebuntuan itu? Bahwa pada akhirnya jalan buntu yang selalu kutakutkan itu benar-benar ‘menelan’ Ted hidup-hidup? Merampas keberadaannya dari tengah-tengah kami seolah-olah dia tidak pernah ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu bagiku jalan buntu memang tidak pernah menjadi pertanda baik. Ia menggambarkan dengan persis bagaimana sesuatu diakhiri secara kasar. Layaknya penyelesaian yang tidak semestinya. Selalu ada yang salah dengan jalan buntu, setidaknya bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan buntu selalu membuatku takut, dan sekarang ia telah menghilangkan orang yang paling berarti bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-6507444106710072619?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/6507444106710072619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/world-beyond-dead-end-prolog.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6507444106710072619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6507444106710072619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/world-beyond-dead-end-prolog.html' title='A World Beyond the Dead End - Prolog'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-4827701313192907222</id><published>2011-03-10T19:41:00.002+07:00</published><updated>2012-01-09T15:23:47.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='songs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fangirling'/><title type='text'>Hello</title><content type='html'>My eyes are so glued to this boy lately.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-o38Ux6c-eDo/TXi4ihmai1I/AAAAAAAAAEo/8o1VP7T5280/s1600/onewhello2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" q6="true" src="https://lh5.googleusercontent.com/-o38Ux6c-eDo/TXi4ihmai1I/AAAAAAAAAEo/8o1VP7T5280/s320/onewhello2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(Please, oppa. Tell me how could someone so clumsy can yet becomes so charming.)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;...And I just&amp;nbsp;HAVE TO&amp;nbsp;copy-paste this part of lyrics, now that I like SHINee&amp;nbsp;a hella lots more&amp;nbsp;than before and these words strike right into my heart. (lol)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;"Naega jom sotuljin mollado"&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;(Eventhough I might be a bit clumsy)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;"Who knows ojjom urin jal dweljido molla"&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;(Who knows, maybe we may work out well)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-OMSxfcMw16Y/TXjBcVmhMhI/AAAAAAAAAEs/h9TcBBTGzFw/s1600/onewhello1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" q6="true" src="https://lh3.googleusercontent.com/-OMSxfcMw16Y/TXjBcVmhMhI/AAAAAAAAAEs/h9TcBBTGzFw/s320/onewhello1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Another one:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;"Saenggakhan daero modu irwojindan mal midoyo"&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;(Believe me when I say that everything will happen as you have wished)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&amp;nbsp;Oh oppa, the things you just sung can't be more precise. You know I really hope so! :'(&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;The&amp;nbsp;climax version of&amp;nbsp;the ones from before:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Geudae jigeumeun eoddeolji mollado"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(Eventhough I don't know how you feel right now)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Who knows uri duri"&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(Who knows the two of us)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;"Unmyong ilji molla"&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(It might be destiny)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;﻿(Credits to whoever taken and edited these wondrous&amp;nbsp;pics of Onew)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-4827701313192907222?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/4827701313192907222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/hello.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/4827701313192907222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/4827701313192907222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/hello.html' title='Hello'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh5.googleusercontent.com/-o38Ux6c-eDo/TXi4ihmai1I/AAAAAAAAAEo/8o1VP7T5280/s72-c/onewhello2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-8641647122886399992</id><published>2011-03-08T21:22:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:24:03.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='war with conscience'/><title type='text'>War With Conscience III</title><content type='html'>Me: It's hard being a writer. You&amp;nbsp;keep imagining something is gonna happen or something is not gonna happen. I'm being paranoid.&lt;br /&gt;Conscience: ...Mm-hmm. That's one&amp;nbsp;big contribution&amp;nbsp;to your insomnia problem.&lt;br /&gt;Me: My imagination kills me. And this also applies in my love problem.&lt;br /&gt;Conscience: I see. I&amp;nbsp;thought so.&lt;br /&gt;Me: I can't help but thinking that if this will be the case then it should be like this, it could be like this, it maybe like this... But when it comes to a happy imagination of me and him, it never comes true.&lt;br /&gt;Conscience: ....you must mean God is full of surprise.&lt;br /&gt;Me: No! It's more like a jinx! I CAN'T&amp;nbsp;think of&amp;nbsp;anything happy when it's about me and him! It will happen otherwise!&lt;br /&gt;Conscience: Then you're saying that you'd better imagine all bad things when it's about you and him?&lt;br /&gt;Me: ....That might work, but it will turn me into an emo.&lt;br /&gt;Conscience: I know. Just stop imagining about him. Stop daydreaming. Stop thinking anything about him.&lt;br /&gt;Me: How could I! That's what a girl in love does, whether she's a writer or not!&amp;nbsp;It's just writer usually puts something like that to the extreme levels.&lt;br /&gt;Conscience: ...have fun then.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-8641647122886399992?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/8641647122886399992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/war-with-conscience-iii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8641647122886399992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8641647122886399992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/war-with-conscience-iii.html' title='War With Conscience III'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3266940283331470058</id><published>2011-03-05T16:35:00.007+07:00</published><updated>2012-01-09T15:24:25.416+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang bacaan'/><title type='text'>About The Books I Read and Books I Want To Read Lately</title><content type='html'>Mungkin ini penyakit yang diderita setiap kutu buku&amp;nbsp;pelanggan setia Gramedia. Setiap kali ke sana, rasanya mendadak jadi lupa apa yang sebetulnya mau dicari. Begitu pulang dengan setumpuk buku, baru sadar bahwa baru aja ngehabisin uang buat buku-buku yang ga ada dalam list target.&amp;nbsp;Akibatnya jadi kudu pergi ke&amp;nbsp;toko buku lagi buat beli buku yang sebetulnya dicari, tapi begitu menginjakkan kaki di Gramedia, hal serupa terjadi&amp;nbsp;lagi, terulang lagi, lagi, dan lagi, again and again, and again, and again layaknya siklus, terjerat&amp;nbsp;lingkaran setan. -_-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini rasanya aku memang ngehabisin banyak banget duit buat beli buku, meski rata-rata yang kubeli ga bikin menyesal sih (kecuali yang satu itu lho yang sampai sekarang belum kuhabisin). Jadi supaya lain kali hal ini ga terjadi, kupikir ada baiknya mencatat buku-buku yang pengen kubeli serta serial-serial yang lagi kuikutin.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manga yang lagi dikoleksi dan belum tamat:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&amp;nbsp;&lt;u&gt;Alice Academy&lt;/u&gt; (entah kenapa Elex ngimpornya lama banget, padahal di Jepang sana ceritanya udah jauh. Untunglah ada manga online kalo enggak makan hati nungguinnya... -__-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&amp;nbsp;&lt;u&gt;Pandora Hearts&lt;/u&gt; (hampir sama lamanya kayak Alice Academy, bedanya, progress ceritanya mungkin sedikit lebih cepat jadi sebanding lah sama waktu terbitnya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&amp;nbsp;&lt;u&gt;Beyond the Beyond&lt;/u&gt; (lebih lama lagi. Tapi kayaknya ini manga udah mau tamat. Udah ngikutin dari tahun jebot.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&amp;nbsp;&lt;u&gt;Spiral: The Bonds of Reasoning&lt;/u&gt; (malah cepet banget terbitnya, mungkin karena di sana udah tamat. Gaya penceritaannya--atau penerjemahnya?--rada boring. Tapi alur dan konfliknya awesome. Awalnya sempat nyesal terlanjur ngoleksi, eh ternyata makin ke belakang makin keren. Plus banyak yang cakep. XD XD)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&amp;nbsp;&lt;u&gt;Manga-manga one-shot bikinan Takamiya Satoru&amp;nbsp;atau Taamo. Atau mangaka mana saja yang kusuka.&lt;/u&gt; :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang &lt;b&gt;Novel&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;&lt;u&gt;Howl's Moving Castle&lt;/u&gt;. Mencari seri berikutnya yang konon berjudul: &lt;u&gt;Castle In The Air&lt;/u&gt; dan &lt;u&gt;House of Many Ways&lt;/u&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;Sama-sama buatan Diana Wynne Jones tapi lebih jadul: &lt;u&gt;The Worlds of Chrestomanci&lt;/u&gt; series. Tanpa sengaja langsung baca seri ketiganya: &lt;u&gt;Charmed Life&lt;/u&gt;. Dua buku sebelumnya berjudul &lt;u&gt;The Lives of Christopher Chant&lt;/u&gt; dan &lt;u&gt;Conrad's Fate&lt;/u&gt;. Berikutnya berjudul: &lt;u&gt;The Magicians of Caprona&lt;/u&gt;, &lt;u&gt;Witch Week&lt;/u&gt;, dan &lt;u&gt;The Pinhoe Egg&lt;/u&gt;. Rasanya belum semua diterbitin. Sial. :/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;&lt;u&gt;Dragonkeeper&lt;/u&gt; buatan Carole Wilkinson. Buku keduanya berjudul &lt;u&gt;Garden of the Purple Dragon&lt;/u&gt;. Ketiganya berjudul &lt;u&gt;Dragon Moon&lt;/u&gt;. Ga bakal tenang sebelum beli semua serinya. Omonaaaaa... x_x&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;&lt;u&gt;Percy Jackson series&lt;/u&gt;, &lt;u&gt;Bartimeus Trilogy&lt;/u&gt;, dan &lt;u&gt;Narnia&lt;/u&gt;. Semua penulis fantasi PASTI baca ini. DUH! Berikan saya sepuluh juta dan semua seri novel-novel ini bakal langsung saya beli. Hueee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;&lt;u&gt;Novel teenlit ga berseri apa saja buatan Meg Cabot&lt;/u&gt;.&amp;nbsp;Bagus kalau&amp;nbsp;ada aroma fantasy di dalamnya. Avalon High-nya keren banget sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;&lt;u&gt;Nocturnal&lt;/u&gt; buatan Poppy D. Chusfani. Sebetulnya agak kapok gara-gara baca Bookaholic Club buatannya (yang ewww itu). Tapi berhubung banyak yang rekomen, mungkin sekali worth reading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;&lt;u&gt;Buku romance-romance klasik yang sampulnya kecoklatan itu&lt;/u&gt;, yang baru belakangan ini banyak terbit di Gramedia. Kira-kira Edgar Allan Poe bagus ga ya? (termakan promosi ga langsung Ciel Phantomhive)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;Oh yeaaahhh hampir lupa: &lt;u&gt;Diary of the Wimpy Kid&lt;/u&gt;. Sejauh ini sudah ngumpulin sampai seri ketiganya. Berikutnya yang &lt;u&gt;Dog Days&lt;/u&gt;. Harus beli. Ringan dan kocak. Enak dibaca sambil ngemil (ups).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;&lt;u&gt;Sabriel&lt;/u&gt; buatan Garth Nix. Lanjutannya berjudul &lt;u&gt;Lirael&lt;/u&gt; dan &lt;u&gt;Abhorsen&lt;/u&gt;. Gaya penceritaannya agak boring. Progressnya datar. Tapi overallnya termasuk salah satu novel fantasy paling bagus yang kubaca (errr tapi itu mungkin karena aku termasuk jarang baca novel fantasy--lebih banyak baca manga *plak*).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Sebelum lupa, aku juga harus beli satu novel berbahasa inggris buat pelajaran Reading. Sama sekali ga keberatan. Kedengarannya challenging membaca novel fantasy dalam bahasa inggris. Harus milih yang bagus. Yang terkenal. Tapi ga boleh yang sudah difilmkan. Khukhukhu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3266940283331470058?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3266940283331470058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/about-books-i-read-and-books-i-want-to.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3266940283331470058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3266940283331470058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/about-books-i-read-and-books-i-want-to.html' title='About The Books I Read and Books I Want To Read Lately'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-5951575595170185440</id><published>2011-03-03T19:29:00.003+07:00</published><updated>2012-01-09T15:24:46.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Tentang Orang-Orang Yang Ingin 'Mati'</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-aAb9_F3-ClQ/TW-JgfABfSI/AAAAAAAAAEg/xgX75QMcoBA/s1600/sui.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" l6="true" src="https://lh6.googleusercontent.com/-aAb9_F3-ClQ/TW-JgfABfSI/AAAAAAAAAEg/xgX75QMcoBA/s320/sui.png" width="260" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja aku bisa dengan mudahnya mengatakan, "Hidupku menderita. Ingin mati saja secepatnya." atau "Mau bunuh diri saja." persis seperti orang-orang itu. Apa mereka tidak pernah berpikir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa persisnya yang mereka dapatkan kalau mereka bunuh diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan tetap tidak akan datang sekalipun mereka sudah mati. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah orang-orang mati, kemana mereka pergi, atau seperti apa semuanya di alam setelah kehidupan, dan memang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan (dan serdadu-serdaduNya juga). Tapi bukankah kata mereka hanya ada satu tempat yang disediakan untuk jiwa-jiwa yang mencabut sendiri nyawa mereka tanpa persetujuan Tuhan, yaitu &lt;i&gt;neraka?&lt;/i&gt; Kalaupun hukuman itu tidak benar adanya bagi orang-orang yang bunuh diri, lalu bukannya masih ada kemungkinan mereka akan tetap masuk neraka karena dosa-dosa mereka selama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi untuk apa&amp;nbsp;orang repot-repot&amp;nbsp;membuang diri dari kehidupan yang tidak bahagia kalau mereka cuma akan berakhir di neraka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Atau ada lagi tujuan mereka bunuh diri dan ingin mati selain itu. Barangkali... karena mereka pikir dengan cara mati maka mereka akan terbebas dari rasa sakit hati mereka yang patah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin setelah kita mati semua orang yang membuat kita terluka akan turut mengalami duka serta penyesalan yang mendalam. Tapi kemudian, apa yang datang dari itu semua? Bukankah ini berarti alasan bunuh dirimu sama dengan &lt;i&gt;balas dendam?&lt;/i&gt; Yang tersisa setelah kau membalas semua orang yang 'jahat' padamu dengan kematianmu&amp;nbsp;hanya&amp;nbsp;kesepian yang harus ditanggung jiwamu untuk selamanya. Mereka mungkin menyesal. Mereka mungkin minta maaf. Mereka mungkin akan tersadar betapa selama ini mereka tidak cukup baik terhadapmu. Bahkan mereka mungkin baru tersadar betapa selama ini mereka mencintaimu. Itu mungkin apa yang kauinginkan. Tapi kau tidak bisa kembali pada mereka, merangkul mereka, dan mengajak mereka mengulang kembali semuanya dari awal. Karena kau sudah mati. Kemudian waktu akan menghapus semuanya dan jejak kehidupanmu memudar begitu saja dari ingatan mereka. Di alam sana (yang mungkin sekali adalah neraka), kau tiba-tiba tersadar bahwa kematianmu&amp;nbsp;sebetulnya sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang benar-benar membuatku tak habis pikir dengan orang-orang semacam ini, apa mereka tidak pernah berpikir betapa dengan bunuh diri saja mereka sudah menyia-nyiakan kehidupan mereka sendiri? &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Aku, setidaknya, selalu percaya bahwa kita manusia hidup untuk suatu tujuan tertentu: untuk bahagia. &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Kalau hidup adalah sebuah cerita, maka kita sebagai tokoh utamanya akan melewati berbagai kesukaran&amp;nbsp; serta penderitaan hidup. Dengannya, kita berkembang. Dengan berkembang, kita bertambah kuat. Dengan bertambah kuat, suatu hari sang tokoh utama akan mencapai klimaks kehidupannya dan memenangkan kebahagiaan yang selama ini dicari-carinya. Pada dasarnya setiap manusia hidup diberikan kesempatan atau pilihan yang sama, meskipun&amp;nbsp;batas waktu yang diberikan berbeda-beda. Kemudian setelah waktu itu habis, kita mati. &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Untuk meraih kebahagiaan sebelum jatah waktu&amp;nbsp;kita&amp;nbsp;habis, itulah yang dinamakan kehidupan. &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Bukankah kalau kau menyerah dalam prosesnya, secara otomatis kesempatan yang diberikan padamu sia-sia? Untuk apa kau hidup kalau pada akhirnya kau cuma akan bunuh diri? Hidup adalah sebuah proses yang hampir keseluruhannya terdiri atas penderitaan dan kesukaran. Karena kau mengenal kesedihan, kau&amp;nbsp;juga mengenal kebahagiaan.&amp;nbsp;Jadi apa untungnya menjalani keseluruhan dari hidup itu sendiri jika kau menyerah di tengah jalan? Bukankah itu berarti&amp;nbsp;kau hidup sebentar&amp;nbsp;hanya untuk menderita, dan lebih menderita lagi ketika mati? Kalau begitu, bukannya akan lebih baik jika kita memang tidak pernah hidup saja? &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Aku bersedih, aku sadar hidupku&amp;nbsp;tengah berada dalam fase-fase yang tidak menyenangkan, tetapi karena aku sudah diberikan kesempatan untuk hidup--untuk bahagia, aku tidak mau kalah. Aku ingin percaya bahwa aku cukup pintar untuk melihat menembus tipuan licik si 'bunuh diri' yang sebetulnya tidak menjanjikan apa-apa.&amp;nbsp;Dia hanyalah bentuk&amp;nbsp;pelarian yang tidak akan ada ujungnya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Hidup memang kejam. Dan ternyata setelah menulis dan membaca kembali semua ini, aku menemukan kekejaman hidup yang paling kejam. Yakni sekalipun hidup itu kejam, kau tidak diberikan pilihan untuk lari darinya. Kau harus menjalaninya, sampai akhir. Dan kau bisa memilih untuk berjuang mati-matian demi sebuah 'happy ending', atau menjadi lemah seiring prosesnya yang menyakitkan kemudian berkembang menjadi pribadi yang pasrah menerima takdirnya--lalu menjadi tokoh sampingan bagi kehidupan orang lain. &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-5951575595170185440?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/5951575595170185440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/tentang-orang-orang-yang-ingin-mati.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5951575595170185440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5951575595170185440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/03/tentang-orang-orang-yang-ingin-mati.html' title='Tentang Orang-Orang Yang Ingin &apos;Mati&apos;'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-aAb9_F3-ClQ/TW-JgfABfSI/AAAAAAAAAEg/xgX75QMcoBA/s72-c/sui.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-8023994341100930551</id><published>2011-02-27T14:02:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:25:07.181+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komedi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Yang Tidak Pernah Terkabul</title><content type='html'>(Disadur dari suatu komik strip di suatu tempat yang ga bisa diingat.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu pagi kau terbangun. Karena pagi itu cerah, kau jadi terpikir untuk lari pagi. Kau bergegas mandi,&amp;nbsp;memakai&amp;nbsp;setelah olahragamu yang terbaik,&amp;nbsp;mengenakan sepatu ketsmu, kemudian membuka pintu menuju dunia luar yang dipenuhi harumnya embun di atas dedanunan,&amp;nbsp;semilir angin sejuk, serta disinari cahaya lembut matahari-setengah-bangun. Cuacanya sempurna, katamu pada diri sendiri. Lalu mulailah kau berlari pelan menuju taman. Sesampainya di sana&amp;nbsp;baru kausadari ternyata jalanan agak becek. Seingatmu, semalam hujan memang turun gerimis. Maka kau pun berdoa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga aku tidak jatuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lalu beberapa langkah ke depannya, kau terpeleset dan jatuh dengan bunyi benturan badan serta pekik kesakitan&amp;nbsp;yang pastinya didengar semua orang di penjuru taman yang kini mulai ramai. Dan benar saja, di sekelilingmu sudah berkumpul banyak orang. Ada yang menunjuk-nunjuk, ada pula yang tertawa. Rasa malu menguar dari pori-pori kulitmu dalam bentuk uap panas yang merambati wajah. Maka kau pun berdoa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga gebetanku tidak ada di sini."&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali detik itu juga tertangkap olehmu penampakkan seorang remaja laki-laki jangkung dan tegap di antara kerumunan. Wajahnya yang tampan menatapmu dalam ekspresi&amp;nbsp;ruwet yang sukar diterjemahkan akan berujung pada reaksi macam apa. Padahal selama ini pikirmu kau sudah membuatnya cukup terkesan pada dirimu hingga tingkatan tertentu, meskipun rasanya dia tidak bisa memandangmu sebagai lebih dari sekedar&amp;nbsp;perempuan standar. Jantungmu mencelos, rona merah di wajahmu semakin jelas. Putus asa, kau pun berdoa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga&amp;nbsp;setidaknya ini tidak membuatnya berubah pikiran tentang aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu detik itu juga kau terkejut mendapati gebetanmu melangkah menerobos kerumunan. Diulurkannya tangan kanannya padamu seraya berkata sambil menyeringai, "Kau kelihatan imut ketika jatuh." Dengan tangan gemetar saking tidak percayanya, kau menerima bantuan itu. Percaya tidak percaya, semenjak kejadian kecil itu kalian berdua jadi lebih akrab. Dia jadi sering menelponmu, mengirim SMS padamu, mengunjungimu sewaktu-waktu. Kalian pun resmi berpacaran, yang sampai detik ini masih agak sulit kaupercayai. Sampai suatu&amp;nbsp;hari dia mengajakmu berkencan di taman waktu tempo hari.&amp;nbsp;Berdua, kalian berjalan bersisian. Tangannya di pinggangmu. Kepalamu bersandar di dadanya. Kebahagiaan meletup-letup di dadamu bagaikan parade kembang api tahun baru yang susul-menyusul tiada hentinya. Kau pun berdoa, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga segalanya tidak akan pernah berubah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja kekasihmu mengajak duduk di sebuah bangku panjang di tepi kolam. Kau duduk, bertanya-tanya mengapa kekasihmu kembali menampilkan sebuah ekspresi ruwet tak&amp;nbsp;terbaca yang sama&amp;nbsp;seperti waktu dia menolongmu bangun hari&amp;nbsp;itu. Tak lama sebelah tangannya keluar dari saku celananya, menggenggam sebuah kotak kecil berselimut beludru yang rasa-rasanya bisa kautebak apa isinya. Kau menahan napas. Dia melamarmu. Kekasihmu mengajakmu menikah dengannya. Kau hampir pingsan kala dia memintamu, tetapi susah payah kau sukses memaksa dirimu sendiri menjawab, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tengah berdiri bersama kekasihmu di muka gereja, tersenyum malu di antara tawa, ledekan, dan ucapan&amp;nbsp;selamat berbahagia sanak saudara dan kerabat. Lonceng berdentang. Kelopak bunga berjatuhan layaknya hujan. Hari itu kau tampak cantik mengenakan gaun putih berenda-renda. Kekasihmu terlihat seperti bertambah berkali-kali lipat ketampanannya dengan setelan jas hitam. Dikelilingi sukacita orang-orang yang kausayangi, serta membayangkan hidup baru bersama kekasihmu--yang kini resmi menjadi suamimu, wajahmu bersinar oleh kebahagiaan. Sepenuh hati kau pun berdoa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga ini bukan mimpi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kelopak matamu membuka. Langit-langit kamarmu menyambut datangnya pengelihatanmu di dunia nyata. Jam wekermu tampaknya sudah&amp;nbsp;lelah berdering-dering sampai serak. Dengan kasar kausambar dia dari tempatnya berdiri, matamu melotot melihat kabar yang dibawakannya. Kau bangun kesiangan. Telat setengah jam. &lt;i&gt;Sialan&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;kutukmu dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*End*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-8023994341100930551?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/8023994341100930551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/yang-tidak-pernah-terkabul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8023994341100930551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8023994341100930551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/yang-tidak-pernah-terkabul.html' title='Yang Tidak Pernah Terkabul'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-87051324790937991</id><published>2011-02-22T18:23:00.005+07:00</published><updated>2012-01-09T15:25:24.165+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grand le gran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fragmen'/><title type='text'>(Before Revised) - Grand Le Gran Chapter 1: A Way To Go</title><content type='html'>Previously: &lt;a href="http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/grand-le-gran-prolog-revised.html"&gt;Prologue&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[9212; Waldheim; Falis Mine] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyingkir dari situ! Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah teriakkan memenuhi lorong goa tempat tiga orang sedang berdiri menunggu. Datang dari arah cabang lorong sebelah tenggara, diikuti beberapa kali getaran hebat, kemudian goncangan yang semakin lama semakin keras. Hanya butuh beberapa detik berikutnya sebelum meraka sadar bahwa mereka berada dalam bahaya total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kyaaa!” pekik salah satunya, seorang gadis bertampang lembut serta berambut ikal panjang keperakkan. Kakinya dijejakkan kuat-kuat ke tanah berbatu, menahan goncangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ap-apa itu...?” ditanyakan oleh Crown Truvelanth, memperhatikan arah sumber keributan dengan gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupanya tak butuh lama untuk menjawab pertanyaan itu. Seorang gadis lain berlari mendekat dari titik kejauhan. Rambut pirangnya yang diikat dua melambai-lambai liar mengikuti langkah-langkah lebar larinya, seakan tertiup angin topan. Matanya mendelik panik, wajahnya pucat bersimbah keringat. Begitu melihat ketiga rekannya berdiri terpaku dengan mulut menganga menyaksikan keadaannya, dia berseru lebih keras dari sebelum-sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“APA LAGI YANG KALIAN TUNGGU, ORANG-ORANG DUNGU?! KUBILANG LARIIIIII!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menjadi jelas sepersekian detik kemudian setelah gema teriakkannya menguap menghilang. Hanya beberapa meter di belakangnya, tepatnya muncul dari tikungan tak lama kemudian, adalah sesosok makhluk asing berukuran empat orang manusia ditumpuk ke atas. Berwarna cokelat kehitaman. Tampak mengerikan seperti singa dengan badan gorila berselaput. Makhluk itu mengaum membuka rahang bawahnya, namun alih-alih bagian dalam mulut, yang terlihat adalah ruang gelap berkabut keunguan mirip distorsi kegelapan. Lalu makhluk itu melolong hebat, panjang dan berhasil membangunkan setiap orang yang terlanjur terpesona melihat sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Spirits—makhluk apa yang kaubawa itu, Rosa?!” bentak si gadis berambut perak begitu Rosa hampir menyamai langkah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang membawanya?!” protes Rosa dari belakang mereka, terengah-engah. “Dia muncul begitu saja selagi aku membungkuk mengumpulkan rumput Falis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu kau ceroboh, membiarkan makhluk ini mengendap-endap di balik punggungmu tanpa ketahuan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana bisa aku mengetahuinya! Kau pikir aku ini apa, Nona Cenayang?! Kalau kau punya kemampuan itu, kenapa nggak kaugunakan saja sekarang untuk mencari tahu apa yang harus kita lakukan supaya bisa terbebas dari kejaran makhluk ini?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown menggeram. “Berhenti bertengkar, Rosa, Chorda... Simpan napas kalian untuk berlari,” gerutunya sambil mengernyit mengingat-ingat jalan keluar, bukan pekerjaan sambilan yang mudah dilakukan dalam keadaan berlari-lari panik. Kemudian sekonyong-konyong dia teringat sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar... Mana Floa?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tidaaaaaaaaaaaak... Lagi-lagi!” pekik Chorda nelangsa, tiba-tiba mengerem larinya. “Floa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seberapa jauhnya di belakang mereka, si makhluk asing telah menunda pengejarannya. Sudut-sudut mulutnya yang berbulu membentuk sebuah seringai kelaparan, selagi dia bergerak perlahan mendekati sebuah sosok mungil yang tersudut di bawah celah antara dua batuan besar. Gadis itu mengerut ketakutan, hampir menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Floa!” seru Chorda lagi. “Lari sekarang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh,” sahut Rosa, agak lebih kalem. “Dia tak mungkin bisa lari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi dia berlari menyongsong si makhluk, menarik keluar sepasang knuckles baja dari saku gaun pendek berenda yang dipakainya, lalu memutarnya beberapa kali di udara. Hanya dalam sekejap mata kedua benda itu telah terpasang rapi di atas buku-buku jarinya, dan lagi-lagi tanpa basa-basi—gadis itu melompat, berhasil mendaratkan tinju di pipi kanan sang makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berani-berani menyentuhnya, monyet besar!” katanya bengis, memberikan bonus tendangan di pipi kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua bola mata Chorda nyariss menggelinding keluar dari kantongnya. “Astaga! Salah satu keputusan paling pintar yang pernah dibuatnya, kakakku itu...” ujarnya cemas sambil menggigit bibir bawahnya. “Apakah dia tidak akan pernah berpikir sebelum menerjang siapapun?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...yang bukan merupakan pertanyaan terbesar abad ini,” komentar Crown datar, menggeleng-gelengkan kepala takjub lalu mengalihkan perhatiannya kepada yang lebih memerlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Floa!” panggilnya, tergopoh-gopoh mendatangi si gadis yang kelihatannya membeku saking ngerinya, sementara perhatian si makhluk disibukkan oleh Rosa. “Kau tidak apa-apa...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu berjengit mendengar suaranya seperti disiram air dingin. Dia menoleh. “C-C-Crown...” ucapnya terbata-bata, “a-a-a-aku tersandung dan... tahu-tahu di-di-dia sssudah... ada di belakangku...” Matanya mulai berkaca-kaca, tampaknya seperti bakalan meleleh kapan saja dia mencapai puncaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu,” kata Crown buru-buru, tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa masih bergidik, pandangannya tak sedikitpun terlepas dari duel Rosa melawan si makhluk yang tengah berada dalam posisi tak imbang. “T-t-tapi... kalau sampai terjadi sesuatu pada Rosa...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, lihat baik-baik Floa.” Crown mengarahkan ibu jarinya ke belakang tempat pertempuran sedang berlangsung. “Apakah menurutmu dia kelihatan seperti...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebuah benturan keras memaksa sisa perkataannya masuk kembali ke kerongkongan. Sosok Rosa yang berkuncir dua berkelebat melintas tak seberapa jauhnya di atas mereka, menabrak dinding berbatu dengan bunyi yang bahkan lebih keras daripada benturan sebelumnya, lalu merosot jatuh dengan sebuah erangan kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rosa!” Floa menjerit, bergegas menghampirinya. Gadis itu mendesis menahan sakit, susah payah mendongak menatap si makhluk dengan penuh kebencian. Yang ditatap memamerkan giginya seolah sedang menyeringai senang. Dari posisi tangannya yang tengah menyiku, dapat disimpulkan bahwa dia mengibaskan lengannya untuk menghentikan aksi-seorang-diri Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya aku terlalu cepat mengambil kesimpulan,” tukas Crown lagi, mulai mengamati makhluk setengah berbulu di hadapannya seolah memperlajarinya. “Baik-baik saja, Rosa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat jeda sebelum Rosa mampu menjawab. “...baik-baik-saja-kepalamu!” ujarnya dengan gigi bergemeletuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelahnya Floa mulai menangis. “Maaf... ini salahku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“JANGAN TANGISI AKU, IDIOT! AKU BELUM MATI!” bentak Rosa, memukul belakang kepala gadis itu lumayan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown mencibir. “Well, setidaknya kau masih punya cukup energi untuk marah-marah dan memukuli orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam!” seru Rosa lagi, akhirnya kembali berdiri meski dia sempat meringis memegangi pinggangnya. “Jangan hanya berdiri di sana dan mencela saja—Tuan Brilian. Buat dirimu berguna sebelum makhluk itu menyerang lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan merespon perkataan barusan, si makhluk meraung keras sambil memukul-mukul dadanya sendiri dengan lagak mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mampuslah kita kali ini!” rengek Chorda dari belakang mereka. Wajahnya pucat oleh rentetan kejadian yang disaksikannya barusan. “Apakah... apakah kita akan mati di sini...? Oh Spirits, padahal aku hanya ingin lulus...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapannya, sebuah pikiran terlintas di benak Crown. Dia membelalakkan matanya sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak... Kupikir kita hanya perlu menghabisinya, itu saja,” tukasnya pendek sementara tatapannya kembali tertuju pada si makhluk, lebih seperti antusias daripada ngeri. Nyengir. “Bagaimana? Toh sepertinya dia tak terlalu cerdas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa mengangkat alis, meliriknya. Lalu mereka bertukar pandang, dan sekejap saja Rosa merasa dirinya memahami kemungkinan yang ditawarkan Crown. “Hal paling super yang kau ucapkan hari ini, Jenius,” kata Rosa menyetujui, kembali memasang kuda-kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah... kalian pikir kita akan baik-baik saja melawannya...?” tanya Floa dengan suara bergetar lemah, mengamati si makhluk yang kini mulai bergerak mendatangi mereka dari atas ke bawah. Dia bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Rosa maupun Crown meliriknya, lalu sama-sama mengangguk meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu dulu!” sela Chorda dari belakangnya, menunjukkan tanda-tanda berkeberatan. “Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran kalian orang-orang jenius, tapi aku tidak yakin aku bersedia mempertaruhkan kepalaku untuk sesuatu yang seperti ini sementara seharusnya kita sedang menjalani ujian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rosa meliriknya dengan pandangan mengejek yang sangat menyebalkan. “Takut? Apa boleh buat, toh tidak ada yang memaksamu tinggal, Dik. Kau boleh kabur kalau memang itu yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chorda mendelik—sepertinya sang kakak telah menyerang bagian perasaannya yang paling sensitif. “Kabur, katamu...?” geramnya. “Tidak akan pernah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ribut—awas dia datang!” teriak Crown mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup lama menilai calon mangsanya, si makhluk setengah singa menerjang dengan ketangkasan luar biasa yang tidak digunakannya sebelum ini. Dia meraung pendek sambil mengayunkan sebelah tangan raksasanya yang menggembung oleh otot—lurus ke arah mereka. Namun arah serangannya dapat dibaca, dengan segera Crown mengantisipasinya. Memejamkan mata berkonsentrasi, ia menggumamkan inkantasi dalam Versiglia—bahasa Spirits. Pancaran cahaya putih membentengi posisi mereka berempat. Tinju si makhluk terpatah di udara, dan dia meraung marah, mulai memukul-mukul secara membabi buta—yang terus digagalkan oleh dinding tak kasat mata dengan tangan terangkat Crown sebagai penahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengernyit memprotes, memandang ketiga rekannya yang diam saja. “Asal kalian tahu, aku tak bisa begini sepanjang waktu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa mendecakkan lidah. “Tak perlu kauberitahu, Tuan Brilian,” katanya pendek, langsung mengepalkan tangan untuk menyerang balik. Sang makhluk mengibaskan tangan layaknya mengusir lalat begitu melihatnya lagi, tapi Rosa sudah belajar dari kesalahannya sebelum ini—dia bergerak gesit ke bawah tangannya, kemudian menghantamkan kepalan tangan telak ke rahang bawahnya. Si makhluk terhuyung mundur, tampak kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahu rasa kau!” kata Rosa, menjulurkan lidahnya. Entah bagaimana si makhluk terlihat merespon dengan mengeluarkan raungan marah untuk yang kesekian kalinya. Berniat membalas, dia menerjang lagi. Begitu berada dalam jarak jangkau, dia mengatupkan tangannya seakan hendak meremukkan Rosa dengan kedua tangannya, tapi lagi-lagi Rosa berkelit lebih cepat. Muncul tiba-tiba di belakang si makhluk, dia menendang kepalanya keras sekali hingga terdorong ke dinding tak kasat mata Crown, kemudian terpantul dari sana dan dengan ukurannya yang besar, merosot menabrak dinding gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oi hati-hati!” protes Crown lagi, mengkhawatirkan langit-langit gua yang bergetar oleh sebab interupsi barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, pembalasan memang manis,” komentar Rosa, menepuk-nepukkan kedua tangannya dengan mimik puas. Si makhluk meraung lagi, meski kali ini lebih terdengar sebagai tanda-tanda kelemahan. Dia mencoba bangkit kembali tapi rupanya tidak cukup dengan sekali usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya dia tetap di sana.” Chorda maju. Hampir serupa dengan yang dilakukan Crown—dia menutup mata, membaca inkantasi sambil meggerak-gerakkan kedua tangannya membentuk simbol tertentu. Bola-bola api bermunculan dengan bunyi ‘pop’ di hadapannya. Chorda membuka mata, ekspresinya dimantapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heahhhhh!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola-bola api itu menembus dinding Crown dengan mulus ketika dilemparkan, kemudian beranjak mengelilingi si makhluk, berpusar, dan meletup menyelimutinya dengan selubung api menyala. Floa menahan napasnya, hatinya sedikit tergetar menyaksikan pergulatan antara si makhluk yang kini tidak berdaya dan sihir mematikan Chorda. Dia merasa ingin melakukan sesuatu untuk mengakhiri penderitaan si makhluk secepatnya, tapi tubuhnya bergetar begitu hebat hingga dia tak tahu apa yang bisa dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown menurunkan tangannya sedikit. Dinding sihirnya beriak, mulai menipis. “Kita berhasil...?” tanyanya, agak-agak kurang percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi sesaat kemudian sama sekali tidak terduga. Si makhluk melepaskan sebuah pekikan yang memekakkan telinga, sejenak berkelonjotan seperti orang ayan. Lalu tahu-tahu saja kedua tangannya menerobos selimut api Chorda, menghancurkannya menjadi percikan-percikan kecil yang segera saja jatuh ke tanah dan menghilang. Makhluk itu berdiri, menatap keempat anak yang begitu sulit dikalahkannya dengan penuh dendam. Dia membuka mulutnya, memperlihatkan lubang pusaran distorsi kehitaman di dalamnya, dan melepaskan sebuah raungan berefek luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya hitam keunguan dalam jumlah membutakan merebak memenuhi ruang pandang, memecahkan dinding pelindung Crown hingga berkeping-keping. Floa bisa mendengar teman-temannya menjerit sementara dirinya sendiri terdorong oleh hempasan kerasnya, merosot membentur bebatuan. Pemandangan yang tersingkap ketika gumpalan cahaya itu memudar bahkan lebih mengerikan daripada sebelumnya. Sang makhluk kembali berdiri tegak, tubuhnya diselimuti oleh cahaya berwarna serupa—tipis dan bergelombang. Warna matanya berubah merah. Sedangkan ketiga temannya semua terkapar tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown jatuh di tempat, namun pecahnya dinding sihirnya sendiri memberinya cukup banyak pengaruh kendatipun ia bisa bertahan dari serangan tadi. Chorda terkapar dengan lengan penuh luka tergores lantai berbatu, namun ia masih bisa mendongak. Rosa, yang tadinya sudah terluka dan berada di luar dinding pelindung Crown adalah yang kondisinya paling buruk. Gadis itu pingsan, tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera siuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang makhluk kembali meraung, memukul-mukul dadanya sendiri dengan murka. Dia mengatupkan giginya, menyeringai bengis. Air liur berjatuhan dari sudut mulutnya. Dia memandang berkeliling seakan memilih korban pertamanya. Pandangannya jatuh pada sosok Rosa yang berada paling dekat serta tidak beruntung karena sedang tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak... Rosa!” jerit Floa, bergerak merangkak untuk menyelamatkannya dari si makhluk yang telah melangkah mendekat. Salahnyalah semua ini terjadi. Jika saja tadi ia berlari sedikit lebih cepat, mungkin mereka sudah selamat sampai di luar gua... Tapi, Floa membatin sesak, dia terlalu bodoh, pengecut, dan tidak berguna. Berlari tidak sanggup, membantu sahabat-sahabatnya bertarung juga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Floa, jangan dekati dia! Terlalu berbahaya!” perintah Crown, menangkap lengannya sebelum dia sempat berbuat lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi... Rosa...!” Floa meronta, semakin panik menyaksikan betapa dekatnya jarak antara makhluk itu dari temannya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown berpikir cepat, memutar otaknya tanpa melepaskan cengkramannya dari lengan Floa. Tak lama, ia mendesiskan satu-satunya deretan inkantasi rumit yang bisa diingatnya dalam situasi ini. Kemudian menebaskan lengannya yang bebas ke arah si makhluk yang kini mulai menjulurkan tangannya untuk meraih sosok terkapar Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pancaran sinar keperakkan menembus punggung berbulu si makhluk separuh singa, yang langsung berhenti dari aktivitasnya semula untuk mengeluarkan sebuah raungan kemarahan. Namun sebelum dia bisa berbuat apa-apa, sebuah pancaran sinar perak lainnya muncul dan menghujam perutnya. Si makhluk meraung lagi, kali ini tampak sangat murka. Kemudian lagi-lagi muncul sinar lain, kembali menghujam punggungnya. Pancaran sinar itu muncul berkali-kali, bergantian menembus punggung dan perutnya hingga akhirnya berhenti, meninggalkan sang makhluk jatuh terpelanting dengan sebuah lenguhan menyayat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa tertegun. Itu sihir tingkat tinggi yang sangat sulit dilakukan, bahkan Profesor Kaleb hanya sekali menunjukkannya di kelas tempo hari, mengatakan bahwa melakukannya akan menguras banyak energi. Tapi yang jadi masalah adalah betapa pucatnya wajah Crown setelah itu, bahkan untuk standarnya yang memang berkulit pucat pada dasarnya. Benar saja, tak lama dia merosot duduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“C-Crown?” panggil Floa cemas, ganti memegangi lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“..tak apa,” katanya lemah, masih mengawasi si makhluk yang sekali lagi tampak berkelonjotan menahan sakit sekalipun napasnya mulai tersendat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekali lagi, sang makhluk memenangi pertarungannya dengan maut. Dia kembali berdiri, meski tampak terpincang-pincang tapi masih bebahaya. Dia ganti memandang mereka berdua, terdiam seakan memikirkan serangan apa yang akan dilakukannya setelah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Spirits...!” kata Chorda lirih. “Apa makhluk ini tidak bisa mati...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetar mulai menyusupi celah-celah jari Floa hingga ke ujung kakinya bahkan lebih dari sebelum-sebelumnya. Menangis tidak menyelesaikan masalah, kata Floa berulangkali pada dirinya sendiri. Dia masih bisa berdiri, kendatipun punggungnya yang terbentur terasa berdenyut-denyut. Setidaknya itu membuktikan bahwa dia masih memiliki cukup energi dibandingkan teman-temannya. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Sihirnya lebih sering gagal daripada berhasil—dan dia tidak boleh mengambil resiko membuat si makhluk marah lagi. Ia harus langsung menjatuhkannya, hal yang tak akan bisa dilakukan sebuah percobaan sihir lemah nyariss gagal. Lalu apa? Dia tidak bisa bertarung seperti Rosa. Menampar seekor kelinci saja dia tidak tega. Jadi apa? Apa? Apa yang bisa dilakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu dalam dadanya bergetar. Bukan getaran ketakutan. Sesuatu itu memanas. Memanas, hampir menyaktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Floa...?” Crown meliriknya. Gadis itu mencengkram dadanya sendiri dengan kedua tangan. Matanya menyipit seperti kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, Floa mendongak memandang si makhluk yang juga menatapnya. Kemudian perasaan-perasaan asing melanda pikirannya, menghujani benaknya. Dan perasaan-perasaan itu bukan miliknya. Kekesalan. Kekecewaan. Kebanggaan. Rasa marah ketika sesuatu yang dimilikinya direnggut paksa dan digunakan dengan seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tahu-tahu saja sebuah pikiran melintas di benaknya. Sebuah jawaban yang dia tahu benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keranjangnya...” gumamnya dengan suara bergetar, melirik keranjang berisi tumbuhan Falis yang tadi dilempar Rosa sekenanya ketika pergi menolongnya. Susah payah Floa menggerakkan kakinya yang terasa membatu melangkah mengambil benda itu, kemudian berbalik menghadapi si makhluk. Anehnya kini makhluk itu tampak lebih tenang, meski rona kemerahan masih menggelayut di iris matanya dan napasnya masih memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa menelan ludah, memberanikan diri mendatangi si makhluk dengan tangan mengacungkan keranjang berisi tumbuhan Falis, sementara Chorda dan Crown mengiringinya dengan pandangan bingung nyariss takjub. Ketika jarak antara mereka sudah tinggal beberapa jengkal, Floa membuka mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah...” dia menutupnya lagi, kemudian membukanya lagi. Mendongak. “Ini. Kau... m-menginginkan ini, benar begitu...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si makhluk setengah singa memandang keranjang di tangannya lekat-lekat, tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Melihat wajahnya yang mengerikan dari dekat membuat Floa merasa goyah, tapi sudah terlanjur begini... Dia menguatkan hati. Dia tidak tahu entah darimana dia mendapatkan semua ini, tapi dia tahu dia harus yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“M-maaf kami mengambilnya begitu saja...” katanya lagi, lebih keras dan terbata-bata. “T-tapi kami membutuhkannya untuk ujian kelulusan kami... J-jadi kalau kau mengijinkan kami m-membawanya sedikit saja...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lanjutan kalimatnya tidak diperlukan. Dengan dengusan pelan yang terakhir kalinya, sosok si makhluk setengah singa meluruh menjadi serpih-serpih debu kecoklatan, lalu perlahan menghilang bersama angin. Floa terperangah. Sejenak dia merasa ada perasaan sedih sekaligus berterima kasih bercokol di dadanya, yang lagi-lagi sebenarnya bukan miliknya. Floa menggapai-gapai debu si makhluk yang beterbangan pergi dengan panik, tapi sia-sia. Makhluk itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatasi keheningan sekaligus keterkejutan ini, suara tepukan tangan terdengar dari arah belakang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Profesor Lorna!” pekik Chorda penuh syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat anak-anak,” kata Profesor Lorna sambil tersenyum takjub. Ia seorang wanita berkacamata dengan kulit gelap, berperawakan jangkung dan berpostur langsing. Rambutnya berwarna hitam legam. “Kalian mengalahkannya! Murid tingkat dua mengalahkan Forlorn—sungguh diluar perkiraanku! Semua orang akan membicarakan ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“T-t-t-tunggu!” seru Chorda lagi, dengan susah payah berdiri dari keterpurukkannya. “Makhluk tadi itu Forlorn?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” jawab Profesor Lorna, kelihatan luar biasa bangga. “Sesosok Forlorn.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapannya tertuju pada Floa, yang seolah masih tidak percaya akan apa yang barusan dilakukannya. Sesosok Forlorn... Dia baru saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Forlorn...” katanya pelan, mengulangi. “For...lorn...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia terjatuh duduk dengan mata membelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Floa?” Crown bangkit menghampirinya, lalu berlutut di depannya. Menyadari bahwa gadis itu menangis, akhirnya dia mendengus tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh,” katanya, tersenyum melihatnya. “Kita kan sudah menang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa mengangguk kecil. Sesungguhnya entah apa yang ditangisinya, dia tidak tahu. Kelebatan terakhir akan hal-hal yang dirasakan sang Forlorn sebelum menghilang sedikitnya masih tertinggal di dadanya, dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi membayangkan bahwa makhluk itu ternyata Forlorn membuat semuanya jadi masuk akal, sekalipun juga membuatnya jadi jauh lebih menakutkan. Seandainya saja dia memilih tidak mendengarkan suara-suara tadi, entah apa yang bakal terjadi. Belum lagi dia memang sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak terjadi apa-apa dalam kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Profesor Lorna,” kata Crown lagi, mengalihkan perhatiannya pada sang profesor yang mengawasi dengan sebuah ekspresi misterius di wajahnya. “Jadi… rumput Falis bukan ujian kami yang sebenarnya kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tajam sekali, Crown.” Profesor Lorna membenarkan letak kacamatanya. “Memang bukan. Aku diminta menyiapkan ujian yang berbeda untuk tim kalian berdasarkan penilaian Kepala Sekolah. Forlorn itulah intinya. Namun untuk memancingnya keluar, kami membutuhkan kalian untuk mengambil rumput Falis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa menoleh menatapnya. Matanya masih sembab. “Kenapa...?” tanyanya, mengerutkan dahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Lorna menghela napas. “Apa kau tahu apa sesungguhnya Forlorn itu, Floa?” tanyanya, namun dia tidak menunggu siapapun menjawabnya sebelum melanjutkan. “Forlorn tercipta oleh kegelapan hati makhluk hidup yang mengambil wujud fana. Yang baru saja kaulawan itu,” dia memandang ruang kosong tempat si makhluk setengah singa menghilang beberapa saat lalu, “adalah milik gua ini, Gua Falis. Rumput Falis yang berada dalam gua ini sangat berharga. Tumbuhan itu hanya bisa ditemukan di sini dan membutuhkan puluhan tahun untuk bertumbuh sepenuhnya. Konon rumput Falis punya kemampuan menyembuhkan penyakit separah apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itulah seiring berjalannya waktu semakin banyak orang menggunakannya. Mereka memetiknya dari sini dalam jumlah besar, dan bahkan memperjualbelikannya dengan harga selangit, sama sekali tidak peduli butuh waktu lama bagi sebatang rumputnya untuk tumbuh kembali. Hal seperti itulah yang memancing kemarahan dari gua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Spirits tinggal dalam setiap eksistensi,” katanya lagi, berlama-lama memperhatikan ketiga muridnya satu demi satu dengan lembut. “Begitu juga dalam gua ini, pada setiap bagian-bagiannya, terdapat kehidupan. Adalah kesalahan besar bagi suatu bentuk kehidupan jika mengabaikan yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa, Crown, dan Chorda ketiganya mendengarkan baik-baik, larut dalam pikirannya masing-masing. Floa membatin, memang begitulah yang dirasakannya tadi ketika selama sekejap dia bertatapan dengan si Forlorn. Perasaan tidak rela. Perasaan diabaikan. Dia mendongak, membuka mata lebar-lebar. Mendadak saja gua yang gelap dan luas ini tidak terlihat begitu asing seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara erangan kecil memecahkan keheningan cukup lama barusan. Semua orang menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rosa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok pirang Rosa bergerak sedikit. Mulai siuman. Perlahan, dia membuka mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah kau sudah sadar...!” kata Floa, buru-buru duduk berlutut di sisinya, memandangi wajah sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini sebabnya aku bilang sebaiknya kau tidak menerjang orang sembarangan,” tegur Chorda, mengambil posisi di sebelah Floa, tampak khawatir. “Kau baik-baik saja, Rosa? Kau tidak hilang ingatan atau semacamnya kan...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa mengerjap-ngerjap, berusaha bangun dibantu oleh keduanya. “Apa yang terjadi...?” tanyanya, kelihatannya masih sulit mengingat-ingat, mengabaikan pertanyaan adiknya tadi. “Kemana si monyet besar...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah menghilang,” kata Crown memberi jawaban. Dia melipat kedua tangannya, menatapnya dengan kedua alis diturunkan. “Kau beruntung. Tadinya dia berpikir mau membawamu juga bersamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aw, rupanya kau bertambah jenius selagi aku tidak sadarkan diri. Mengerti jalan pikiran monster,” balas Rosa tanpa membuka mulutnya, bergerah-gerak meregangkan tubuhnya. Namun sesuatu pasti telah terjadi pada pinggangnya karena tak lama ia berteriak mengaduh sampai keluar air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeehh? R-Rosa?!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown mengernyit. “Sepertinya kita butuh secepatnya kembali ke akademi, Profesor,” katanya, menoleh pada Profesor Lorna yang membalas dengan anggukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9212; Waldheim; Isthanus—Akademi Vrai Enszeigna]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akademi tempat mereka berempat menuntut ilmu adalah sebuah bangunan tinggi menjulang dengan atap bundar yang terlihat seperti kubah dari kejauhan, terletak di pusat kota besar berperadaban maju bernama Isthanus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vrai-Enszeigna adalah akademi tempat berkumpulnya remaja berusia belasan tahun untuk mengenyam tiga tahun pendidikan. Pendidikan di sini sebenarnya bersifat umum. Para guru menjejalkan fakta-fakta umum maupun khusus yang normalnya diketahui penduduk Waldheim. Tapi yang menjadikan Vrai-Enszeigna istimewa adalah betapa akademi ini menawarkan pilihan lain kepada para siswanya. Selain Pendidikan Teoritis, ada pula Pendidikan Praktik. Yang terakhir ini, selain istimewa karena mengacu pada Akademi Vrai-Enszeigna sebagai sekolah militer, juga seringkali menjadi sumber masalah. Dalam pendidikan praktik, siswa boleh memilih berdasarkan minat dan bakatnya. Ada dua cabang utama pendidikan praktik. Physical untuk melatih kemampuan bertarung seseorang, dan Spirit Magic, sebutan ilmu untuk orang-orang yang meminjam kekuatan Spirits untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ketika seseorang telah mempelajari Spirit Magic cukup jauh, mereka ditawarkan lagi untuk mengambil kelas Magic Verses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magic Verses, adalah kombinasi dari Spirit Magic dengan Sembilan Syair Le Gran—bait-bait suci yang merupakan asal keseluruhan doktrin Le Gran [Ajaran yang mengatakan bahwa Spirits adalah pusat dari segala kehidupan. Bahwa kehidupan diatur oleh para Spirits dengan Tiga Spirit Utama; Ilheus, Fostariel, dan Versailith. Di bawah mereka, ada Sang Kehendak Spirits yang mewakili kehendak setiap Spirits yang ada]. Magic Verses acapkali diasosiasikan dengan eurevail, pasukan biara Vihelvanja yang bertugas menangani Forlorn. Hal itu disebabkan karena para eurevail membasmi Forlorn dengan menggunakan Magic Verses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan guild atau sejenisnya, Akademi Vrai-Enszeigna adalah lembaga independen yang tidak mendapat pengaruh dari kerajaan maupun biara. Oleh sebab itu, kendatipun suasana antara biara dan kerajaan mulai memanas di luar sana, Vrai-Enszeigna tetap kukuh mempertahankan ketidak-memihakannya, serta mengajarkan para siswa apa yang menjadi hak mereka tanpa membeda-bedakan pandang mereka dalam menghadapi situasi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima orang baru saja memasuki Gerbang Dalam menuju Halaman Utama gedung akademi. Floa, Crown, Rosa, dan Chorda keempatnya berjalan mengikuti Profesor Lorna melintasi lantai cornblock halaman. Crown dan Rosa segera terlibat dalam pertengkaran konyol tak lama setelah mereka meninggalkan gua dan berlanjut hingga sekarang. Rosa sudah diceritakan ketinggalannya selagi pingsan termasuk informasi bahwa si ‘monyet besar’ sebetulnya Forlorn. Sedang Chorda dan Floa memilih diam, memikirkan sesuatu yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah anak-anak, sebaiknya kalian kembali ke asrama,” kata Profesor Lorna begitu mereka tiba di tangga undakan menuju aula depan, berbalik melambai. “Aku harus melapor pada Kepala Sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“T-tunggu, Profesor!” sela Chorda tiba-tiba. Mimik wajahnya lebih serius dari biasanya. “Aku ingin tahu... Apakah... Apakah kita berempat semuanya lulus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah semua terperangah mendengar pertanyaannya. Mendadak situasi sunyi senyap. Seluruh tatapan tertuju kepadanya, lalu berganti pada Profesor Lorna yang anehnya tidak langsung menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...semua lulus, bukan begitu Profesor?” sambung Chorda lagi, wajahnya mulai pucat—bahkan lebih pucat daripada tadi ketika menghadapi sang Forlorn. “Tadi kau bilang sungguh luar biasa ada anak kelas dua yang mengalahkan Forlorn…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Lorna menghela napas sejenak. Rupanya tadi ia berniat mengulur pemberitahuannya, tapi ternyata topik ini muncul lebih awal dari yang dia perkirakan. “Sebetulnya, aku berharap bisa menunda ini sampai aku membicarakannya dengan Kepala Sekolah,” katanya terus terang. “Tapi karena kalian sudah bertanya sekarang, aku harus menjawab. Aku berharap bisa langsung memutuskan kalian berempat semuanya lulus, sayangnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Floa Marjorie.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa tersentak, menunduk. Firasatnya buruk, dan terlebih lagi dia bisa merasakan ketiga temannya ikut memandangnya terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…kupikir aku perlu berbicara secara pribadi denganmu. Aku dan Kepala Sekolah, tentunya,” sambung Profesor Lorna, menatapnya muram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Profesor!” sela Crown, buru-buru angkat bicara. “Di antara kita berempat, Floa-lah yang berhasil mengenyahkan si Forlorn!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Crown. Aku sepenuhnya sadar akan hal itu,” ujar Profesor Lorna, menjawab cepat. “Tapi mengenyahkan si Forlorn tidak termasuk dalam syarat kelulusan kalian. Seperti yang kukatakan, tidak pernah ada murid akademi tingkat dua yang mampu menghilangkan Forlorn sepenuhnya. Untuk bisa lulus, kalian diharuskan bertahan dari serangan selama waktu yang kami tentukan. Apakah kalian dinyatakan lulus atau tidak dinilai dari bagaimana kalian melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya lalu kenapa?” tanya Rosa, tampak marah. Sama sekali tidak terlihat peduli lawan bicaranya adalah seorang guru. “Bukankah dengan begitu Floa bisa dianggap sudah melakukan sesuatu yang luar biasa? Kenapa dia harus bertahan kalau dia bisa mengalahkannya? Aku bahkan pingsan setelah setengah jalan, dan kalian masih berniat meluluskanku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Lorna menghela napas berat. “Maafkan aku, Rozaldine. Tapi syarat itulah yang berlaku dalam ujianmu kali ini,” katanya. “Sekali lagi kuperjelas, masalahnya tidak terletak pada apakah kalian bisa mengenyahkan Forlornnya. Masalahnya adalah aku tidak melihat Floa bertahan. Dia tidak menunjukkan perlawanan ataupun menggunakan sihirnya, bahkan ketika dia terjatuh dan Forlorn itu hendak menyerangnya, dia tidak bergerak sama sekali sebelum kau menyelamatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf karena terpaksa mengatakan ini,” ujarnya lagi setelah sekian lama, mengawasi wajah tertunduk Floa. “Meskipun begitu, aku belum bisa memastikan apa-apa dalam kasusmu ini, aku masih harus mendiskusikannya dengan Kepala Sekolah. Walau tetap saja aku bertanya-tanya… Bagaimana kau melakukannya, Floa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa terdiam tidak menjawab. Jantungnya mencelos. Perutnya melilit. Dia tidak tahu mana yang lebih buruk. Dinyatakan tidak lulus atau mendengar teman-temannya sampai harus angkat bicara untuknya. Terlebih lagi, dia sendiri tidak mengerti bagaimana dia bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Forlorn hanya bisa dienyahkan dengan menggunakan Magic Verses,” lanjut sang profesor dengan dahi berkerut. “Dan hanya seorang eurevail atau murid akademi tingkat sangat lanjut yang dapat menggunakannya. Mungkinkah kau hanya menebak-nebak? Atau ada cara lain yang kaugunakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa menggeleng kuat-kuat. “A-aku… tidak tahu…” jawabnya berat. Yang diingatnya hanya perasaan panas yang menyesakkan, kemudian ada suara-suara berbicara dalam kepalanya. Lalu tahu-tahu saja seolah-olah keranjang berisi rumput Falis itu memanggilnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kuduga,” tukas Profesor Lorna. “Baiklah. Jika sudah waktunya nanti, aku akan memanggilmu. Untuk sekarang, kau sebaiknya memikirkan jawaban untuk pertanyaanku itu dan berdoa untuk yang terbaik.” Dia tersenyum lembut, kelihatannya kecewa juga. Kemudian dia mendongak, memandang ketiga murid sisanya, yang sama sekali tidak terlihat puas. “Aku bisa menjamin kelulusan kalian sisanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena sudah tidak ada lagi yang mengatakan apa-apa, dia berbalik menuju Pintu Besar yang langsung terbuka secara otomatis merespon langkahnya. “Aku permisi untuk menemui Kepala Sekolah,” katanya, tersenyum tipis. “Semoga hari kalian baik, anak-anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya harinya tidak mungkin lebih baik dari ini, pikir Floa murung. Dia membenci dirinya sendiri. Bagaimana dia tidak bisa melakukan apa-apa, bagaimana dia hanya bisa membeku ketakutan lalu menangis begitu si Forlorn menyudutkannya, bagaimana dia membiarkan teman-temannya ikut bersedih gara-gara masalahnya ini… Dan dia juga membenci keheningan canggung yang terjalin saat ini. Dia tidak bisa memalingkan tatapannya sendiri dari lantai untuk menghadapi teman-temannya, yang tentunya sekarang sedang bertukar pandang tak tahu harus bagaimana cara menghiburnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Errrr… aku, eh, duluan kembali ke asrama,” kata Chorda dengan suara mencicit, mengatasi kesunyian. Tanpa menunggu siapapun menyetujuinya, dia melenggang pergi cepat-cepat meninggalkan Floa bersama Rosa dan Crown.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa berdeham keras, memotong kesunyian yang timbul lagi setelah kepergian adiknya. “…si Lorna itu,” katanya nyaring. “Kalau mereka berani tidak meluluskanmu, aku bersumpah akan menemui Kepala Sekolah dan memaksanya! Y-yeah, jangan khawatir, Floa! Aku pasti bisa membujuknya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragu-ragu, Floa mendongak kepadanya. Raut wajah Rosa terlihat seperti diyakin-yakinkan ketika ia mengakhiri kalimatnya dengan tawa keras dipaksakan, tapi melihat reaksinya seolah memberi kelegaan tertentu pada Floa. Ia menghargainya, jadi ia tersenyum muram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Crown berkedut ke samping. “Apa omonganmu tidak bisa lebih sembarangan daripada itu?” tanyanya sinis, mengomentari. Lalu giliran dia mencoba, agak membungkuk menghadapi Floa yang tubuhnya lebih pendek beberapa puluh senti darinya. “Dengar, Floa. Jangan biarkan ini terlalu menguasaimu. Aku yakin mereka akan meluluskanmu pada akhirnya. Kaulah yang mengenyahkan Forlornnya, dan tidak peduli bagaimanapun mereka memandangnya, kenyataannya memang seperti itu. Kepala Sekolah orangnya cukup bijak. Dia akan mempertimbangkannya baik-baik. Jadi… berusahalah untuk tidak terlalu banyak bersedih, oke?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa tertegun mendengar kata-katanya yang memang meyakinkan. “Crown…” katanya, agak terbata. “A-aku tahu. Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa mendelik tak suka ke arah Crown. Sejurus kemudian, dia mendorong wajah pemuda itu keras-keras hingga dia terhuyung ke samping—hampir seperti memukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei! Untuk apa yang barusan itu?!” seru Crown jengkel, memegangi pipinya yang kesakitan. Tapi Rosa sudah kabur menjauh sekitar empat meter dari mereka, menatapnya tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menepuk-nepuk pantatnya dengan tidak sopan. “Aku-benci-kau, cowok-cantik!” ujarnya lantang, menjulurkan lidahnya kemudian pergi. Tapi sebelum terlalu jauh, dia berpaling lagi pada Floa, yang untuk sejenak melongo melupakan masalahnya gara-gara interupsi barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kau!” tudingnya, sementara yang ditunjuk kelihatan syok. “Jangan sampai aku melihatmu menangis lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Si Rosa itu. Apa sih yang ada dalam kepalanya…?” gerutu Crown sebal pada sosoknya yang menjauh, kemudian berganti melirik arlojinya. “Well, kupikir sudah waktunya kembali ke asrama,” katanya lagi pada Floa, tersenyum dengan sebelah alis terangkat. “Kau juga, sebaiknya segera kembali. Sampai ketemu, Floa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kelulusan bukan satu-satunya yang ada dalam pikirannya saat ini, batin Floa, menghembuskan napas dengan berat setelah kedua sahabatnya pergi. Kepalanya masih berat memikirkan pertemuannya dengan si Forlorn, pun dia juga masih tidak bisa mengenyahkan perasaannya di gua Falis tadi sebelum suara-suara itu datang. Andai saja tidak ada keajaiban. Apa yang akan terjadi? Apakah Floa akan membiarkan makhluk itu melukai Crown dan Chorda tanpa bisa berbuat apa-apa? Dan kenapa…? batinnya putus asa. Kenapa dia begitu tidak berguna…? Barangkali semua orang memandangnya seperti itu. Sungguh aneh bagaimana seorang yang bodoh, kikuk, dan pengecut sepertinya bisa berteman dengan orang-orang seperti Rosa dan Crown, yang keduanya adalah murid unggulan di divisinya masing-masing. Tes yang ‘berbeda’ ini pun tentunya direkomendasikan Kepala Sekolah bagi tim mereka karena mereka berdua ada di dalamnya. Dan Floa gagal melaksanakannya, yang cukup membuktikan seberapa jauhnya jarak untuk membandingkan mereka. Selalu saja menyakitkan, memikirkan betapa dirinya hanya bisa dijaga oleh mereka selama ini. Dia tak bisa melakukan apa-apa untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memang menyedihkan,” gumamnya murung. Dan buruknya lagi, dia bahkan membuat mereka ikut bersedih gara-gara hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi… apakah itu berarti kau menginginkan kekuatan, anak perempuan Marquelith?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floa tersentak. Suara yang sama. Itu suara yang sama. Suara yang sama dengan yang tadi berbicara dalam kepalanya begitu berhadapan dengan Forlorn! Sensasi panas dalam dadanya kembali muncul, membuncah bersamaan dengan suara berdengung yang mengisi kepalanya, membuat kepalanya serasa mau pecah. Dia berusaha menutup kedua telinganya, tapi suara itu tidak menghilang, seakan tidak berasal dari luar sana, melainkan dari dalam dirinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara di sekitarnya seakan berputar, berusaha menyedotnya ke sebuah titik. Floa terhuyung. Menggeleng, dia memutuskan untuk berlari. Ya—dia harus segera kembali ke kamarnya! Tatapannya tak terfokus. Pintu Besar... Aula depan... Lorong menuju asrama... Tangga... Lorong lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia jatuh menabrak seseorang. Hal-hal dalam kepalanya seketika buyar menjadi kerlipan bintang-bintang yang berkelebatan mengelilinginya. Floa mengerang, memegangi kepalanya yang perlahan mulai pulih ke keadaannya semula, kemudian berusaha keras berdiri. Dia tidak mau mengambil resiko lagi. Dia harus kembali ke kamarnya, lalu beristirahat. Barangkali benturan yang dialaminya di gua tadi membuatnya sedikit hilang akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku!” katanya, lalu melanjutkan larinya bahkan tanpa menoleh. Sama sekali tidak tahu menahu akan adanya kejanggalan pada ekspresi orang yang barusan ditubruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi… apakah itu berarti kau menginginkan kekuatan, anak perempuan Marquelith?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baunya seperti… Ilheus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Grand Le Grand: The Oath of Spirits~End of Chapter 1~*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-87051324790937991?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/87051324790937991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/before-revised-grand-le-gran-chapter-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/87051324790937991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/87051324790937991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/before-revised-grand-le-gran-chapter-2.html' title='(Before Revised) - Grand Le Gran Chapter 1: A Way To Go'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-6384489578643211388</id><published>2011-02-12T15:12:00.003+07:00</published><updated>2012-01-09T15:25:40.559+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>The Art of Fully Understanding of Your Life Problems</title><content type='html'>Jadi awalnya aku cuma mengalami apa yang menurut pelajaran Vocabulary I di semester ganjil terdahulu disebut dengan &lt;i&gt;'get up on the wrong side of bed&lt;/i&gt;.' Menjelaskannya, mungkin maksudnya bad mood sejak pagi hari&amp;nbsp;karena alasan yang ga jelas. Sebetulnya ini bukan hal baru sih, kalau diingat-ingat aku sudah sering begini semenjak kuliah. Yah, pada intinya idiom ini sudah sukses bikin aku nangis sendiri&amp;nbsp;sejak dari&amp;nbsp;kamar mandi, soalnya bikin kepikiran dan keingetan mengenai: 1] masalah&amp;nbsp;gebetan yg kayaknya ngegebet cewek lain vs jadi gebetan orang&amp;nbsp;lain yang tak diharapkan 2] masa lalu yang ga menyenangkan di sekolah 3] hal-hal yang kuinginkan dari dulu tapi ga pernah keturutan 4] ketidakadilan yang baru-baru ini kuterima berkaitan dengan nomor 3 5] masalah proyek yang ga selesai-selesai. Jadilah moodku udah rusak semenjak pagi. Mikirin ini dan itu, aku jadi merumuskan banyak hal mengenai kehidupan dan mengenai betapa aku merasa sangat-sangat ga puas terhadapnya dan mengenai betapa sulitnya untuk bersyukur sedikiiiittt aja. Lalu karena ga tahan (plus berasa ngefreak juga nangis tanpa pemicu yg jelas), aku ngambil kertas dan mulai merangkum semuanya. Dengan tujuan supaya aku dapat gambaran yang lebih jelas kenapa aku harus puas atau nggak puas sama hidupku sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini hal-hal yang kutulis, yang kuharapkan mungkin bisa menjadi pedoman bagi orang-orang lain yang kebetulan mengalami masalah&amp;nbsp;serupa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1] &lt;b&gt;My Wishlist:&lt;/b&gt; isinya tentang barang-barang yang kuincar dari dulu atau kuperlukan banget, ga usah pedulikan harga atau persentase kemungkinan keturutannya. Cukup ditulis saja mulai dari yang paling paling diinginkan sampai yang ga begitu&amp;nbsp;sangat diinginkan.&lt;br /&gt;2] &lt;b&gt;List of Things That I Want To Achieve:&lt;/b&gt; isinya tentang hal-hal yang ingin kaulakukan, target masa depan yang ga ada hubungannya sama barang yang dibeli/dikasih. Hal-hal ini sifatnya kalau terkabul bakal memberiku semacam 'aktualisasi diri.' Misalnya menamatkan proyek lalu menerbitkan satu buku, atau ngedapetin IP 4.00 di semester berikutnya.&lt;br /&gt;3] &lt;b&gt;List of Reasons Why I Have To Be Proud With My Life:&lt;/b&gt; isinya dibagi lagi menjadi tiga.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; a) &lt;b&gt;What Makes Me as 'Me':&lt;/b&gt;&amp;nbsp;tuliskan poin-poin apa yang membuatmu bangga menjadi dirimu yang sekarang, perkembangan-perkembangan yang membuatmu bangga setelah mengalami masa lalu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; b) &lt;b&gt;Troubles That I Successfully Faced:&lt;/b&gt; tuliskan masalah-masalah berat yang&amp;nbsp;sudah terjadi di masa lalu, yang entah sudah&amp;nbsp;kauselesaikan sendiri, atau kaubiarkan/kauanggap selesai seiring berlalunya waktu, bagaimana kau menyelesaikannya, dan&amp;nbsp;pelajaran yang kaudapatkan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; c) &lt;b&gt;Trauma:&lt;/b&gt; tuliskan hal-hal apa yang masih menghantuimu sampai sekarang, dan apa penghiburan serta tekadmu&amp;nbsp;dalam menyikapi&amp;nbsp;itu.&lt;br /&gt;4] &lt;b&gt;List of Things That I'm Afraid Of:&lt;/b&gt; isinya mengenai hal-hal yang setiap kali membayangkannya menbuatmu tidak bisa tidur, membuat jantungmu seperti diperas, atau yang kaudoakan supaya tidak akan pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah menulis hal-hal ini rasanya aku jadi sedikit lebih punya pegangan serta gambaran yang lebih jelas mengenai situasi masalah apa yang sedang kualami sekarang. Dan kayaknya sih, ini bakal membantuku setiap kali moodku geje di pagi hari. Kata orang, kita gak akan bisa menang kalau kita gak tahu sepenuhnya apa yang lagi kita hadapi. Kurasa nggak banyak orang yang bakal membaca postingan geje ini (atau malah ga ada? -_-), aku cuma merasa perlu ngeshare aja. Karena sepertinya ini bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-6384489578643211388?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/6384489578643211388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/art-of-fully-understanding-of-your-life.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6384489578643211388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6384489578643211388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/art-of-fully-understanding-of-your-life.html' title='The Art of Fully Understanding of Your Life Problems'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-7260564982351602698</id><published>2011-02-11T21:11:00.005+07:00</published><updated>2012-01-09T15:19:32.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='war with conscience'/><title type='text'>War With Conscience I</title><content type='html'>Conscience: Hey. Why are you a writer?&lt;br /&gt;Me: Because life is sucks? I'm working hard to make it looks better.&lt;br /&gt;Conscience: So if life is no longer sucks, you'll stop writing?&lt;br /&gt;Me: Errr..&lt;br /&gt;Conscience: I think that's why God decided to keep your life stay that way.&lt;br /&gt;Me: .... *mati gaya*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-7260564982351602698?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/7260564982351602698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/war-with-conscience-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7260564982351602698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7260564982351602698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/war-with-conscience-i.html' title='War With Conscience I'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-5496288948840850661</id><published>2011-02-11T21:11:00.004+07:00</published><updated>2012-01-09T15:19:16.597+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='war with conscience'/><title type='text'>War With Conscience II</title><content type='html'>Me: So you're saying that I need to find another writing motivation?&lt;br /&gt;Conscience: Possibly so.&lt;br /&gt;Me: And you think to make writing as an impingement of my dull life is a wrong motive?&lt;br /&gt;Conscience: Probably so.&lt;br /&gt;Me: But even my current motivation is not strong enough to make me write a lot. &lt;br /&gt;Conscience: Well, it's all in your head.&lt;br /&gt;Me: So you think this somewhat wrong motivation is not the one to blame why I keep failing on my project?&lt;br /&gt;Conscience: Maybe so.&lt;br /&gt;Me: Do you realize how not helping you are?&lt;br /&gt;Conscience: I am YOUR conscience, dear. As I said, it's all in YOUR head.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-5496288948840850661?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/5496288948840850661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/war-with-conscience-i_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5496288948840850661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5496288948840850661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/war-with-conscience-i_11.html' title='War With Conscience II'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-7046643106159763290</id><published>2011-02-04T23:45:00.009+07:00</published><updated>2012-01-09T15:19:47.982+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>List of Things That I Want To Tell You</title><content type='html'>Baiklah, sebelum aku menuliskannya di sini, aku bertanya-tanya--kira-kira berapa besar kemungkinan kau, yang semenjak belakangan ini menjadi tokoh yang paling penting dalam tulisan-tulisan jurnalku, membaca postingan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang agak bodoh, soalnya tidak ada yang bisa memberi jawabannya kecuali kau dan Tuhan. Bayangkan, seberapa mungkin terjadi, menemukan dirimu dengan nama samaran tertentu memberikan komentar di postingan ini. Aku tertawa karena membayangkannya membuatku mulai menanamkan konklusi yang salah lagi, seperti yang sudah-sudah, tentang betapa selama ini kau juga suka padaku. Ya, seandainya saja aku ini bukan calon penulis, maka kepalaku tidak akan otomatis membayangkan kemungkinan-kemungkinan 'happy ending' yang barangkali akan datang padaku, si tipikal tokoh utama ini. Hanya gara-gara teman-temanku, atau aku sendiri, berpendapat bahwa kisah-kisah yang selama ini kualami mirip alur cerita komik.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu, pengalaman telah membuktikan lebih dari segalanya bahwa besarnya tipikalmu dengan tokoh utama kebanyakan komik, tidak secara otomatis memberimu happy ending--sebuah akhir yang belum pernah mampir ke kisah-kisah cintaku yang terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemungkinan kau membaca tulisan ini mungkin sama tipisnya dengan dengan udara. Yea, kecuali kau benar-benar tertarik padaku atau apa, dan sudah membookmark alamat blog geje ini, atau mengingatnya. Tapi itu tidak mungkin. Kurasa sekalipun kau memang tertarik, kau mungkin bukan tipe yang cukup kurang kerjaan untuk melacak apa saja yang sudah kulakukan di jagat dunia maya. Ya. Dan itu KALAU kau tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kurasa cukup aman menuliskannya di sini. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1] Liburan ini terasa seperti selamanya. Selama berabad-abad aku tidak mendengar kabar langsung darimu membuatku mulai entah kebas atau kenapa, berpikir bahwa mungkin saja aku sudah kehilangan separuh dari perasaanku padamu. Baru saja aku hendak memutuskan untuk meletakkan segalanya di belakang dan melupakannya tanpa menyerah, kemarin kita bertemu dalam kejadian yang... yang rasanya begitu canggung. Dalam pertemuan itu, aku tidak sempat mengatakan apa-apa karena memang tidak sanggup. Tapi kau tersenyum padaku dan rasanya itu lebih dari cukup untuk membuatku bertahan melewati paro liburan berikutnya. Dan ini juga membantuku menyadari satu hal, bahwa ternyata aku memang. Kangen. Lalu saat ini, detik ini juga, keinginanku yang paling besar adalah bertemu denganmu lagi sesegera mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2] Aku cukup peka terhadap kemungkinan teramat besar bahwa saat ini aku, perasaanku, dan kau terjebak dalam sebuah rentetan cinta bertepuk sebelah tangan yang tragis. Perasaanku terhadapmu yang mungkin sekali sepihak--hanya Tuhan dan kau yang tahu apa yang sebenarnya ada di dalam kepalamu ketika namaku disebut. Atau tentang kau dan si cewek itu, yang sangat sangat beruntung karena bisa bertemu denganmu setiap minggu, dan yang mungkin sekali juga suka padamu, serta yang mungkin sekali kau sukai itu. Aku takut, tentu saja. Rasanya kau bisa meremukkanku berkeping-keping dalam sekali remasan, andai ketakutanku ini memang benar. Dan aku membayangkannya setiap malam, bahkan bermimpi buruk tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3] Yang aku sukai adalah kau dan hanya kau. You're the only reason why I'm in this tragic battlefield, and I will win, smiling with you--or losing, crying alone. Tidak ada pilihan pergi dengan orang lain. Tentu saja prospek menghancurkan hati orang lain--misalnya dia, yang terlibat gosip denganku itu namun hanya dapat kuanggap sebagai sahabatku tidak peduli sekeras apapun aku mencobanya--membuatku ingin menangis. Tetapi aku mencoba lurus dengan perasaanku, tidak peduli apakah aku akan terluka nantinya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4] Andai suatu hari kau menemukan tulisanku ini dan membacanya, lalu menemukan kemiripan antara 'kau' di sini dengan kau yang membacanya, tolong, kumohon dengan sangat anggap saja kau tidak pernah membacanya, apalagi menertawakannya dengan siapapun. Tetapi apabila, entah bagaimana, kau mungkin merasakan hal yang sama denganku... Yah, kau bebas melakukan apapun yang menurutmu perlu kaulakukan. :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5] Aku berdoa semoga dimanapun kau sekarang dan apapun atau siapapun yang kaupikirkan, kau dalam keadaan sehat dan gembira. Dan semoga kita bisa bicara secepatnya. &amp;gt;&amp;lt; &lt;span style="font-size: 78%;"&gt;ps: watashi wa anata ga suki desu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-7046643106159763290?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/7046643106159763290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/list-of-things-that-i-want-to-tell-you.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7046643106159763290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7046643106159763290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/list-of-things-that-i-want-to-tell-you.html' title='List of Things That I Want To Tell You'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-1112585982314454229</id><published>2011-01-03T23:10:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:20:02.521+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Clovervow</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;i&gt;‎:Rather than saying that I want to meet someone again real soon, I choose to make most of the time being to fix myself so that I can be a person who is worthy enough to love, and to be loved in return:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;I do not ask you to wait for me. I'm on my way of becoming stronger, braver, and smarter, to have more confidence in myself, to grab on the dreams I'm craving for and never let go so that I can prove how lost you are, and also to become more mature and beautiful. :) And then I swear after we meet again, I myself will be the one to decide whether I will fall for you once again, or to leave it all behind then never look back.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-1112585982314454229?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/1112585982314454229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/01/clovervow.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/1112585982314454229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/1112585982314454229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/01/clovervow.html' title='Clovervow'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3550231478558583098</id><published>2010-12-06T17:16:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:20:22.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Maybe It's About Time to Say Sayonara</title><content type='html'>(Catatan Penyihir Cloverwitch: 6 Desember 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;Because no matter how many times we bumped on each other on the street, they cannot be said as 'Encounters' if we never exchange, even just a single glance. You and I were passing on the same road, that day, I might just saw you. Both of us, might be destined to walk together toward a really different direction of this intersection. However as you kept walking without realizing my presence, I would've known that what happened on that day was just&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;...a mere 'Coincidence'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;It wouldn't turn out to be 'Fate.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;Sayonara, stranger. Now I understand that maybe you're not the person who holds the 'Clover' that I've been looking for. Even if these coincidences will really turn to be just coincidences, I will still treasure them as a precious memories about someone special that I've met under the Rain.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3550231478558583098?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3550231478558583098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/12/maybe-its-about-time-to-say-sayonara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3550231478558583098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3550231478558583098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/12/maybe-its-about-time-to-say-sayonara.html' title='Maybe It&apos;s About Time to Say Sayonara'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-6998694529391027828</id><published>2010-11-21T19:17:00.002+07:00</published><updated>2012-01-09T15:21:05.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grand le gran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fragmen'/><title type='text'>GLG: Fragmen - Memories</title><content type='html'>Kegelapan yang melingkupinya ini terasa hangat, hampir seperti tidur lelap di musim dingin, sambil bergelung di balik selimut tebal ditemani nyala api perapian. Adapun Floa yakin betul bahwa dirinya tidak bermimpi. Suara-suara di yang tengah bergaung di kepalanya terasa begitu nyata, layaknya sungguh diucapkan dalam jarak pendengarannya, namun sekaligus juga... tua. Mengingatkan Floa akan bunyi sebuah lagu lama dari piringan hitam usang yang pernah diputar pamannya sekali waktu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar dikenalinya sebuah senandung. Floa sempat bergidik, tetapi kemudian sadarlah dia bahwa senandung itu berbeda dari yang terdahulu. Senandung ini lembut sehalus beledu, riang seperti lagu tarian yang selalu dinyanyikan penduduk desa pada festival musim panas, sekaligus khidmat seperti himne puji-pujian.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemudian senandung itu dipecahkan oleh suara ketukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf—apa aku membangunkannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa singkat seorang wanita—milik sang penyenandung. Kemudian desisan pelan. “Kupikir baru saja dia tertidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening beberapa lama, kemudian suara si penyela—laki-laki, terdengar kembali. “Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejujurnya... tidak. Tidak, kurasa aku sangat tidak baik-baik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hening lagi, sedikit lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lima tahun,” suara si penyenandung kembali terdengar. “Aku terlanjur berharap segalanya akan berlanjut sedikit lebih lama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama ini aku berusaha sekerasnya meyakinkan diriku sendiri,” katanya lagi. “bahwa kebahagiaan memang tidak akan pernah berlangsung lama bagiku. Tetapi kemudian aku bertemu denganmu, dan segalanya seakan berubah menjadi harapan di depan mataku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahalia, aku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” sela Mahalia. “...aku tidak menyesal bertemu denganmu. Tidak akan pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu-satunya yang kusesali adalah...” katanya lagi perlahan, “adalah bagaimana aku melibatkan kedua anak kita. Kurasa aku telah gagal sebagai ibu. Pertama aku membiarkan mereka menimpakan beban ini kepada Fragin, kemudian aku juga gagal melindungi Sorkha...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang dapat kaulakukan mengenai itu,” kali ini giliran si pria menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” kata Mahalia resah. “Kau benar... Tak ada yang bisa kulakukan mengenai itu. Padahal aku ibu mereka...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara si pria menghela napas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, ayo kita pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...pergi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pergi. Kemana saja,” ujar si pria mantap. “Kau, aku, Fragin, dan Sorkha. Memulai hidup baru di suatu tempat yang jauh dari semuanya... Bagaimana menurutmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“T-t-tapi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahalia,” kata si pria lagi, “kau selalu punya pilihan, kau tahu itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keheningan kembali mengosongkan pendengaran Floa, kemudian didengarnya Mahalia tertawa lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Triad, sungguh,” dia berujar. “Kedengarannya sangat menggoda, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak yakin aku sanggup membayar kebahagiaanku sendiri dengan kebahagiaan berjuta umat Waldheim yang akan menjadi tanggunganku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kautakutkan, Mahalia? Dosakah?” tanya Triad. “Bagaimana kalau kukatakan aku bersedia menanggungnya bersamamu...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...tidak,” tolak Mahalia sekali lagi. “Kau baik sekali, tapi aku tidak mungkin tega melakukan hal itu terhadapmu. Jangan katakan lagi, tolong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah,” kata Triad menyerah. “Kalau memang itu keputusanmu, aku akan mendukungmu. Selalu. Mengenai Fragin dan Sorkha...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...aku akan melindungi mereka dengan segenap kekuatanku,” kata Mahalia, masih dengan nada lirih yang sama. “Sekalipun aku harus mati, takkan kubiarkan hal yang paling buruk terjadi pada mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita, Mahalia,” koreksi Triad. “Kita akan melindungi mereka bersama-sama...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kegelapannya terasa berpindah, dan Floa kini dapat merasakan tubuhnya sendiri. Detak jantungnya. Napasnya. Jemarinya bergerak. Tetapi entah mengapa kehangatannya tidak segera menghilang. Penasaran, dia mencoba menyingkap kelopak matanya. Kemudian dia terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“M-Miharu?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah panik setengah jengah, Floa beringsut menjauh. Otaknya berusaha keras berpikir cepat mengenai banyak hal, mulai dari mengingat-ingat dimana mereka berada, apakah Miharu yang ada di hadapannya saat ini tak lebih dari sekedar halusinasinya, hingga alasan apa yang membuat pemuda itu berada sedemikian dekat padanya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“K-kenapa kau...?” hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya sementara dia menatap pemuda itu lekat-lekat, berusaha menemukan perbedaan semenjak terakhir kali dia melihat wajahnya. Tetapi beberapa kalipun dia berusaha, Miharu tetaplah Miharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku melihatmu menangis,” dia menjawab, pendek dan lugas seperti yang selalu diingat Floa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara refleks Floa menyapukan tangan ke kedua matanya. Kemudian dia membeku. Kedua matanya basah—dan bahkan tanpa disadarinya air mata masih mengaliri pipinya dengan deras. Dia mencoba menghentikannya, tetapi malah semakin jelas pula dalam ingatannya suara-suara yang didengarnya selagi dia bermimpi. Ah, tidak. Dia paham itu bukan mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Floa bisa mendengar bunyi cegukannya sendiri. Dia tahu dia menangis semakin keras diluar kemauannya. Dia juga tahu Miharu tidak akan bertanya ada apa, tetapi entah bagaimana dia tidak terkejut merasakan tangannya menyentuh sebelah pipinya. Dengan tangannya sendiri yang bergetar oleh tangis Floa meraih tangan Miharu yang lainnya, lalu menggenggamnya erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...tolong jangan pergi lagi,” pintanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-6998694529391027828?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/6998694529391027828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/11/glg-fragmen-memories.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6998694529391027828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6998694529391027828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/11/glg-fragmen-memories.html' title='GLG: Fragmen - Memories'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-2593424174166773738</id><published>2010-11-10T11:30:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:21:20.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='songs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Dear You</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darling, so there you are&lt;br /&gt;With that look on your face&lt;br /&gt;As if you're never hurt&lt;br /&gt;As if you're never down..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-style: italic;"&gt;(Songs in my head: Eyes on Me - Faye Wong)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; font-weight: bold;"&gt;Call for my name, reach up for my hand. I'll hold yours right away, then never let it go. If only you'd say that you need me, I will stand by your side. Your every pain, struggles, or whatever they are... Let's face them together.  Because at the times like this, I guess my feelings for you could not feel any more unbearable. It hurts me knowing that I understand nothing about you. And even though I can see that you're injured, there's just nothing I can do...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-2593424174166773738?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/2593424174166773738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/11/dear-you.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/2593424174166773738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/2593424174166773738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/11/dear-you.html' title='Dear You'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-9145867774668219151</id><published>2010-11-04T19:43:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:16:45.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='songs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Seo Hyun - It's Okay Even if It Hurts</title><content type='html'>&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs315.snc4/41090_433005837887_346207347887_4924461_7289324_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs315.snc4/41090_433005837887_346207347887_4924461_7289324_n.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 360px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 640px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;눈이 멀어도 괜찮아요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;nuni meoreodo gwaenchanhayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;숨이 멎어도 괜찮아요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;sumi  meojeodo gwaenchanhayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;한번만 그대 볼 수 있다면&lt;br /&gt;&lt;b&gt;hanbeonman  geudae bol su itdamyeon&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;내 맘 모두 줄 수 있다면&lt;br /&gt;&lt;b&gt;nae mam modu jul su  itdamyeon&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;내 가 얼마나 더 그리워해야&lt;br /&gt;&lt;b&gt;nae ga eolmana deo  geuriwohaeya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;그대 내 맘 알 수 있나요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudae nae mam al su innayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;내 가 얼마나 더 울고 울어야&lt;br /&gt;&lt;b&gt;naega eolmana deo ulgo ureoya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;눈물이 마를 수 있나요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;nunmuri  mareul su innayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;그 댈 사랑해서 아픈 건가요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geu dael  saranghaeseo apeun geongayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;너무 사랑해서 벌 받는 건가요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;neomu  saranghaeseo beol batneun geongayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;비록 내 모든 걸 잃는다 해도&lt;br /&gt;&lt;b&gt;birok  nae modeun geol irnneunda haedo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;그대 하나면 그거면 돼요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudae  hanamyeon geugeomyeon dwaeyo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;그댈 사랑하다 마음을 베여도&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudael  saranghada maeumeul beyeodo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;그대 기다리다 가슴 다 헤져도&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudae  gidarida gaseum da hejyeodo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;괜찮아요 사랑하니까&lt;br /&gt;&lt;b&gt;gwaenchanhayo  saranghanikka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;난 아파도 괜찮아요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;nan apado gwaenchanhayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;그 댈 잊으려고 돌아설수록&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudael ijeuryeogo doraseolsurok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;보고 싶은데 어떡해요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;bogo  sipeunde eotteokhaeyo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;자꾸 안 된다고 막아설수록&lt;br /&gt;&lt;b&gt;jakku an  doendago magaseolsurok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;그대 뿐인데 어떡해요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudae ppuninde  eotteokhaeyo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;그댈 사랑해서 아픈 건가요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudael saranghaeseo  apeun geongayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;너무 사랑해서 벌 받는 건가요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;neomu saranghaeseo beol  batneun geongayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;비록 내 모든 걸 잃는다 해도&lt;br /&gt;&lt;b&gt;birok nae  modeun geol irnneunda haedo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;그대 하나면 그거면 돼요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudae hanamyeon  geugeomyeon dwaeyo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;그댈 사랑하다 마음을 베여도&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudael  saranghada maeumeul beyeodo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;그대 기다리다 가슴 다 헤져도&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudae  gidarida gaseum da hejyeodo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;괜찮 아요 사랑하니까&lt;br /&gt;&lt;b&gt;gwaenchant  ayo saranghanikka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;난 아파도 괜찮아요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;nan apado gwaenchanhayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;내 게 독이 되고&lt;br /&gt;&lt;b&gt;naege dogi doego&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;가시가 되어도&lt;br /&gt;&lt;b&gt;gasiga doeeodo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;그 대를 향한 사랑&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geudaereul hyanghan sarang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;거둘 수 없죠&lt;br /&gt;&lt;b&gt;geodul su  eobtjyo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;언제까지라도 기다릴게요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;eonjekkajirado gidarilgeyo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;아 프고 아파도 나 견뎌낼게요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;apeugo apado na gyeondyeonaelgeyo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;내 가 그대를 더 사랑하니까&lt;br /&gt;&lt;b&gt;naega geudaereul deo saranghanikka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;눈물 나도 괜찮아요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;nunmul  nado gwaenchanhayo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;아파도 괜찮아요&lt;br /&gt;&lt;b&gt;apado  gwaenchanhayo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(credits@koreabanget.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; font-style: italic;"&gt;Finally today I know that there just might be someone in your heart... But love isn't something you can give up on, right...? I have to carry on with this feeling no matter what...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-9145867774668219151?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/9145867774668219151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/11/seo-hyun-its-okay-even-if-it-hurts.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/9145867774668219151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/9145867774668219151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/11/seo-hyun-its-okay-even-if-it-hurts.html' title='Seo Hyun - It&apos;s Okay Even if It Hurts'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-5936236400204727770</id><published>2010-11-02T19:08:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:16:53.593+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>For Now</title><content type='html'>If it is true that I'm a one-sider (well, I hope it is NOT, but...), then I must be the luckiest one-sider ever after all these 'coincidences' between me and you. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wonder what's going to happen next... Teehee...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-5936236400204727770?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/5936236400204727770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/11/for-now.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5936236400204727770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5936236400204727770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/11/for-now.html' title='For Now'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-6765986706758865707</id><published>2010-10-22T12:27:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:17:12.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='favorite pairings'/><title type='text'>Another Favourite Pairings</title><content type='html'>&lt;a href="http://i825.photobucket.com/albums/zz172/cindy_seohyun/seohwa.gif"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://i825.photobucket.com/albums/zz172/cindy_seohyun/seohwa.gif" style="cursor: pointer; display: block; height: 380px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This one is just too sweet. Nahahah. XD XD&lt;br /&gt;__&lt;br /&gt;kudos to whoever made this a gif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-6765986706758865707?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/6765986706758865707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/another-favourite-pairings.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6765986706758865707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6765986706758865707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/another-favourite-pairings.html' title='Another Favourite Pairings'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-7341106960761099562</id><published>2010-10-22T10:43:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:17:34.959+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='quotations'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='favorite pairings'/><title type='text'>My Favourite Pairing Ever :)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TMENiIaeyhI/AAAAAAAAAD4/dKKDYjq4Qtw/s1600/harry_potter_hbp54.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530716697412946450" src="http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TMENiIaeyhI/AAAAAAAAAD4/dKKDYjq4Qtw/s400/harry_potter_hbp54.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 213px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" face="lucida grande" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-style: italic; font-weight: normal; text-align: center;"&gt;  &lt;/h6&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Curlz MT&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;"I never really gave up on you, not really. I always hoped... Hermione told me to get on with life, maybe go out with some other people , relax a bit around you, because I never used to be able to talk if you were in the room, remember? And she thought you might take a bit more notice if i was a bit more--myself."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Curlz MT&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-7341106960761099562?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/7341106960761099562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/my-favourite-pairing-ever.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7341106960761099562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7341106960761099562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/my-favourite-pairing-ever.html' title='My Favourite Pairing Ever :)'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TMENiIaeyhI/AAAAAAAAAD4/dKKDYjq4Qtw/s72-c/harry_potter_hbp54.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-7126389476367023956</id><published>2010-10-21T21:19:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:17:46.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Another Four-Leaves Wish</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TMBShYKQ5SI/AAAAAAAAADw/GEH2z6TjIO4/s1600/untitled.bmp"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530511075785631010" src="http://4.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TMBShYKQ5SI/AAAAAAAAADw/GEH2z6TjIO4/s400/untitled.bmp" style="cursor: pointer; display: block; height: 346px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: georgia; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;"Tell me that I'm not the only one who thinks that these coincidences are meant to be..."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-7126389476367023956?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/7126389476367023956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/if.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7126389476367023956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/7126389476367023956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/if.html' title='Another Four-Leaves Wish'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TMBShYKQ5SI/AAAAAAAAADw/GEH2z6TjIO4/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3517209628815897525</id><published>2010-10-19T17:18:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:18:07.224+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>'Sometimes'...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TL19KEWqUKI/AAAAAAAAADo/c7rSn3xSpms/s1600/SJ32.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529713529401790626" src="http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TL19KEWqUKI/AAAAAAAAADo/c7rSn3xSpms/s320/SJ32.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 180px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...I wonder how it feels to sit beside you, one time. It will be just the two of us, in a lonely, shady corridor, hand in hand. The morning wind blows smoothly against our skin, but it feels warm as it sweeps on my cheek. Both of us, sitting deep in solitude, each of us are waiting for just anything. But I will know that this is the time, and it is fate again that set you and me here in this very moment, just like before. As if we're really destined to be together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then I start to speak with this somehow timid, quivering voice of mine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I know I've been acting so strange toward you all this time. But I don't hate you. It's just... I feel like I couldn't be myself when I was around you."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"And why is that?" you ask rather straightaway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...because I've been liking you all this time, moron! Couldn't have you just guessed?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And there will be a long long silence. I may have just started to cry because of the tension. -__-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I know that," you will say, "but you also couldn't have guessed that I may have placed my eyes on you all this time, right? You and I, both of us might've just guessed it right. But how could we be sure if we were just going round and round?" (Round and Round, refers to a song by Selena Gomez :p)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well, everything makes sense now. It doesn't matter anymore," you'll say as you tighten your grip on my hand. "I like you too."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--End--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Nahhh, people are still allowed to dream right? xP I've just been wondering if this damned insomnia of mine can be stopped if I try to convey my feelings. But forget it. I'm not gonna do it. There's no way I'm getting this much courage all of sudden. Lagian, aku masih cinta jantungku. =w=")&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3517209628815897525?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3517209628815897525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/sometimes.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3517209628815897525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3517209628815897525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/sometimes.html' title='&apos;Sometimes&apos;...'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TL19KEWqUKI/AAAAAAAAADo/c7rSn3xSpms/s72-c/SJ32.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3169433128813829136</id><published>2010-10-19T17:02:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:18:21.365+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='songs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fangirling'/><title type='text'>Love Ya Jungmin! :D</title><content type='html'>&lt;a href="http://images.501wangja.multiply.com/image/32i-8hZLXjHM9cfH0xMXlg/photos/1M/300x300/1912/CDocuments-and-SettingsjosephinelaiDesktop5421682020100527135416078.gif?et=8BeZ6XB%2Cu9Pv1VSS%2B9yfww&amp;amp;nmid=0"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://images.501wangja.multiply.com/image/32i-8hZLXjHM9cfH0xMXlg/photos/1M/300x300/1912/CDocuments-and-SettingsjosephinelaiDesktop5421682020100527135416078.gif?et=8BeZ6XB%2Cu9Pv1VSS%2B9yfww&amp;amp;nmid=0" style="cursor: pointer; display: block; height: 169px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 300px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;"I don’t care even if the world becomes my enemy!"&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TL1uKLyfIBI/AAAAAAAAADQ/Pn33eYUeaaM/s1600/52cawg.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529697038723129362" src="http://3.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TL1uKLyfIBI/AAAAAAAAADQ/Pn33eYUeaaM/s200/52cawg.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 116px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooohhh he's totally into it. :D :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See? His expression is really priceless! Totally LOVE YA, Jungmin! XD XD&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TL1ujN_2-3I/AAAAAAAAADY/WUZooZK8K-4/s1600/SS_501day003.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529697468812819314" src="http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TL1ujN_2-3I/AAAAAAAAADY/WUZooZK8K-4/s200/SS_501day003.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 200px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 158px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3169433128813829136?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3169433128813829136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/love-ya-jungmin-d.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3169433128813829136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3169433128813829136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/love-ya-jungmin-d.html' title='Love Ya Jungmin! :D'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TL1uKLyfIBI/AAAAAAAAADQ/Pn33eYUeaaM/s72-c/52cawg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-1635037497691357996</id><published>2010-10-14T20:25:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:14:21.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>I Want You, I Hate You</title><content type='html'>...S-O-S i need more sign. I need you to make MOVES. If you don't then maybe I really should just toss you and all-the-things-that-looks-like-happened-but-actually-did-not-happen between us TO THE HELL. Sheesh... I had enough, thank you.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-1635037497691357996?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/1635037497691357996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/i-want-you-i-hate-you.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/1635037497691357996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/1635037497691357996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/i-want-you-i-hate-you.html' title='I Want You, I Hate You'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-349139333247493111</id><published>2010-10-07T15:00:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:14:30.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>My Biggest Fear Ever</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TK1_pzAURdI/AAAAAAAAACw/VCEMrZVq4-k/s1600/honey%26clover2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525212673896367570" src="http://3.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TK1_pzAURdI/AAAAAAAAACw/VCEMrZVq4-k/s200/honey%26clover2.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 112px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...is to be trapped in one-sided love (again).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-349139333247493111?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/349139333247493111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/my-biggest-fear-ever.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/349139333247493111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/349139333247493111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/my-biggest-fear-ever.html' title='My Biggest Fear Ever'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TK1_pzAURdI/AAAAAAAAACw/VCEMrZVq4-k/s72-c/honey%26clover2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3540092588426598817</id><published>2010-10-01T22:09:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:14:40.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Miracle Potion</title><content type='html'>Well, the last wishes didn't turned out well. And now, everything starts to become EVEN MORE confusing. Oh dear, all these commotions for finding one Clover! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The ingredients for a bottle of Miracle: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Main Ingredients: &lt;br /&gt;1 COURAGE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Other: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 MORE chances &lt;br /&gt;2 MORE topics &lt;br /&gt;3 MORE times &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Additional: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 MORE luck &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks for my Mom for sharing me the recipes. :) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh oh oh I really wish for a happy ending this time please please please!! &amp;gt;.&amp;lt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3540092588426598817?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3540092588426598817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/miracle-potion.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3540092588426598817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3540092588426598817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/10/miracle-potion.html' title='Miracle Potion'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-9156794665985348516</id><published>2010-09-28T17:40:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:14:46.581+07:00</updated><title type='text'>Cloverwishes</title><content type='html'>It's over -__-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-9156794665985348516?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/9156794665985348516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/09/cloverwishes.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/9156794665985348516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/9156794665985348516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/09/cloverwishes.html' title='Cloverwishes'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-8545174564972770648</id><published>2010-09-06T19:08:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:14:57.673+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>The Fainthearted Wanderer</title><content type='html'>Finally the old fears are coming back to me. Its everything from the past that I thought I had gotten rid off. Today, i realized that maybe I still haven't move on from there. Or at least, not far enough. :'(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When you found me smiling, that was because I knew that I shouldn't cry. I laughed not because I found their jokes were funny, i just afraid they'd stop liking me if i didn't. I was always the first to reached out for someone else at our first meetings, but actually all I wanted was for them to realize me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Honestly I'm not such a cheerful, kind-hearted person. I just don't want to be alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who am I kidding anyway? It backfired me later. And now I'm totally hurt. It was the 'spotlight' that drugged me with it pains-relieving capability, but everybody knows that somehing like that won't last forever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All I wish is for somebody to find me.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-8545174564972770648?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/8545174564972770648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/09/fainthearted-wanderer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8545174564972770648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/8545174564972770648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/09/fainthearted-wanderer.html' title='The Fainthearted Wanderer'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-96154842123498146</id><published>2010-09-04T09:49:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:15:15.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Coincidence</title><content type='html'>&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs208.ash2/47134_150853961606270_100000450017458_348337_1620866_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs208.ash2/47134_150853961606270_100000450017458_348337_1620866_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 235px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 159px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coincidence" only has two meanings:&lt;br /&gt;A) Everything--it will lead US to DESTINY.&lt;br /&gt;or&lt;br /&gt;B) Nothing at all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...so where are we going now?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-96154842123498146?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/96154842123498146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/09/coincidence.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/96154842123498146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/96154842123498146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/09/coincidence.html' title='Coincidence'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-2034271077702009057</id><published>2010-09-03T09:43:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:15:28.040+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Fireworks</title><content type='html'>I saw fireworks yesterday, and somehow it reminded me of the one i've seen on the last new year eve... along with all the wishes that i made back then. It was all coming back, and i felt like crying. It was always the same thing that i prayed, each year. But it has never been less disappointing me. Yet somehow i couldn't give it up and stop waiting for miracles to happen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wonder what might happened if i have to wait, again, for another next year? Perhaps i wont be able to bear praying for the same wish again...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://farm4.static.flickr.com/3441/3822079658_56d58b8fdc.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://farm4.static.flickr.com/3441/3822079658_56d58b8fdc.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 500px; margin: 0 10px 10px 0; width: 332px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Between the clattering blast of fireworks, can You still hear me...?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-2034271077702009057?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/2034271077702009057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/09/fireworks.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/2034271077702009057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/2034271077702009057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/09/fireworks.html' title='Fireworks'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm4.static.flickr.com/3441/3822079658_56d58b8fdc_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3945894215048441236</id><published>2010-08-28T20:22:00.002+07:00</published><updated>2012-01-09T15:10:01.006+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grand le gran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fragmen'/><title type='text'>Grand Le Gran - The Wavering Prince</title><content type='html'>Crown ragu-ragu. Kalau boleh dibilang, sebenarnya dia masih belum sepenuhnya mempercayai pria yang mengaku sebagai mata-mata itu. Sah-sah saja mengetahui bahwa Mikhael Truvelanth punya seorang putra bernama Crown Truvelanth, tapi sampai mengenali penampilannya adalah hal lain. Crown tidak ingat pernah bertemu pria ini sebelumnya, juga tidak yakin dia cukup sering keluar ke publik bersama ayahnya untuk dikenali orang selain kenalannya sendiri. Sayangnya pergolakan yang tengah terjadi dalam benaknya seolah tak mau berkompromi. Dia harus bertanya pada seseorang, dan dia yakin pria ini bisa memberinya jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan terlihat kecil dan jauh dari bawah langit Qastal, berbeda dengan Isthanus yang letaknya di atas ketinggian bukit. Sudah lewat tengah malam, tapi jalanan masih ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Pria itu berdiri di tepian sungai yang mengalir di seberang jejeran rumah bata, mengisap sebatang rokok sambil mengamati angkasa. Mantel besarnya tampak beriak tertiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini sudah lewat jam tidurmu, nak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku enam belas tahun, terima kasih,” sahut Crown menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah merasa dewasa, Crown?” goda pria itu. “Punya anak yang keras kepala seperti kau pasti sengsara rasanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown meliriknya dengan alis berkerut. “Jadi benar kau sudah tahu,” katanya getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelayanmu senang bergosip rupanya,” kata Claude menjelaskan, menghembuskan kepulan asap ke udara malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beritanya sudah menyebar ke seisi kota meski orang-orang masih menganggapnya gosip belaka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown membuang napas berat. “Terserahlah. Aku tidak mau membicarakan itu,” tukasnya. “Apa urusanmu di sana berkaitan dengan mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Claude menatapnya dengan senyum jenaka. “Oh? Apa ini berarti kau sudah mempercayaiku?” tanyanya balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya dan tidak,” yang ditanya menjawab malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau baru saja menanyai seorang mata-mata mengenai urusan pekerjaannya, nak. Tahu apa artinya itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak bisa memberitahuku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya tidak,” kata Claude tak berbasa-basi. “Tapi aku pria yang baik, jadi kuhitung kau sebagai bagian dari Truvelanth walaupun kau sendiri sudah membuangnya. Ya, nak. Aku ke sana untuk menemui mereka. Menemui ayahmu tepatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu,” ucap Crown tertunduk. Dugaannya tepat dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sedang berusaha menanyakan kabar ayahmu padaku?” tebak Claude mencoba-coba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown tidak menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentunya ayahmu tidak bergosip denganku soal putranya yang minggat dari rumah, tapi aku yakin dia cemas,” lapor Claude otomatis, tidak memerlukan jawaban pemuda itu untuk memahami gelagatnya. “Mikhael Truvelanth tidak semuda dulu dan semakin kesepian pastinya—setelah putra tunggalnya pergi meninggalkannya. Pria itu keras. Aku yakin dia takkan gentar meski sendirian, tapi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjentikkan abu dari rokoknya sebelum melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...kau tahu Crown, kurasa sesekali menulis surat tidaklah terlalu merepotkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown mendongak menatap kejauhan. Perasaan berat yang selama ini berhasil diabaikannya tiba-tiba muncul ke permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, jangan terlalu banyak berpikir. Serumit apapun masalah hati akan selesai dengan bersikap jujur pada dirimu sendiri,” hibur Claude sementara sebelah kedua tangannya sibuk merogoh sesuatu di balik mantel raksasanya. “Ini. Titipan dari orang rumahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Claude mengeluarkan sebilah benda tipis panjang yang terlihat seperti potongan kayu dari kejauhan. Dia menyorongkannya pada Crown. Menyadari apa itu, Crown terperangah. Sesaat sungguh-sungguh merasa kehabisan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pedang kayu yang dia tahu persis milik siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemuda itu menitipkannya padaku ketika kukatakan aku menuju ke barat,” jelas Claude pendek. “Dia bilang firasatnya mengatakan aku akan berpapasan dengan Tuan Mudanya di jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama terdiam memandangi benda di tangannya, Crown tertawa getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tahu aku tidak bertarung menggunakan ini,” ucapnya parau. “Tidak ada gunanya bagiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Claude menjatuhkan rokoknya ke jalan lalu menginjaknya. “Aku hanya melakukan apa yang diminta,” dia memberi tepukan singkat di pundak pemuda itu sementara beranjak kembali ke sarangnya. “Kau masih harus belajar banyak untuk menjadi dewasa, Crown.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Ngeshare aja. Salah satu part yang paling kusuka di Chapter 5, selain adegan pertempuran antara Miha dan Crown tentu. Khukhukhu XD)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3945894215048441236?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3945894215048441236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/08/grand-le-gran-wavering-prince.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3945894215048441236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3945894215048441236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/08/grand-le-gran-wavering-prince.html' title='Grand Le Gran - The Wavering Prince'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-6478673473273128734</id><published>2010-08-28T19:44:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:10:36.020+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='songs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>Naeng Myeon (Cold Noodles)</title><content type='html'>Lately i found myself become easily attached to songs which match with my mood. Ahaha. Well, honestly, I'm in a loving mood. *blush* ヽ（´ー｀）┌&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This part of song belongs to "Naeng Myeon" (it means Cold Noodles) from Sica-onnie and Park Myeong Soo. Credits to whoever translated it. Cute song. Cute voice. Love it so much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pipiberserakan.files.wordpress.com/2009/12/20090724_jessica_myungsoo_4.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://pipiberserakan.files.wordpress.com/2009/12/20090724_jessica_myungsoo_4.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 300px; margin: 0 10px 10px 0; width: 572px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"If I see you, it's too much. Even if I see you again, it's too much.&lt;br /&gt;It's ice cold. My body's trembling. Naengmyun naengmyun naengmyun.&lt;br /&gt;Though it's chewy, it's too chewy. Naengmyun naengmyun naengmyun."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"But even so... I love you."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I've fallen in love! Omonaaaa... Omonaaa... Haiyaaa!&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (&amp;gt;_&amp;lt;)&amp;gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-6478673473273128734?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/6478673473273128734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/08/naeng-myeon-cold-noodles.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6478673473273128734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6478673473273128734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/08/naeng-myeon-cold-noodles.html' title='Naeng Myeon (Cold Noodles)'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-2706500513113797114</id><published>2010-08-27T20:58:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:10:58.111+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='songs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><title type='text'>"Mister"</title><content type='html'>&lt;a href="http://asianfansclub.files.wordpress.com/2010/02/kara-mister.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://asianfansclub.files.wordpress.com/2010/02/kara-mister.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 399px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 550px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Because (Mister)&lt;br /&gt;I want you so much (Mister)&lt;br /&gt;And because they want you too (Mister)&lt;br /&gt;No one else but you, Mister&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s just that I... (Mister)&lt;br /&gt;...have been watching you all along (Mister)&lt;br /&gt;I just wanna be... (Mister)&lt;br /&gt;...by your side, Mister&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya duduklah di sebelahku dan ajak aku ngobrol, Mister. :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-2706500513113797114?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/2706500513113797114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/08/mister.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/2706500513113797114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/2706500513113797114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/08/mister.html' title='&quot;Mister&quot;'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3464132014106749408</id><published>2010-07-21T22:32:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:11:22.113+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems'/><title type='text'>Sketsa Langitku</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TEcW77op1_I/AAAAAAAAAAw/ozScn3X1K1U/s1600/299379728_703b119beb.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496387089105278962" src="http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TEcW77op1_I/AAAAAAAAAAw/ozScn3X1K1U/s200/299379728_703b119beb.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 200px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 150px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan cemas, aku tidak akan melompat! Kau, kau, dan kau juga. Berhentilah menatapku bertanya ataupun berbisik-bisik dengan temanmu itu sambil menunjuk punggungku. Sebab sekalinyapun aku tak ada pikiran untuk melakukan aksi terjun bebas. Tidak, jangan khawatir! Aku tahu pemandangan menjijikan tentang kubangan darah milik seorang pecundang yang tubuhnya remuk setelah jatuh ke lantai terbawah sama sekali bukan tontonan favorit kalian. (Meski anehnya kalian tetap suka menghabiskan banyak waktu berkerumun di sekitar prosesi penggotongan mayat ke dalam ambulans.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika secara kebetulan kalian memergokiku menangisi kejauhan dari atas teras balkon milik gedung yang paling tinggi di kota ini—bukan berarti aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Bukan.&lt;br /&gt;Aku hanya sedang mencari-cari sudut yang lebih baik untuk memandang langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab sesungguhnya setiap orang melihat langit yang berbeda, baik itu birunya ataupun mataharinya. Dan segera setelah hujan yang tidak pernah tahu kapan waktunya untuk berhenti ini berlalu dari langitku, aku kan bersiap lari, sekali lagi susuri garis horizon sambil rentangkan tangan memeta sketsa langit yang kupilih sendiri. Supaya jika sekali-kalinya lintasanku ada dalam pengelihatan-Mu, kiranya Kau bisa menuntunku ke tempat dimana langit terlihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;persis seperti itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3464132014106749408?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3464132014106749408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/sketsa-langitku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3464132014106749408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3464132014106749408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/sketsa-langitku.html' title='Sketsa Langitku'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dGcKe3PpaQk/TEcW77op1_I/AAAAAAAAAAw/ozScn3X1K1U/s72-c/299379728_703b119beb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-5922017045627580534</id><published>2010-07-21T22:31:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:12:22.228+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems'/><title type='text'>Fatamorgana</title><content type='html'>Kalau saja aku bisa&lt;br /&gt;sisipkan sekeping sihir dalam mimpi-mimpi surga&lt;br /&gt;milik&lt;br /&gt;kau dan aku&lt;br /&gt;...mungkinkah menjadi satu?&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Akankah itu..?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Tetapi&lt;br /&gt;fajar keburu datang,&lt;br /&gt;hempaskan aku.&lt;br /&gt;Dan senyummu pun meluntur jauh hingga batas maya,&lt;br /&gt;tinggalkan aku.&lt;br /&gt;: &lt;i&gt;Sebab di penghujung mimpi, aku melepaskan tanganmu.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-5922017045627580534?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/5922017045627580534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/fatamorgana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5922017045627580534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/5922017045627580534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/fatamorgana.html' title='Fatamorgana'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-3212720147629886230</id><published>2010-07-21T22:25:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:12:50.324+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curcol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendek'/><title type='text'>Cinderella Juliet</title><content type='html'>Bukannya aku seorang puteri, yang jelita dalam imajinasi dan tinggal dalam kastil mimpi. Memakai gaun peri berwarna pelangi, meniup balon-balon busa berbentuk hati, sambil bermain di atas ayunan yang terjalin dari kembang warna-warni, lalu mengayun terbang menembus awan-awan merah jambu di langit tinggi. Tidak, itu bukan aku, pangeran. Aku hanyalah seorang pemimpi yang gemar menyanyikan lagu roman picisan selagi mengupasi kentang dan bawang, yang berteman dengan tikus-tikus juga para ternak. Dengan mengenakan celemek kotor, aku berdiri di muka jendela memandangi kastil yang menjulang di atas bukit setiap pagi, mengkhayalkan kehidupan yang berjalan di dalamnya. Sedangkan di lantai bawah sana, teko dan panci mulai memanggil-manggilku kembali masuk ke dalam realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pertemuan kita seakan menjadikanku seorang puteri seketika itu juga, dimana waktu adalah si ibu tiri yang jahat—ketiga jarumnya adalah dua kakak tiri serta si kucing nakal. Dan kita dipisahkan seperti Romeo dan Juliet. Tercabik antara siang milik Capulet dan malamnya Montague. Ah, andai sang penanda waktu tidak segera berdentang kala tengah malam tiba, mungkinkah aku sempat mengatakan sesuatu sebelum langkah-langkah membawaku pergi jauh darimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh pangeran yang sudah kusukai sejak aku melihatmu mengagumi iris yang tumbuh di kebunku, kuharap kau sadar bahwa di hari pertemuan kita yang pertama dan terakhir itu, aku meninggalkan sebelah pasang sepatu kacaku di tangga kastilmu. Dengan harapan kau akan menemuiku lagi di kemudian hari untuk mengembalikannya. Jika benar bunga irisku adalah sihir yang memasangkan gaun keperakkan ini di tubuhku dan mengubah labu menjadi kendaraanku, maka biarlah takdir mempertemukan kita sekali lagi sebelum kelopaknya berguguran dan ia mati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-3212720147629886230?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/3212720147629886230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/cinderella-juliet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3212720147629886230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/3212720147629886230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/cinderella-juliet.html' title='Cinderella Juliet'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-6454284082944450996</id><published>2010-07-21T21:54:00.005+07:00</published><updated>2012-01-09T15:13:36.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grand le gran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fragmen'/><title type='text'>Grand Le Gran - Prologue: A Suspended Night</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bara merah tua Ilheus, tunjukkan kuasamu.&lt;br /&gt;Roh kedamaian, keadilan, penerimaan. Api Kebijaksanaan.&lt;br /&gt;Sayap Timur Sang Kehendak Roh, wakil dari Kebenaran.&lt;br /&gt;Beri kekuatan pada jiwa yang rapuh dan lemah.&lt;br /&gt;Lenyapkan kedustaan, bersihkan kekotoran.&lt;br /&gt;Bunga api Ilheus, jawablah panggilan orang yang membangunkanmu.&lt;br /&gt;Hantarkan kami kepada Revirtha Vasnor, jalan menuju Luertha-Ehland—Tanah Surga.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jauh menembus kegelapan belit sulur-sulur yang memanjang juga gemerisik semak-semak, terdengar sebuah nyanyian. Lembut menggema seirama detak-detak jantung, demikian halus seolah melantun di dalam hati dan bukannya di suatu tempat yang tidak bisa dilihat maupun dijangkau. Menceritakan potongan melodi takdir yang disenandungkan berulang-ulang hingga mencapai akhir dunia. Mistik itu adalah nyawa yang mengalir di setiap jengkal bagian dari Pohon Kehidupan, Magnadia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi menembus akar-akarnya yang saling bertindihan membentuk pusaran menuju inti, tersisa pada dasarnya sebuah ruang bundar yang luas juga gelap. Duduk bertelut dikelilingi bulir-bulir cahaya keemasan Spirits yang melayang lamban menuju ke atas bagikan kunang-kunang, adalah seorang perempuan berambut sangat panjang berjubah putih. Kulitnya pucat seperti tidak pernah bersentuhan dengan sinar matahari. Lekuk wajahnya mulus, dengan bulu mata yang panjang, dan tulang pipi yang tinggi. Jemarinya yang lentik membelai rambut sesosok gadis lain, yang tampaknya jauh lebih muda. Berbaring telentang di atas pangkuannya, memandang kosong pada langit-langit berupa kegelapan pekat dengan kedua matanya yang merah sewarna darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini aku tak mendengar apa-apa selain bisikan kegelapan.&lt;br /&gt;Api dingin membekukan. Api dingin menghanguskan.&lt;br /&gt;Pedang bermata dua yang berjuluk kebencian.&lt;br /&gt;Jiwa yang menggigil. Terdiam lama. Darah membeku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu disenandungkan oleh sang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senandung yang tragis sekali,” bisik si wanita berkomentar sendu. “Adakah sesuatu membuatmu sedih, Fraginku sayang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bosan,” jawab gadis bernama Fragin itu. “Dan kesepian juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesepian?” tanya si wanita lagi seakan jawaban itu mengganggunya. “Tidakkah aku cukup untukmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang alis mata Fragin bergerak turun membentuk sebuah ekspresi yang lebih suram ketimbang sebelumnya. “Tapi kau sudah lama tak turun kesini menemuiku,” katanya menuduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak wanita itu melempar kedua alisnya ke atas, namun kemudian dia tersenyum tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada banyak hal yang harus kuurus akhir-akhir ini,” ujarnya memberi pengertian. “Karena sekarang karena kita berdua sudah di sini, bagaimana kalau aku menceritakanmu sebuah dongeng? Agar kau tidak bosan lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedengarannya menyenangkan,” komentar Fragin datar seakan dia tak bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahukah kau, dahulu kala untuk waktu yang sangat-sangat lama, manusia hidup berdampingan dengan para Spirits di atas tanah Surga?” tanya sang wanita seraya menerawang. “Menjalani tahun-tahun penuh kebahagiaan, ketika umat manusia tidak mengenal kekurangan maupun kesedihan. Yang ada hanyalah suka cita dan kedamaian…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fragin mendelikkan bola matanya yang merah, menatapnya seakan curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi semua itu berubah ketika kegelapan mulai merajai hati manusia. Kemakmuran berlimpah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Tanah Surga justru menjerumuskan manusia ke dalam pertentangan. Dendam. Ketidakpuasan. Iri hati. Kebencian. Semua itu merasuki umat manusia hingga perlahan jiwa mereka menjadi kotor. Tanpa bisa dielakkan lagi, perang pun meletus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang Kehendak Spirits mengawasi segala yang terjadi bersama dengan para Spirits lainnya. Dalam kemurkaannya, Sang Kehendak Spirits menggariskan kehancuran sebagai hukuman atas keserakahan seluruh umat manusia. Bencana mulai datang di Tanah Surga atas kesalahan seluruh umat manusia. Sesaat, bagi manusia seakan hanya ada kegelapan menanti di masa depan. Pada saat itulah Maiden Magnadia tampil sebagai harapan terakhir yang dimiliki umat manusia. Ia membuat kesepakatan dengan Sang Kehendak Spirits untuk mengorbankan dirinya sebagai ganti keselamatan jiwa seluruh umat manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Magnadia…” celetuk Fragin menyela, mengangkat kedua tangannya untuk menangkap cahaya-cahaya yang beterbangan menuju kegelapan di atas. “Inilah Magnadia, benar begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” senyum si wanita. “Tempat inilah yang disebut Magnadia. Para Spirits memandang dan menghargai pengorbanannya. Mereka mengikatkan jiwa-jiwa manusia yang telah terbuang kepada Magnadia, yang atas pengorbanannya menjelma menjadi Pohon Kehidupan. Inilah janji Sang Kehendak Spirits akan sebuah bentuk penebusan, yang bilamana dijalankan dengan sungguh-sungguh, umat manusia akan diberi kesempatan untuk kembali ke Tanah Surga… suatu hari nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fragin duduk tegak tiba-tiba sekali. Wajahnya yang dibingkai rambut kecoklatan panjang tampak gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika aku tak salah ingat,” ujarnya, “ini bukan kali pertama kau menceritakan ini padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah reaksi ini tidak mengejutkan, tak ada perubahan dalam air muka sang pencerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang Kehendak Spirits…” kata Fragin lagi lambat-lambat. “Dialah alasan mengapa aku terkurung di sini hampir seumur hidupku, kan…?! Benarkahkah ini yang hendak kau sampaikan padaku? Bahwa Magnadia adalah…?” Dia menambahkan kepada si wanita. Kedua matanya menyipit benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Takdirlah yang harus disalahkan, sayangku.” Wanita itu membelai sebelah pipinya dengan punggung tangannya, prihatin. “Kaulah sang terpilih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ekspresi nanar tergurat di wajah sang gadis bermata merah. “Aku benci…” bisiknya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Takdir adalah hukum. Kekuatannya tak bisa ditentang. Kita semua tak lebih dari pion yang digerakkan olehnya,” kata si wanita menghela napas. “Tapi percayalah padaku, segalanya akan berubah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fragin mendongak menatapnya tajam. “Berubah? Benarkah...?” tanyanya meragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari dimana nasib manusia akan berubah sekali untuk selamanya telah digariskan oleh para Spirits,” kata si wanita dengan senyuman yang entah bagaimana membuatnya tampak tak manusiawi. “Ketika tiba saatnya nanti, akulah yang akan membebaskanmu dari cengkeraman takdir, Fragin sayangku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si wanita dengan figur seputih salju melangkah menyusuri koridor-koridor temaram yang menghadap balkon. Ujung jubahnya membelai lembut permukaan lantai kaca. Di balik semak-semak terlihat hari masih gelap, kendatipun sudah lepas tengah malam. Sebuah sosok terlihat bersandar pada dinding, melipat tangannya dari balik bayang-bayang kegelapan. Melihatnya, sang wanita menghentikan langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat sekali kau datang,” tukasnya, tampak puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan keluar dari bayang-bayang, adalah seorang pemuda berambut gelap serta berpenampilan serba hitam yang nyaris tak berekspresi. Sebilah anting panjang berwarna biru tergantung di telinga kirinya, tampak berkilat-kilat mengikuti gerak tubuhnya dalam kegelapan. Tatapannya disipitkan memandang si wanita. Dengan pandangannya yang mematikan juga sinar matanya yang suram, orang biasa pastinya sudah lari ketakutan. Tapi wanita ini hanya diam di tempatnya sambil mendengus geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti tertawa,” sergahnya kasar. “Kau membuatku mual. Tentunya kau tidak memanggilku kemari hanya untuk memamerkan betapa buruknya selera humormu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ayolah. Jangan terlalu keras pada ibumu ini...” kata si wanita dengan nada memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bukan ibuku,” sela si pemuda tak berbelas kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan ini menyurutkan senyum di wajah sang wanita. Sesaat wajahnya yang pucat membayang menakutkan di atas temaram cahaya lilin yang dipegangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengerti. Kau sedang tidak ingin bermanis-manis denganku, Miharu...?” tanyanya dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan aku pernah?” Pemuda yang dipanggil Miharu itu balik bertanya jijik. “Langsung saja. Kau ingin aku melakukan sesuatu berkaitan dengan segel Ilheus yang baru dilepas itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat sekali,” sahut si wanita membenarkan. Tak ada lagi sisa keramahan di wajahnya. “Baguslah kalau kau sudah mendengarnya... Itu mempermudah pembicaraan kita. Seperti yang kaudengar, kristal Ilheus telah dibebaskan dari segelnya. Tak diragukan lagi ia akan mencari tahu mengenai… perannya. Dan tugasmulah untuk membawakan hasil pencariannya kepadaku, seperti apapun bentuknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hasil...?” Miharu mengernyit seakan ada ombak besar menyapu permukaan wajahnya yang biasanya tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua sudut bibir si wanita tertarik membentuk sebuah senyuman misterius. “Kau akan tahu begitu tiba saatnya,” jelasnya. “Cukup ikuti saja perkembangannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah kehabisan kata-kata, Miharu terdiam, mulai memandangi wanita di hadapannya dengan mimik bingung, kesal, terganggu, kemudian seolah dia berkesimpulan bahwa wanita ini gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi bagaimana?” desak si wanita lagi. “Kau bersedia melakukannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau merencanakan sesuatu,” kata Miharu kemudian, yang merupakan pernyataan, bukan pertanyaan. Namun si wanita tidak menyangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ini berarti kau menolak melakukannya, anakku?” tanyanya, mengamat-amati ekspresi pemuda itu dengan raut wajah menantang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seraya mendengus keras si pemuda berbalik kembali ke balik kegelapan. Namun sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, dia berpaling untuk kedua kalinya, menghadapi sang ibu dengan mencela. “Tentu saja tidak,” senyumnya sinis. “Aku tak pernah punya pilihan kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bersamaan dengan bunyi gemerisik semak-semak yang terdengar samar-samar menjauh, sosok si pemuda sudah tak lagi terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kardinal Elssworth!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu menjeblak terbuka, mendadak memecahkan kesunyian mistis yang tadinya melingkupi sebuah ruangan lebar berlangit-langit tinggi. Ruangan itu polos, nyariss tanpa suatu ornamen pun menutupi permukaan lantainya yang berlapis karpet. Satu-satunya benda yang tampak menghuninya adalah sebuah patung berukuran raksasa, melukiskan sesosok manusia tengah merentangkan tangan dengan kedua mata terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemecah kesunyian, adalah seorang laki-laki berusia akhir dua puluhan. Sosoknya tinggi, tegap, dan bercambang dengan gurat wajah—yang biasanya—bersahabat. Namun kali ini raut wajahnya seperti terganggu oleh sesuatu, dan sesuatu itu kiranya adalah penyebab kedatangannya yang terburu-buru ke tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah sosok lain berdiri memunggunginya jauh di seberang ruangan, mendongak memandangi si patung. Rambutnya yang ungu kehitaman panjang hingga sebatas pinggang, berdesir luwes seiring gerak tubuhnya yang sebetulnya terbatas. Dia mengenakan jubah yang terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang kurus, hampir ringkih. Sejenak, si laki-laki pengganggu masih bisa mendengar komat-kamit bisikkannya yang seolah tak tersentuh oleh kedatangannya. Tapi kemudian, sosok itu menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa begitu ribut, Hiram?” tanyanya dengan gema memantul-mantul di sepanjang dinding ruangan yang nyariss kosong melompong. “Kau berisik seperti biasa. Tidak tahukan kau ini sudah lewat tengah malam? Atau… jangan bilang padaku kau lebih berisik menjelang malam daripada siang-siang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persetan dengan itu,” gerutu Hiram, melangkah mendekat dengan langkah-langkah keras tak sopan, meski lawan bicaranya ini bisa dibilang atasannya. “Dan jangan berani-berani bertanya ‘kenapa’ seolah-olah masalahnya ada di tempat lain dan aku sedang membawanya ke depan hidungmu! Kau dan apa yang sedang kaulakukan itulah mengapa aku mau repot-repot menyambang kesini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa ralat, Hiram. Satu, aku tidak ‘sedang’ melakukannya, aku sudah selesai. Dua, ini sama sekali bukan masalah, karena aku mendapat perintah langsung dari Atas. Tiga, tidak ada yang menyuruhmu repot-repot menyambang kesini—ini bahkan tidak ada hubungannya denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ap-apa?! Kau sudah…? Tunggu—kau bilang ini tidak ada hubungannya denganku?! Enak saja! Kalian orang-orang Atas dengan seenaknya melakukan ini dan itu sambil enak-enakan bersembunyi di balik meja, lalu siapa yang akan mengurus semuanya kalau ‘hal-hal tidak berjalan sebagaimana mestinya’?? Aku! Bisa-bisanya kau bilang—”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah… Baiklah… Kuralat lagi. Maksudku ini tidak ada hubungannya dengan pendapat-mu,” potong sang Kardinal tanpa sedikitpun maksud meringankan kekesalan lawan bicaranya. “Pihak Atas sudah mempertimbangkannya matang-matang, dan tidak menyisakan apapun yang bisa dilakukan untuk mengubah keputusannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram mendesah panjang, masih sebal. Tapi ada lebih banyak hal yang lebih berarti untuk dikonfrontasi daripada beradu argumen dengan makhluk satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku khawatir,” tukasnya spontan, meneliti si patung yang berdiri menjulang di hadapan keduanya. “Melepas segel Ilheus… Aku tak menyangka pihak Atas akan menetapkan saat ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Kardinal mendengus. “Aku pun sebenarnya tidak setuju,” komentarnya dengan nada ketidaksukaan yang tak ditutup-tutupi. “Meski sebenarnya cepat atau lambat pola seperti ini pasti terjadi sebagaimana terpeta di dalam Eimnor. Tetap saja… aku tak bisa mencegah diriku sendiri berpikir bahwa ada terlalu banyak resiko yang akan bermunculan. Sayang sekali aku tak punya kuasa untuk mencegahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram meliriknya. Dia sudah mengenal Kardinal Elssworth jauh sebelum keduanya berada dalam posisi seperti sekarang. Dan dari caranya berbicara, Hiram yakin betul bahwa selain sama-sama khawatir, dia juga mendapat firasat sangat buruk. Ini bukan pertanda baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau… sedang memikirkan sesuatu yang lain, Kardinal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardinal balik meliriknya. “Aku hanya menduga ada pihak tertentu yang memanipulasi Atas. Pihak ini mungkin sekali memiliki rencana terselubung berkaitan dengan resiko-resiko yang akan timbul, apabila firasat burukku benar-benar jadi kenyataan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu… konspirasi? Oh—!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram buru-buru menutup mulut begitu mendapatkan isyarat diam dari sang Kardinal. “Aku sudah memberitahumu,” katanya. “Berhati-hatilah agar tidak berisik soal ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menelan ludah dengan susah payah, Hiram berdeham melanjutkan. “Lalu… apa yang harus kita lakukan sekarang setelah semuanya jadi seperti ini, bisa dibilang kita...errr, memasuki babak baru? Apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Situasi masih belum bisa diprediksi,” jawab Kardinal Ellsworth sementara dahinya yang mulus berkerut seperti mencoba memikirkan yang tak bisa dijangkau. “Kusarankan kita bertindak ekstra hati-hati mulai dari sekarang. Peringatkan anak-anak buahmu, Hiram. Awasi baik-baik keadaan di luar, sementara aku mencoba mengendalikan hal-hal yang ada di dalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti biasa.” Hiram menyeringai. “Meski tidak akan semudah melakukannya dulu. Menyebalkan mengakuinya, tapi setelah ini tidak banyak lagi yang bisa kita lakukan selain bersiap untuk yang terburuk dan berdoa untuk yang terbaik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini giliran sang Kardinal menghela napas panjang. “Benar sekali,” tukasnya muram. Dia mendongak sekali lagi memandang wajah si patung yang memejam damai, mengingat-ingat sepotong larik yang selalu diandalkannya pada saat-saat sulit seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita hanya bisa berdoa kepada Spirits… Semoga Ilheus memberikan jalan yang terbaik bagi kita...”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sudah uzur, tapi hari masih baru. Cangkang kelabu malam telah bergeser jauh ke ufuk barat, sedang matahari masih setengah mengantuk duduk di peraduannya. Kabut-kabut tipis menggantung di udara kota, ogah-ogahan meninggalkan dingin malam yang tersisa sendirian. Sementara di kediaman besar Truvelanth aktivitas yang paling dominan masih melibatkan banyak dengkuran ketika Mathiu berjalan keluar dari ruangan pribadinya, menyusuri koridor-koridor dengan menyampirkan dua bilah pedangnya di pundak, salah satunya tak lebih dari pedang kayu sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat pagi, Tuan!” salam seorang gadis berseragam pelayan ketika dia tiba di pekarangan, agak kelewat ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mathiu mengangkat alis melihatnya, melirik ember-ember besar berisi air yang ditentengnya dan sumur kecil di hadapannya dengan penuh minat. Gadis pelayan itu tidak terlihat lebih tua dari lima belas tahun dan bertubuh ringkih, tapi tak diragukan lagi cukup kapabel menangani pekerjaan berat. “Selamat pagi juga… Ardis.” Dia nyengir, butuh beberapa waktu untuk mengingat nama si pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangun pagi untuk berlatih, Tuan?” tanyanya yang dijawab Mathiu dengan anggukan. “Benarkah apa yang kudengar, Tuan Besar akan pulang hari ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyonya pastilah senang sekali,” kata Ardis tampak bersyukur. “Tapi sepertinya Tuan Muda tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari apa maksudnya, Mathiu menahan diri untuk tidak mendengus tertawa. “Ya, Tuan juga tidak terlalu senang melihatnya semenjak ribut-ribut besar tempo hari. Setiap kali Tuan mengajaknya bicara dari hati ke hati, ujung-ujungnya selalu bertengkar—ups, aku terlalu banyak bicara. Bisakah aku minta tolong supaya kau melupakannya saja...?” tambahnya setengah hati, menggaruk-garuk kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardis membelalak. “Anda berharap aku tidak mengatakannya pada siapa-siapa?? Tapi ya—tentu jika Anda menginginkannya demikan... Anda bisa percaya padaku,” katanya dengan senyum dikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya sih tidak,” kata Mathiu kalem, yang segera dibalas dengan cengiran lebar dari lawan bicaranya. Tentu saja. Sudah bukan rahasia lagi betapa tak ada yang lebih disenangi para pelayan Guild pembasmi Forlon terkemuka, Truvelanth, selain menggosipkan keluarga majikannya di belakang atau kepada tetangga yang kurang kerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardis berdeham pelan. “Sebetulnya, kami hanya tidak mengerti kenapa Tuan Besar begitu risau soal ini,” katanya. “Tuan Muda sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri, sedangkan dia sudah punya orang seperti Anda dalam kantongnya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ini, Mathiu mengerutkan kening. Tidak menyukai apa yang didengarnya. “Ardis...” dia memulai, tapi si gadis pelayan buru-buru memperbaiki ucapannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku jika kedengarannya lancang, Tuan Mathiu,” ringis Ardis. “Itu hanya apa yang kami, para pelayan, pikirkan. Kupikir ada baiknya Anda tahu; Kami sepenuhnya mendukung Anda seandainya Tuan Muda tidak menginginkan posisinya. Penyelesaian seperti itu tidak memberatkan siapa-siapa, kan...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku keberatan,” tukas Mathiu tegas. “Crown temanku. Aku menolak mengambil apa yang menjadi haknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak keberatan,” sela sebuah suara yang menyebabkan Mathiu langsung merinding seperti masuk angin. Sedangkan Ardis yang lebih malang memekik kaget. Wajahnya memutih seperti kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang muncul dari balik pintu geser adalah seorang remaja laki-laki dengan rambut mencuat-cuat, membawa ransel khusus bepergian dan mengapit sebuah buku besar di dadanya. Jangkung, kurus, dan berwajah pucat rupawan dengan sedikit kesan sarkastis; Mereka berhadapan dengan—tak lain tak bukan—satu-satunya putra pemilik Guild Truvelanth; Crown Truvelanth. Ekspresinya hampir tak bisa ditebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“T-Tuan Crown...” gagap Ardis. “Aku tidak bermaksud...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lupakan saja,” tepis Crown tanpa memandangnya. “Toh ucapanmu memang masuk akal. Bagaimana menurutmu, Mathiu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Mathiu mengeras ketika dia menatap tajam pemuda itu. Peka terhadap suasana di antara kedua majikannya, Ardis buru-buru minta diri. Hampir berlari, dia langsung melesat menghilang di balik pintu dengan meninggalkan genangan air besar-besar tercecer dari embernya. Tapi baik Mathiu maupun Crown rupanya tidak memperhatikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak serius, Crown,” bantah Mathiu was-was.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tebak saja,” kata yang bersangkutan sambil menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mau kemana?” tanya Mathiu, mendadak berubah galak. Memandang bergantian Crown dan ransel bepergiannya. Dia dan Crown sudah berteman sangat lama, cukup lama hingga melalui tahap dimana dia bebas berbicara dengannya menggunakan nada bagaimanapun yang dia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembali ke akademi,” jawab Crown agak bersemangat. “Liburan musim panasku sudah selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Mathiu memicingkan matanya. “Crown, ayahmu melarangmu kembali ke tempat itu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...ya, untuk alasan yang teramat sangat konyol...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teramat sangat masuk akal,” bela Mathiu. “Ayahmu melarangmu belajar sihir karena dalam periode sekarang ini, dimana hubungan antara biara dan pemerintah kerajaan tidak mungkin lebih buruk lagi, belajar sihir sama saja dengan menunjukkan keberpihakan pada biara...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kan menurutnya. Dan kita tahu betapa sempitnya pandangan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak tahu keadaan di luar sana. Tinggal tunggu waktu sampai orang-orang kerajaan terang-terangan menangkapi para pengikut biara satu demi satu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Separuh dari siswa akademi keturunan bangsawan dan mereka mempelajari sihir, apakah itu menjadikan mereka pendukung biara Vihelvanja?” sanggah Crown membandel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanyaan bagus,” kata Mathiu sabar, tersenyum. “Kita sudah kembali pada pokok permasalahan. Kau satu-satunya penerus Guild ayahmu, Crown. Selama ini kita sudah kesulitan mempertahankan posisi netral, tidak memihak baik Vihelvanja maupun pemerintah. Sungguh tidak lucu kalau kau, anak ayahmu sendiri, belajar sihir sementara kami mati-matian mempertahankan ketidakmemihakan ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown terdiam mengawasi Mathiu yang lebih tua beberapa tahun darinya sejenak sebelum mengeluarkan argumen lainnya, kemudian dia menghela napas. “Itulah mengapa kukatakan aku tidak lagi sepaham dengan kalian,” katanya membuang pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak yakin aku mengerti maksudmu, Tuan Muda.” Mathiu mengernyit bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya adalah,” ujar Crown berat, “Seperti yang kaukatakan, perang akan meletus sebentar lagi. Selama ini kita bergeming terhadap konflik yang terjadi antar biara dan pemerintah. Tapi ketika perang sungguh-sungguh terjadi, apa Truvelanth akan diam saja menyaksikan orang-orang saling membunuh...?” dia bertanya, menatap lurus kedua mata lawan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tugas utama kita adalah…” Mathiu memulai, tapi Crown menyelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…melindungi rakyat dari Forlorn? Menurutmu apakah membiarkan negeri ini terpecah oleh perang perebutan kekuasaan yang tidak ada habisnya akan mengakhiri epidemi Forlorn?” desaknya. “Kita tak bisa terus bersikap netral, Mathiu. Itu egois.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mathiu tertegun. Bertahun-tahun mengenal Crown, dia sudah paham betul sifat keras kepalanya serta pola pikirnya yang idealis. Tak terhitung kali dia mempercayakan pemikirannya yang acapkali tak sejalan dengan aturan keras ayahnya kepada Mathiu, tapi dia tak pernah benar-benar menyangka akan datang harinya dimana Crown sungguh-sungguh serius bersikeras menentang kebijakan Guild habis-habisan. Meski bisa saja menyanggahnya, dia toh harus mengakui ada kebenaran dalam kata-kata itu yang tak mungkin diabaikan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengenalmu Crown, dan aku yakin tak ada gunanya mencoba membelokkan pikiranmu. Kurasa kau sudah muak dengan tempat ini…?” tambahnya, meringis getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown tidak langsung menjawab. Sementara mengamatinya berpikir, mau tidak mau Mathiu membatin betapa jauh lebih baik jika Crown masih anak-anak yang bisa dinasihati dengan gampangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak pernah sekalipun aku punya pemikiran untuk membenci tempat ini—membenci ayahku,” kata Crown pahit. “Tapi jika dia tidak bisa menerima pilihanku mengenai studiku, maka dia juga takkan bisa menerima pendapatku mengenai semua ini. Aku sudah memikirkannya lama sekali, dan kusimpulkan bahwa lebih baik bagiku untuk pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mathiu terdiam sebentar, menghela napasnya ke atas angkasa. Hari yang cerah. Entah apa yang salah sehingga hal seperti ini harus terjadi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…tidak mau memikirkannya sekali lagi?” dia melirik pemuda itu, nyengir penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Crown tersenyum sedikit, menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar kau menyebalkan,” gerutu Mathiu meski dia lebih terlihat pasrah daripada marah. Tak ayal dia mendorong belakang kepala Crown dengan sebelah tangannya hingga pemuda itu nyaris kehilangan keseimbangan. “Kau dan kepala batumu itu… Akan lebih baik jika aku bisa mengatakan sesuatu untuk memecahkannya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan coba-coba,” kata Crown geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ayahmu tahu ini, dia mungkin akan memutuskan untuk berhenti mengakuimu sebagai anaknya,” kata Mathiu lagi, lebih serius. “Apa pendapatmu soal itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crown mengangkat bahu, lalu melirik temannya dengan tatapan penuh arti. “Yah… setidaknya dia masih bisa mengandalkanmu,” tukasnya enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum samar dengan ekspresi agak kosong, Mathiu memaksakan dirinya tersenyum. Sudah sepuluh tahun berlalu semenjak Mikhael Truvelanth menyelamatkannya dari pembantaian sekelompok Forlorn di desa asalnya, dimana dia kehilangan kedua orangtuanya dan adiknya sekaligus. Pengabdiannya selama ini hanya ungkapan terima kasih serta hormatnya terhadap sang pemilik Guild. Tak pernah sekalipun terpikir olehnya bahwa suatu hari nanti dia akan berada dalam posisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan absennya pembicaraan, Crown membenarkan letak ransel di pundaknya. Kemudian dia menoleh, menatap Mathiu untuk terakhir kalinya sebelum mengambil langkah terakhir menuju dunia luar di balik pintu depan, menunggu kalau-kalau pria itu masih ingin mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah aku akan bertemu denganmu lagi?” tanya pria itu, mendongak dengan kekecewaan yang tak lagi dapat ditutup-tutupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa tidak,” jawab Crown jujur, tersenyum menyesal. “Tapi aku berharap begitu, jadi siapa tahu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Next: &lt;a href="http://chiecloverwitch.blogspot.com/2011/02/before-revised-grand-le-gran-chapter-2.html"&gt;Chapter 1&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-6454284082944450996?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/6454284082944450996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/grand-le-gran-prolog-revised.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6454284082944450996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/6454284082944450996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/grand-le-gran-prolog-revised.html' title='Grand Le Gran - Prologue: A Suspended Night'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-860678019435891632.post-2988414506512676949</id><published>2010-07-21T20:43:00.001+07:00</published><updated>2012-01-09T15:08:48.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cloverwitch'/><title type='text'>Meet Me, The Lucky Witch ;)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;"I'm a witch. I explore Dreams, I paint with Imaginations, I carve Emotions. I'm looking for clovers, I'm searching for luck... as I travel to find the meaning of living in the world called 'Reality'."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;Hanya seorang gadis biasa; Menyukai sastra; terutama kisah-kisah fantasi yang penuh imajinasi, kisah cinta yang bermakna tanpa harus menjadi klise, dan tulisan-tulisan tentang pendalaman jati diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;http://www.kemudian.com/users/chie_chan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=100000450017458&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;http://cloverwitch.livejournal.com/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/860678019435891632-2988414506512676949?l=chiecloverwitch.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/feeds/2988414506512676949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/meet-me-lucky-witch.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/2988414506512676949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/860678019435891632/posts/default/2988414506512676949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chiecloverwitch.blogspot.com/2010/07/meet-me-lucky-witch.html' title='Meet Me, The Lucky Witch ;)'/><author><name>C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08149722556519323883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://3.bp.blogspot.com/-knxB2JlEGMc/TwqgPGdKUxI/AAAAAAAAAGc/3adLTrJrHvM/s220/Photo0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
