“Bara merah tua Ilheus, tunjukkan kuasamu.
Roh kedamaian, keadilan, penerimaan. Api Kebijaksanaan.
Sayap Timur Sang Kehendak Roh, wakil dari Kebenaran.
Beri kekuatan pada jiwa yang rapuh dan lemah.
Lenyapkan kedustaan, bersihkan kekotoran.
Bunga api Ilheus, jawablah panggilan orang yang membangunkanmu.
Hantarkan kami kepada Revirtha Vasnor, jalan menuju Luertha-Ehland—Tanah Surga.”
***
Jauh menembus kegelapan belit sulur-sulur yang memanjang juga gemerisik semak-semak, terdengar sebuah nyanyian. Lembut menggema seirama detak-detak jantung, demikian halus seolah melantun di dalam hati dan bukannya di suatu tempat yang tidak bisa dilihat maupun dijangkau. Menceritakan potongan melodi takdir yang disenandungkan berulang-ulang hingga mencapai akhir dunia. Mistik itu adalah nyawa yang mengalir di setiap jengkal bagian dari Pohon Kehidupan, Magnadia.
Lebih jauh lagi menembus akar-akarnya yang saling bertindihan membentuk pusaran menuju inti, tersisa pada dasarnya sebuah ruang bundar yang luas juga gelap. Duduk bertelut dikelilingi bulir-bulir cahaya keemasan Spirits yang melayang lamban menuju ke atas bagikan kunang-kunang, adalah seorang perempuan berambut sangat panjang berjubah putih. Kulitnya pucat seperti tidak pernah bersentuhan dengan sinar matahari. Lekuk wajahnya mulus, dengan bulu mata yang panjang, dan tulang pipi yang tinggi. Jemarinya yang lentik membelai rambut sesosok gadis lain, yang tampaknya jauh lebih muda. Berbaring telentang di atas pangkuannya, memandang kosong pada langit-langit berupa kegelapan pekat dengan kedua matanya yang merah sewarna darah.
“Hari ini aku tak mendengar apa-apa selain bisikan kegelapan.
Api dingin membekukan. Api dingin menghanguskan.
Pedang bermata dua yang berjuluk kebencian.
Jiwa yang menggigil. Terdiam lama. Darah membeku.”
Begitu disenandungkan oleh sang gadis.
“Senandung yang tragis sekali,” bisik si wanita berkomentar sendu. “Adakah sesuatu membuatmu sedih, Fraginku sayang?”
“Aku bosan,” jawab gadis bernama Fragin itu. “Dan kesepian juga.”
“Kesepian?” tanya si wanita lagi seakan jawaban itu mengganggunya. “Tidakkah aku cukup untukmu?”
Sepasang alis mata Fragin bergerak turun membentuk sebuah ekspresi yang lebih suram ketimbang sebelumnya. “Tapi kau sudah lama tak turun kesini menemuiku,” katanya menuduh.
Sejenak wanita itu melempar kedua alisnya ke atas, namun kemudian dia tersenyum tipis.
“Ada banyak hal yang harus kuurus akhir-akhir ini,” ujarnya memberi pengertian. “Karena sekarang karena kita berdua sudah di sini, bagaimana kalau aku menceritakanmu sebuah dongeng? Agar kau tidak bosan lagi?”
“Kedengarannya menyenangkan,” komentar Fragin datar seakan dia tak bersungguh-sungguh.
“Tahukah kau, dahulu kala untuk waktu yang sangat-sangat lama, manusia hidup berdampingan dengan para Spirits di atas tanah Surga?” tanya sang wanita seraya menerawang. “Menjalani tahun-tahun penuh kebahagiaan, ketika umat manusia tidak mengenal kekurangan maupun kesedihan. Yang ada hanyalah suka cita dan kedamaian…”
Fragin mendelikkan bola matanya yang merah, menatapnya seakan curiga.
“Tapi semua itu berubah ketika kegelapan mulai merajai hati manusia. Kemakmuran berlimpah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Tanah Surga justru menjerumuskan manusia ke dalam pertentangan. Dendam. Ketidakpuasan. Iri hati. Kebencian. Semua itu merasuki umat manusia hingga perlahan jiwa mereka menjadi kotor. Tanpa bisa dielakkan lagi, perang pun meletus…
“Sang Kehendak Spirits mengawasi segala yang terjadi bersama dengan para Spirits lainnya. Dalam kemurkaannya, Sang Kehendak Spirits menggariskan kehancuran sebagai hukuman atas keserakahan seluruh umat manusia. Bencana mulai datang di Tanah Surga atas kesalahan seluruh umat manusia. Sesaat, bagi manusia seakan hanya ada kegelapan menanti di masa depan. Pada saat itulah Maiden Magnadia tampil sebagai harapan terakhir yang dimiliki umat manusia. Ia membuat kesepakatan dengan Sang Kehendak Spirits untuk mengorbankan dirinya sebagai ganti keselamatan jiwa seluruh umat manusia.”
“Magnadia…” celetuk Fragin menyela, mengangkat kedua tangannya untuk menangkap cahaya-cahaya yang beterbangan menuju kegelapan di atas. “Inilah Magnadia, benar begitu?”
“Ya,” senyum si wanita. “Tempat inilah yang disebut Magnadia. Para Spirits memandang dan menghargai pengorbanannya. Mereka mengikatkan jiwa-jiwa manusia yang telah terbuang kepada Magnadia, yang atas pengorbanannya menjelma menjadi Pohon Kehidupan. Inilah janji Sang Kehendak Spirits akan sebuah bentuk penebusan, yang bilamana dijalankan dengan sungguh-sungguh, umat manusia akan diberi kesempatan untuk kembali ke Tanah Surga… suatu hari nanti.”
Fragin duduk tegak tiba-tiba sekali. Wajahnya yang dibingkai rambut kecoklatan panjang tampak gelisah.
“Jika aku tak salah ingat,” ujarnya, “ini bukan kali pertama kau menceritakan ini padaku.”
Seolah reaksi ini tidak mengejutkan, tak ada perubahan dalam air muka sang pencerita.
“Sang Kehendak Spirits…” kata Fragin lagi lambat-lambat. “Dialah alasan mengapa aku terkurung di sini hampir seumur hidupku, kan…?! Benarkahkah ini yang hendak kau sampaikan padaku? Bahwa Magnadia adalah…?” Dia menambahkan kepada si wanita. Kedua matanya menyipit benci.
“Takdirlah yang harus disalahkan, sayangku.” Wanita itu membelai sebelah pipinya dengan punggung tangannya, prihatin. “Kaulah sang terpilih.”
Sebuah ekspresi nanar tergurat di wajah sang gadis bermata merah. “Aku benci…” bisiknya pelan.
“Takdir adalah hukum. Kekuatannya tak bisa ditentang. Kita semua tak lebih dari pion yang digerakkan olehnya,” kata si wanita menghela napas. “Tapi percayalah padaku, segalanya akan berubah.”
Fragin mendongak menatapnya tajam. “Berubah? Benarkah...?” tanyanya meragukan.
“Hari dimana nasib manusia akan berubah sekali untuk selamanya telah digariskan oleh para Spirits,” kata si wanita dengan senyuman yang entah bagaimana membuatnya tampak tak manusiawi. “Ketika tiba saatnya nanti, akulah yang akan membebaskanmu dari cengkeraman takdir, Fragin sayangku...”
***
Si wanita dengan figur seputih salju melangkah menyusuri koridor-koridor temaram yang menghadap balkon. Ujung jubahnya membelai lembut permukaan lantai kaca. Di balik semak-semak terlihat hari masih gelap, kendatipun sudah lepas tengah malam. Sebuah sosok terlihat bersandar pada dinding, melipat tangannya dari balik bayang-bayang kegelapan. Melihatnya, sang wanita menghentikan langkah.
“Cepat sekali kau datang,” tukasnya, tampak puas.
Berjalan keluar dari bayang-bayang, adalah seorang pemuda berambut gelap serta berpenampilan serba hitam yang nyaris tak berekspresi. Sebilah anting panjang berwarna biru tergantung di telinga kirinya, tampak berkilat-kilat mengikuti gerak tubuhnya dalam kegelapan. Tatapannya disipitkan memandang si wanita. Dengan pandangannya yang mematikan juga sinar matanya yang suram, orang biasa pastinya sudah lari ketakutan. Tapi wanita ini hanya diam di tempatnya sambil mendengus geli.
“Berhenti tertawa,” sergahnya kasar. “Kau membuatku mual. Tentunya kau tidak memanggilku kemari hanya untuk memamerkan betapa buruknya selera humormu?”
“Oh ayolah. Jangan terlalu keras pada ibumu ini...” kata si wanita dengan nada memelas.
“Kau bukan ibuku,” sela si pemuda tak berbelas kasihan.
Perkataan ini menyurutkan senyum di wajah sang wanita. Sesaat wajahnya yang pucat membayang menakutkan di atas temaram cahaya lilin yang dipegangnya.
“Aku mengerti. Kau sedang tidak ingin bermanis-manis denganku, Miharu...?” tanyanya dingin.
“Kapan aku pernah?” Pemuda yang dipanggil Miharu itu balik bertanya jijik. “Langsung saja. Kau ingin aku melakukan sesuatu berkaitan dengan segel Ilheus yang baru dilepas itu?”
“Tepat sekali,” sahut si wanita membenarkan. Tak ada lagi sisa keramahan di wajahnya. “Baguslah kalau kau sudah mendengarnya... Itu mempermudah pembicaraan kita. Seperti yang kaudengar, kristal Ilheus telah dibebaskan dari segelnya. Tak diragukan lagi ia akan mencari tahu mengenai… perannya. Dan tugasmulah untuk membawakan hasil pencariannya kepadaku, seperti apapun bentuknya.”
“Hasil...?” Miharu mengernyit seakan ada ombak besar menyapu permukaan wajahnya yang biasanya tenang.
Kedua sudut bibir si wanita tertarik membentuk sebuah senyuman misterius. “Kau akan tahu begitu tiba saatnya,” jelasnya. “Cukup ikuti saja perkembangannya.”
Seolah kehabisan kata-kata, Miharu terdiam, mulai memandangi wanita di hadapannya dengan mimik bingung, kesal, terganggu, kemudian seolah dia berkesimpulan bahwa wanita ini gila.
“Jadi bagaimana?” desak si wanita lagi. “Kau bersedia melakukannya?”
“Kau merencanakan sesuatu,” kata Miharu kemudian, yang merupakan pernyataan, bukan pertanyaan. Namun si wanita tidak menyangkalnya.
“Apakah ini berarti kau menolak melakukannya, anakku?” tanyanya, mengamat-amati ekspresi pemuda itu dengan raut wajah menantang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Seraya mendengus keras si pemuda berbalik kembali ke balik kegelapan. Namun sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, dia berpaling untuk kedua kalinya, menghadapi sang ibu dengan mencela. “Tentu saja tidak,” senyumnya sinis. “Aku tak pernah punya pilihan kan?”
Lalu bersamaan dengan bunyi gemerisik semak-semak yang terdengar samar-samar menjauh, sosok si pemuda sudah tak lagi terlihat.
***
“Kardinal Elssworth!”
Pintu menjeblak terbuka, mendadak memecahkan kesunyian mistis yang tadinya melingkupi sebuah ruangan lebar berlangit-langit tinggi. Ruangan itu polos, nyariss tanpa suatu ornamen pun menutupi permukaan lantainya yang berlapis karpet. Satu-satunya benda yang tampak menghuninya adalah sebuah patung berukuran raksasa, melukiskan sesosok manusia tengah merentangkan tangan dengan kedua mata terpejam.
Si pemecah kesunyian, adalah seorang laki-laki berusia akhir dua puluhan. Sosoknya tinggi, tegap, dan bercambang dengan gurat wajah—yang biasanya—bersahabat. Namun kali ini raut wajahnya seperti terganggu oleh sesuatu, dan sesuatu itu kiranya adalah penyebab kedatangannya yang terburu-buru ke tempat ini.
Adalah sebuah sosok lain berdiri memunggunginya jauh di seberang ruangan, mendongak memandangi si patung. Rambutnya yang ungu kehitaman panjang hingga sebatas pinggang, berdesir luwes seiring gerak tubuhnya yang sebetulnya terbatas. Dia mengenakan jubah yang terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang kurus, hampir ringkih. Sejenak, si laki-laki pengganggu masih bisa mendengar komat-kamit bisikkannya yang seolah tak tersentuh oleh kedatangannya. Tapi kemudian, sosok itu menoleh.
“Kenapa begitu ribut, Hiram?” tanyanya dengan gema memantul-mantul di sepanjang dinding ruangan yang nyariss kosong melompong. “Kau berisik seperti biasa. Tidak tahukan kau ini sudah lewat tengah malam? Atau… jangan bilang padaku kau lebih berisik menjelang malam daripada siang-siang?”
“Persetan dengan itu,” gerutu Hiram, melangkah mendekat dengan langkah-langkah keras tak sopan, meski lawan bicaranya ini bisa dibilang atasannya. “Dan jangan berani-berani bertanya ‘kenapa’ seolah-olah masalahnya ada di tempat lain dan aku sedang membawanya ke depan hidungmu! Kau dan apa yang sedang kaulakukan itulah mengapa aku mau repot-repot menyambang kesini!”
“Beberapa ralat, Hiram. Satu, aku tidak ‘sedang’ melakukannya, aku sudah selesai. Dua, ini sama sekali bukan masalah, karena aku mendapat perintah langsung dari Atas. Tiga, tidak ada yang menyuruhmu repot-repot menyambang kesini—ini bahkan tidak ada hubungannya denganmu.”
“Ap-apa?! Kau sudah…? Tunggu—kau bilang ini tidak ada hubungannya denganku?! Enak saja! Kalian orang-orang Atas dengan seenaknya melakukan ini dan itu sambil enak-enakan bersembunyi di balik meja, lalu siapa yang akan mengurus semuanya kalau ‘hal-hal tidak berjalan sebagaimana mestinya’?? Aku! Bisa-bisanya kau bilang—”
“Baiklah… Baiklah… Kuralat lagi. Maksudku ini tidak ada hubungannya dengan pendapat-mu,” potong sang Kardinal tanpa sedikitpun maksud meringankan kekesalan lawan bicaranya. “Pihak Atas sudah mempertimbangkannya matang-matang, dan tidak menyisakan apapun yang bisa dilakukan untuk mengubah keputusannya.”
Hiram mendesah panjang, masih sebal. Tapi ada lebih banyak hal yang lebih berarti untuk dikonfrontasi daripada beradu argumen dengan makhluk satu ini.
“Aku khawatir,” tukasnya spontan, meneliti si patung yang berdiri menjulang di hadapan keduanya. “Melepas segel Ilheus… Aku tak menyangka pihak Atas akan menetapkan saat ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukannya.”
Sang Kardinal mendengus. “Aku pun sebenarnya tidak setuju,” komentarnya dengan nada ketidaksukaan yang tak ditutup-tutupi. “Meski sebenarnya cepat atau lambat pola seperti ini pasti terjadi sebagaimana terpeta di dalam Eimnor. Tetap saja… aku tak bisa mencegah diriku sendiri berpikir bahwa ada terlalu banyak resiko yang akan bermunculan. Sayang sekali aku tak punya kuasa untuk mencegahnya.”
Hiram meliriknya. Dia sudah mengenal Kardinal Elssworth jauh sebelum keduanya berada dalam posisi seperti sekarang. Dan dari caranya berbicara, Hiram yakin betul bahwa selain sama-sama khawatir, dia juga mendapat firasat sangat buruk. Ini bukan pertanda baik.
“Kau… sedang memikirkan sesuatu yang lain, Kardinal?”
Kardinal balik meliriknya. “Aku hanya menduga ada pihak tertentu yang memanipulasi Atas. Pihak ini mungkin sekali memiliki rencana terselubung berkaitan dengan resiko-resiko yang akan timbul, apabila firasat burukku benar-benar jadi kenyataan.”
“Maksudmu… konspirasi? Oh—!”
Hiram buru-buru menutup mulut begitu mendapatkan isyarat diam dari sang Kardinal. “Aku sudah memberitahumu,” katanya. “Berhati-hatilah agar tidak berisik soal ini.”
Setelah menelan ludah dengan susah payah, Hiram berdeham melanjutkan. “Lalu… apa yang harus kita lakukan sekarang setelah semuanya jadi seperti ini, bisa dibilang kita...errr, memasuki babak baru? Apa yang akan kau lakukan?”
“Situasi masih belum bisa diprediksi,” jawab Kardinal Ellsworth sementara dahinya yang mulus berkerut seperti mencoba memikirkan yang tak bisa dijangkau. “Kusarankan kita bertindak ekstra hati-hati mulai dari sekarang. Peringatkan anak-anak buahmu, Hiram. Awasi baik-baik keadaan di luar, sementara aku mencoba mengendalikan hal-hal yang ada di dalam.”
“Seperti biasa.” Hiram menyeringai. “Meski tidak akan semudah melakukannya dulu. Menyebalkan mengakuinya, tapi setelah ini tidak banyak lagi yang bisa kita lakukan selain bersiap untuk yang terburuk dan berdoa untuk yang terbaik.”
Kali ini giliran sang Kardinal menghela napas panjang. “Benar sekali,” tukasnya muram. Dia mendongak sekali lagi memandang wajah si patung yang memejam damai, mengingat-ingat sepotong larik yang selalu diandalkannya pada saat-saat sulit seperti sekarang.
“Kita hanya bisa berdoa kepada Spirits… Semoga Ilheus memberikan jalan yang terbaik bagi kita...”
***
Pagi sudah uzur, tapi hari masih baru. Cangkang kelabu malam telah bergeser jauh ke ufuk barat, sedang matahari masih setengah mengantuk duduk di peraduannya. Kabut-kabut tipis menggantung di udara kota, ogah-ogahan meninggalkan dingin malam yang tersisa sendirian. Sementara di kediaman besar Truvelanth aktivitas yang paling dominan masih melibatkan banyak dengkuran ketika Mathiu berjalan keluar dari ruangan pribadinya, menyusuri koridor-koridor dengan menyampirkan dua bilah pedangnya di pundak, salah satunya tak lebih dari pedang kayu sederhana.
“Selamat pagi, Tuan!” salam seorang gadis berseragam pelayan ketika dia tiba di pekarangan, agak kelewat ramah.
Mathiu mengangkat alis melihatnya, melirik ember-ember besar berisi air yang ditentengnya dan sumur kecil di hadapannya dengan penuh minat. Gadis pelayan itu tidak terlihat lebih tua dari lima belas tahun dan bertubuh ringkih, tapi tak diragukan lagi cukup kapabel menangani pekerjaan berat. “Selamat pagi juga… Ardis.” Dia nyengir, butuh beberapa waktu untuk mengingat nama si pelayan.
“Bangun pagi untuk berlatih, Tuan?” tanyanya yang dijawab Mathiu dengan anggukan. “Benarkah apa yang kudengar, Tuan Besar akan pulang hari ini?”
“Sepertinya begitu.”
“Nyonya pastilah senang sekali,” kata Ardis tampak bersyukur. “Tapi sepertinya Tuan Muda tidak.”
Menyadari apa maksudnya, Mathiu menahan diri untuk tidak mendengus tertawa. “Ya, Tuan juga tidak terlalu senang melihatnya semenjak ribut-ribut besar tempo hari. Setiap kali Tuan mengajaknya bicara dari hati ke hati, ujung-ujungnya selalu bertengkar—ups, aku terlalu banyak bicara. Bisakah aku minta tolong supaya kau melupakannya saja...?” tambahnya setengah hati, menggaruk-garuk kepala.
Ardis membelalak. “Anda berharap aku tidak mengatakannya pada siapa-siapa?? Tapi ya—tentu jika Anda menginginkannya demikan... Anda bisa percaya padaku,” katanya dengan senyum dikulum.
“Sebenarnya sih tidak,” kata Mathiu kalem, yang segera dibalas dengan cengiran lebar dari lawan bicaranya. Tentu saja. Sudah bukan rahasia lagi betapa tak ada yang lebih disenangi para pelayan Guild pembasmi Forlon terkemuka, Truvelanth, selain menggosipkan keluarga majikannya di belakang atau kepada tetangga yang kurang kerjaan.
Ardis berdeham pelan. “Sebetulnya, kami hanya tidak mengerti kenapa Tuan Besar begitu risau soal ini,” katanya. “Tuan Muda sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri, sedangkan dia sudah punya orang seperti Anda dalam kantongnya...”
Mendengar ini, Mathiu mengerutkan kening. Tidak menyukai apa yang didengarnya. “Ardis...” dia memulai, tapi si gadis pelayan buru-buru memperbaiki ucapannya sendiri.
“Maafkan aku jika kedengarannya lancang, Tuan Mathiu,” ringis Ardis. “Itu hanya apa yang kami, para pelayan, pikirkan. Kupikir ada baiknya Anda tahu; Kami sepenuhnya mendukung Anda seandainya Tuan Muda tidak menginginkan posisinya. Penyelesaian seperti itu tidak memberatkan siapa-siapa, kan...?”
“Aku keberatan,” tukas Mathiu tegas. “Crown temanku. Aku menolak mengambil apa yang menjadi haknya.”
“Aku tidak keberatan,” sela sebuah suara yang menyebabkan Mathiu langsung merinding seperti masuk angin. Sedangkan Ardis yang lebih malang memekik kaget. Wajahnya memutih seperti kertas.
Sosok yang muncul dari balik pintu geser adalah seorang remaja laki-laki dengan rambut mencuat-cuat, membawa ransel khusus bepergian dan mengapit sebuah buku besar di dadanya. Jangkung, kurus, dan berwajah pucat rupawan dengan sedikit kesan sarkastis; Mereka berhadapan dengan—tak lain tak bukan—satu-satunya putra pemilik Guild Truvelanth; Crown Truvelanth. Ekspresinya hampir tak bisa ditebak.
“T-Tuan Crown...” gagap Ardis. “Aku tidak bermaksud...”
“Lupakan saja,” tepis Crown tanpa memandangnya. “Toh ucapanmu memang masuk akal. Bagaimana menurutmu, Mathiu?”
Wajah Mathiu mengeras ketika dia menatap tajam pemuda itu. Peka terhadap suasana di antara kedua majikannya, Ardis buru-buru minta diri. Hampir berlari, dia langsung melesat menghilang di balik pintu dengan meninggalkan genangan air besar-besar tercecer dari embernya. Tapi baik Mathiu maupun Crown rupanya tidak memperhatikan ini.
“Kau tidak serius, Crown,” bantah Mathiu was-was.
“Tebak saja,” kata yang bersangkutan sambil menguap.
“Kau mau kemana?” tanya Mathiu, mendadak berubah galak. Memandang bergantian Crown dan ransel bepergiannya. Dia dan Crown sudah berteman sangat lama, cukup lama hingga melalui tahap dimana dia bebas berbicara dengannya menggunakan nada bagaimanapun yang dia inginkan.
“Kembali ke akademi,” jawab Crown agak bersemangat. “Liburan musim panasku sudah selesai.”
Tetapi Mathiu memicingkan matanya. “Crown, ayahmu melarangmu kembali ke tempat itu...”
“...ya, untuk alasan yang teramat sangat konyol...”
“Teramat sangat masuk akal,” bela Mathiu. “Ayahmu melarangmu belajar sihir karena dalam periode sekarang ini, dimana hubungan antara biara dan pemerintah kerajaan tidak mungkin lebih buruk lagi, belajar sihir sama saja dengan menunjukkan keberpihakan pada biara...”
“Itu kan menurutnya. Dan kita tahu betapa sempitnya pandangan itu.”
“Kau tidak tahu keadaan di luar sana. Tinggal tunggu waktu sampai orang-orang kerajaan terang-terangan menangkapi para pengikut biara satu demi satu...”
“Separuh dari siswa akademi keturunan bangsawan dan mereka mempelajari sihir, apakah itu menjadikan mereka pendukung biara Vihelvanja?” sanggah Crown membandel.
“Pertanyaan bagus,” kata Mathiu sabar, tersenyum. “Kita sudah kembali pada pokok permasalahan. Kau satu-satunya penerus Guild ayahmu, Crown. Selama ini kita sudah kesulitan mempertahankan posisi netral, tidak memihak baik Vihelvanja maupun pemerintah. Sungguh tidak lucu kalau kau, anak ayahmu sendiri, belajar sihir sementara kami mati-matian mempertahankan ketidakmemihakan ini…”
Crown terdiam mengawasi Mathiu yang lebih tua beberapa tahun darinya sejenak sebelum mengeluarkan argumen lainnya, kemudian dia menghela napas. “Itulah mengapa kukatakan aku tidak lagi sepaham dengan kalian,” katanya membuang pandang.
“Aku tak yakin aku mengerti maksudmu, Tuan Muda.” Mathiu mengernyit bingung.
“Masalahnya adalah,” ujar Crown berat, “Seperti yang kaukatakan, perang akan meletus sebentar lagi. Selama ini kita bergeming terhadap konflik yang terjadi antar biara dan pemerintah. Tapi ketika perang sungguh-sungguh terjadi, apa Truvelanth akan diam saja menyaksikan orang-orang saling membunuh...?” dia bertanya, menatap lurus kedua mata lawan bicaranya.
“Tugas utama kita adalah…” Mathiu memulai, tapi Crown menyelanya.
“…melindungi rakyat dari Forlorn? Menurutmu apakah membiarkan negeri ini terpecah oleh perang perebutan kekuasaan yang tidak ada habisnya akan mengakhiri epidemi Forlorn?” desaknya. “Kita tak bisa terus bersikap netral, Mathiu. Itu egois.”
Mathiu tertegun. Bertahun-tahun mengenal Crown, dia sudah paham betul sifat keras kepalanya serta pola pikirnya yang idealis. Tak terhitung kali dia mempercayakan pemikirannya yang acapkali tak sejalan dengan aturan keras ayahnya kepada Mathiu, tapi dia tak pernah benar-benar menyangka akan datang harinya dimana Crown sungguh-sungguh serius bersikeras menentang kebijakan Guild habis-habisan. Meski bisa saja menyanggahnya, dia toh harus mengakui ada kebenaran dalam kata-kata itu yang tak mungkin diabaikan begitu saja.
“Aku mengenalmu Crown, dan aku yakin tak ada gunanya mencoba membelokkan pikiranmu. Kurasa kau sudah muak dengan tempat ini…?” tambahnya, meringis getir.
Crown tidak langsung menjawab. Sementara mengamatinya berpikir, mau tidak mau Mathiu membatin betapa jauh lebih baik jika Crown masih anak-anak yang bisa dinasihati dengan gampangnya.
“Tak pernah sekalipun aku punya pemikiran untuk membenci tempat ini—membenci ayahku,” kata Crown pahit. “Tapi jika dia tidak bisa menerima pilihanku mengenai studiku, maka dia juga takkan bisa menerima pendapatku mengenai semua ini. Aku sudah memikirkannya lama sekali, dan kusimpulkan bahwa lebih baik bagiku untuk pergi.”
Mathiu terdiam sebentar, menghela napasnya ke atas angkasa. Hari yang cerah. Entah apa yang salah sehingga hal seperti ini harus terjadi sekarang.
“…tidak mau memikirkannya sekali lagi?” dia melirik pemuda itu, nyengir penuh harap.
Akhirnya Crown tersenyum sedikit, menggeleng.
“Dasar kau menyebalkan,” gerutu Mathiu meski dia lebih terlihat pasrah daripada marah. Tak ayal dia mendorong belakang kepala Crown dengan sebelah tangannya hingga pemuda itu nyaris kehilangan keseimbangan. “Kau dan kepala batumu itu… Akan lebih baik jika aku bisa mengatakan sesuatu untuk memecahkannya…”
“Jangan coba-coba,” kata Crown geli.
“Jika ayahmu tahu ini, dia mungkin akan memutuskan untuk berhenti mengakuimu sebagai anaknya,” kata Mathiu lagi, lebih serius. “Apa pendapatmu soal itu?”
Crown mengangkat bahu, lalu melirik temannya dengan tatapan penuh arti. “Yah… setidaknya dia masih bisa mengandalkanmu,” tukasnya enteng.
Tersenyum samar dengan ekspresi agak kosong, Mathiu memaksakan dirinya tersenyum. Sudah sepuluh tahun berlalu semenjak Mikhael Truvelanth menyelamatkannya dari pembantaian sekelompok Forlorn di desa asalnya, dimana dia kehilangan kedua orangtuanya dan adiknya sekaligus. Pengabdiannya selama ini hanya ungkapan terima kasih serta hormatnya terhadap sang pemilik Guild. Tak pernah sekalipun terpikir olehnya bahwa suatu hari nanti dia akan berada dalam posisi itu.
Dengan absennya pembicaraan, Crown membenarkan letak ransel di pundaknya. Kemudian dia menoleh, menatap Mathiu untuk terakhir kalinya sebelum mengambil langkah terakhir menuju dunia luar di balik pintu depan, menunggu kalau-kalau pria itu masih ingin mengatakan sesuatu.
“Apakah aku akan bertemu denganmu lagi?” tanya pria itu, mendongak dengan kekecewaan yang tak lagi dapat ditutup-tutupi.
“Kurasa tidak,” jawab Crown jujur, tersenyum menyesal. “Tapi aku berharap begitu, jadi siapa tahu…”
***
Next: Chapter 1
Rabu, 21 Juli 2010
Grand Le Gran - Prologue: A Suspended Night
Diposkan oleh
C.L.O.V.E.R.W.I.T.C.H.
di
21:54
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Label:
Cloverwitch,
fantasi,
fragmen,
grand le gran



2 komentar:
ternyata nama si salib biru itu miharu.. XD
salut, chie. aku bisa banyak belajar pembangunan dialog dari prolog nan panjang ini. ^^
ayo, lanjut!
Jadi ini prolog yg udah direvisi ^^
Keren, keren :D
Nama si wanita misterius masih tetep dirahasiakan. Firasat saya kayaknya dia bakal punya peranan besar dalam cerita, secara anaknya hebat2 (Fragin & Salib Biru) :)
Btw, blogmu saya link yaa. Kapan2 biar gampang mampirnya XD
Poskan Komentar